MALTA, sumbarsatu.com — Pengusaha Malta Yorgen Fenech memang telah dibebaskan dari tuduhan terlibat dalam pembunuhan jurnalis investigatif Daphne Caruana Galizia. Namun, rekaman pemeriksaan polisi yang dirilis Times of Malta justru kembali menyoroti pengakuannya bahwa ia pernah menyetujui rencana pembunuhan tersebut sebelum kemudian mengaku berusaha menghentikannya.
Rekaman interogasi yang berlangsung pada 2019 itu dirilis beberapa hari setelah Fenech dibebaskan melalui putusan juri pada 2 September 2026. Sembilan anggota juri menyatakan Fenech tidak bersalah atas tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan dan konspirasi kriminal. Putusan tersebut diambil dengan perbandingan suara 8-1 setelah sekitar delapan jam pertimbangan.
Dalam rekaman tersebut, Fenech mengakui kepada penyidik bahwa ia pernah memberikan persetujuan kepada Melvin Theuma, perantara dalam rencana pembunuhan Caruana Galizia. Ia mengatakan Theuma menyampaikan bahwa bagian biaya yang harus ditanggungnya untuk pembunuhan itu mencapai 120.000 euro.
Fenech kemudian mengklaim bahwa tiga hari setelah menyetujui rencana tersebut, ia memberikan 50.000 euro kepada Theuma dengan maksud membatalkan rencana pembunuhan. Ia juga mengatakan masih memberikan uang kepada Theuma untuk menutupi biaya yang berkaitan dengan para pembunuh setelah pembunuhan terjadi.
Kepada penyidik, Fenech mengaku terus memberikan uang karena merasa takut. Ia juga mengatakan dirinya diperas oleh Theuma, seorang sopir taksi yang disebut berperan sebagai perantara dalam kasus tersebut.
Theuma kemudian memperoleh kekebalan dari penuntutan sebagai imbalan atas kesediaannya memberikan kesaksian kepada penyidik.
Meski mengakui pernah memberikan persetujuan awal, Fenech sepanjang pemeriksaan dan persidangan tetap menyangkal bahwa dirinya merupakan pihak yang memerintahkan pembunuhan.
Ia justru menyatakan dirinya hanya bertindak sebagai perantara atas perintah Keith Schembri, mantan kepala staf Perdana Menteri Malta Joseph Muscat.
Schembri belum didakwa dalam kasus pembunuhan tersebut dan membantah keterlibatan. Dalam persidangan, Fenech juga menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam pembunuhan Caruana Galizia. Sebelumnya, ia bahkan menuduh Schembri sebagai pihak yang berada di balik rencana pembunuhan tersebut.
Caruana Galizia tewas pada 16 Oktober 2017 dalam serangan bom mobil ketika meninggalkan rumahnya. Jurnalis berusia 53 tahun itu dikenal melalui laporan-laporan investigasinya mengenai dugaan korupsi dan hubungan antara kalangan politik dan bisnis di Malta.
Sebelum tewas, Caruana Galizia tengah menyelidiki dugaan penyimpangan yang berkaitan dengan konsorsium pembangkit listrik ElectroGas. Fenech pernah menjabat sebagai direktur konsorsium tersebut. Ia juga memiliki hubungan dengan 17 Black, perusahaan yang berbasis di Uni Emirat Arab yang menjadi salah satu objek pemberitaan investigatif Caruana Galizia.
Kasus pembunuhan tersebut kemudian menyeret sejumlah orang ke pengadilan. Dua bersaudara yang dinyatakan terlibat dalam pelaksanaan pemboman telah dijatuhi hukuman penjara panjang, sementara dua orang lainnya dinyatakan bersalah memasok bahan peledak yang digunakan dalam pembunuhan tersebut.
Namun, putusan bebas terhadap Fenech menimbulkan reaksi keras di Malta. Organisasi masyarakat sipil dan kelompok pembela kebebasan pers mempertanyakan bagaimana juri dapat menyatakan Fenech tidak bersalah di tengah bukti dan kesaksian yang muncul selama persidangan.
Kontroversi itu tidak hanya berlangsung di ruang publik. Perkembangan terbaru menunjukkan jaksa negara Malta tengah mempersiapkan upaya banding terhadap putusan tersebut dengan kemungkinan meminta persidangan ulang.
Keluarga Caruana Galizia juga mempertanyakan putusan tersebut. Dalam penyelidikan Dewan Eropa mengenai dampak pembunuhan dan persoalan hukum di Malta, putra Caruana Galizia, Matthew Caruana Galizia, menyebut putusan itu memunculkan ketidakpercayaan luas karena banyak orang meyakini Fenech memiliki keterlibatan dalam kasus tersebut.
Pembunuhan Caruana Galizia selama hampir sembilan tahun menjadi salah satu kasus yang paling mengguncang Malta sekaligus simbol perjuangan melawan impunitas terhadap kejahatan terhadap jurnalis. Pembebasan Fenech membuat pertanyaan mengenai siapa sebenarnya yang memerintahkan pembunuhan tersebut kembali mengemuka.
Di tengah kontroversi itu, rekaman interogasi 2019 menjadi bagian penting dari perdebatan. Fenech memang telah dibebaskan oleh juri, tetapi dalam pemeriksaan polisi ia sendiri pernah mengakui bahwa pada tahap awal dirinya memberikan persetujuan terhadap rencana pembunuhan tersebut.
Kini, yang menjadi pertanyaan bukan hanya mengapa Fenech dibebaskan, tetapi juga sejauh mana pengakuan dalam rekaman tersebut dapat menjelaskan jaringan orang-orang yang berada di balik pembunuhan Daphne Caruana Galizia.ssc/mn