Gaung Marawa Menjelajah Dua Festival, dari Danau Toba ke Panggung SIPA

Jum'at, 11/09/2026 20:48 WIB

Padang, sumbarsatu.com — Gaung Marawa Indonesia membawa musik tradisi Minangkabau ke dua panggung festival seni berskala internasional pada September 2026. Ensemble Electronic World Music asal Sumatera Barat itu tampil dalam Lake Toba Traditional Music Festival 6.0 (LTTMF 6.0) di Sumatera Utara dan Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 di Surakarta, Jawa Tengah.

Dua festival tersebut mempertemukan Gaung Marawa dengan ruang artistik yang berbeda. LTTMF 6.0 memberikan konteks perjumpaan dengan musik tradisi dan eksplorasi bunyi berbasis akar budaya, sedangkan SIPA 2026 membuka ruang yang lebih luas karena mempertemukan berbagai cabang seni pertunjukan dan delegasi dari dalam maupun luar negeri.

Keikutsertaan dalam dua festival itu sekaligus memperlihatkan perjalanan karya musik Minangkabau dari satu ruang pertukaran budaya ke ruang seni pertunjukan yang lebih beragam.

Penampilan di Lake Toba Traditional Music Festival 6.0 berlangsung pada 5–6 September 2026 di The Caldera Nomadic Escape, Sumatera Utara. Festival yang mengangkat tema “Pulse of Sound” atau “Nadi Bunyi” tersebut menempatkan musik tradisi, alam, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan ekosistem budaya sebagai bagian dari perbincangan artistik.

Bagi Gaung Marawa, panggung Danau Toba menjadi ruang untuk mempertemukan idiom musikal Minangkabau dengan eksplorasi bunyi kontemporer. Kelompok yang dipimpin komposer dan music director Indra Ariffin itu membawa karakter musik yang memadukan instrumen tradisional, vokal, pola ritmis Minangkabau, serta elemen elektronik.

Ketua Rumah Karya Indonesia, Ojax Manalu, selaku penyelenggara LTTMF, menilai kehadiran Gaung Marawa menjadi bagian dari semangat festival dalam mempertemukan ekspresi musik tradisi dengan perkembangan musikal masa kini.

"Kekuatan Gaung Marawa terletak pada energi pertunjukannya yang kuat dan komunikatif, tetapi tetap mempertahankan “nyawa tradisi” sebagai sumber identitas musikal," kata Ojax Manalu.

Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi LTTMF bagi Gaung Marawa. Musik tradisi tidak ditempatkan sebagai bentuk yang harus dipertahankan secara konvensional, tetapi dapat dikembangkan melalui aransemen, teknologi elektronik, dan eksplorasi bunyi.

Unsur elektronik digunakan sebagai medium untuk memperluas kemungkinan ekspresi tanpa menggantikan akar tradisinya.

Dari Danau Toba, perjalanan Gaung Marawa berlanjut ke Solo International Performing Arts (SIPA) 2026. Festival ini berlangsung pada 10–12 September 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah.

Berbeda dari LTTMF yang berfokus pada musik tradisi, SIPA menghadirkan perjumpaan lintas disiplin, mulai dari tari, musik, teater hingga multimedia performance.

SIPA 2026 mengusung tema “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”. Tema tersebut menempatkan seni sebagai ruang yang menghubungkan manusia melampaui batas geografis, budaya, dan identitas. Dalam konteks itu, kehadiran Gaung Marawa menjadi salah satu representasi eksplorasi tradisi Indonesia dalam bahasa musik kontemporer.

Gaung Marawa tercatat sebagai salah satu delegasi dalam negeri bersama kelompok seni dari berbagai daerah Indonesia. Kehadiran mereka berlangsung dalam ekosistem festival yang juga mempertemukan seniman dari sejumlah negara.

Ruang tersebut membuat musik Minangkabau tidak hanya hadir sebagai identitas daerah, tetapi berhadapan langsung dengan beragam bentuk ekspresi seni dari latar budaya yang berbeda.

Dipimpin oleh komposer dan music director Indra Arifin, Gaung Marawa mengembangkan karakter musikal yang berangkat dari tradisi Melayu-Minangkabau dan dipadukan dengan struktur musik elektronik kontemporer.

"Identitas artistik yang mereka bangun menempatkan tradisi sebagai sumber kreativitas yang hidup, bukan sekadar warisan masa lalu yang dibekukan," terang Indra Arifin.

Salah satu figur yang menandai karakter SIPA 2026 adalah musisi dan komposer Gondrong Gunarto yang diperkenalkan sebagai Ambassador SIPA 2026. Eksplorasinya terhadap musik kontemporer berbasis tradisi, khususnya gamelan, menjadi salah satu gambaran bagaimana tradisi Indonesia terus dikembangkan melalui pendekatan artistik baru.

Dalam konteks tersebut, Gaung Marawa membawa perspektif lain melalui Electronic World Music yang berangkat dari tradisi Minangkabau. Jika eksplorasi gamelan menjadi salah satu warna dari Jawa, Gaung Marawa menghadirkan idiom musikal Minangkabau dalam pertemuan dengan teknologi elektronik dan struktur musik kontemporer.

Untuk dua festival tersebut, Gaung Marawa menyiapkan tiga karya utama, yakni “Manogua Minangkabau”, “Pitunang Tanah Batikam”, dan “Bendang”. Ketiganya berangkat dari narasi, sejarah, serta pengetahuan budaya Minangkabau yang kemudian diolah ke dalam bentuk musikal kontemporer.

“Manogua Minangkabau” mengangkat seni tutur khas Pagaruyung sebagai pintu masuk untuk menghadirkan karakter verbal, musikal, dan historis Minangkabau. “Pitunang Tanah Batikam” berangkat dari narasi Batu Batikam sebagai salah satu situs penting dalam sejarah Minangkabau, sedangkan “Bendang” mengangkat dinamika pemikiran adat melalui perbedaan ideologi antara Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Ketiga karya itu tidak disajikan dalam bentuk musik tradisi yang sepenuhnya konvensional. Instrumen musikal tradisional, vokal, seni tutur, dan pola ritmis Minangkabau dipertemukan dengan electronic beat serta soundscape digital.

'Perpaduan tersebut membentuk karakter pertunjukan yang energik, eksperimental, dan kontemporer, tetapi tetap berpijak pada narasi budaya yang menjadi sumber penciptaannya.

Bagi Gaung Marawa, perjalanan dari LTTMF 6.0 menuju SIPA 2026 bukan semata perpindahan lokasi pertunjukan. Kedua festival menghadirkan konteks yang berbeda bagi karya mereka. Danau Toba menjadi ruang dialog dengan ekosistem musik tradisi, sedangkan Surakarta memperluas perjumpaan ke dalam lanskap seni pertunjukan lintas disiplin dan lintas negara.

Keikutsertaan di dua festival itu juga memperlihatkan konsistensi Gaung Marawa mengembangkan karya berbasis riset, dokumentasi, dan kolaborasi dengan komunitas lokal. Sejak berdiri pada 2018, kelompok ini mengembangkan tradisi Minangkabau sebagai sumber kreativitas yang dapat terus ditafsirkan melalui pendekatan musikal baru.

Dua panggung tersebut pada akhirnya memperlihatkan satu jalur artistik yang sama: tradisi Minangkabau dibawa keluar dari ruang lokal tanpa harus kehilangan akar budayanya. Melalui LTTMF 6.0 dan SIPA 2026, Gaung Marawa mempertemukan ritme, vokal, seni tutur, cerita, dan nilai Minangkabau dengan bahasa musik elektronik kontemporer.

Dari Danau Toba ke Surakarta, Gaung Marawa tidak hanya menjalani dua agenda festival. Mereka membawa satu tafsir bahwa tradisi dapat terus bergerak, berkembang, dan menemukan bentuk baru ketika berhadapan dengan zaman serta ruang pertunjukan yang berbeda.ssc/rel



BACA JUGA