Peserta Sekolah Transisi Energi Berkeadilan menyaksikan teater Bala Bhumi yang mengangkat krisis dan bencana ekologis menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang diselenggarakan oleh Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ), Rancak Publik, Agrarian Resource Center (ARC) Bandung, dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS).foto oji
Padang, sumbarsatu.com — Pembelajaran mengenai transisi energi berkeadilan tidak selalu berlangsung melalui diskusi di dalam ruangan, presentasi, atau pembacaan dokumen kebijakan. Bagi 20 peserta Sekolah Transisi Energi Berkeadilan, proses belajar diperluas ke panggung pertunjukan melalui pementasan teater kontemporer Bala Bhumi karya Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang, Rabu (2/9/2026). Pertunjukan digelar di lantai dasar gedung kebudayaan Sumatera Barat yang mangkrak di Jalan Diponegoro Padang.
Setelah pementasan dilaksanakan diskusi publik bertema Bencana Ekologis dan Keserakahan yang dipantik Khalid Saifullah, aktivis lingkungan, juga diikuti antusias peserta.
Isu Bala Bhumi yang mengangkat krisis dan bencana ekologis menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang diselenggarakan oleh Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ), Rancak Publik, Agrarian Resource Center (ARC) Bandung, dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Sekolah Transisi Energi Berkeadilan ini mempertemukan para peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam, mulai dari Padang, Bandung, Medan, Palembang, Jambi, Solok Selatan, Lombok Tengah, Painan, Jakarta, Tangerang, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sela-sela pementasan, para peserta berkesempatan berdiskusi dan berbagi pandangan langsung dengan sang sutradara, Afrizal Harun.
Keragaman latar belakang tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses pembelajaran. Pengalaman peserta yang berbeda-beda dalam melihat persoalan lingkungan, agraria, energi, pembangunan, dan kebijakan membuka ruang pertukaran pengetahuan yang lebih kaya.
Mentor Sekolah Transisi Energi Berkeadilan dari Rancak Publik, Dr. Rozidateno Putri Hanida, S.IP., M.PA., menyampaikan bahwa program ini memang dirancang untuk mempertemukan perspektif lintas daerah.
“Salah satu metodenya adalah peserta menyaksikan sekaligus merespons secara kritis pertunjukan seni Bala Bhumi. Penyelenggara juga menyiapkan kegiatan lanjutan yang menyasar sejumlah kabupaten dengan kasus-kasus terkait transisi energi. Hasil proses ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi tulisan, working paper, maupun bentuk produksi pengetahuan lainnya,” ujar Rozidateno.
Ia menjelaskan, sepanjang proses kelas, peserta tidak hanya diajak memahami transisi energi secara teknis sebagai peralihan dari energi fosil ke energi bersih rendah emisi. Lebih dari itu, transisi energi ditempatkan sebagai persoalan sosial, ekonomi, ekologis, politik, dan agraria.
Sebagai bagian dari pendalaman materi, peserta diajak keluar dari ruang kelas untuk menyaksikan pertunjukan Bala Bhumi yang menggambarkan eksploitasi sumber daya alam, kerusakan ekologis, dan dampak keserakahan manusia.
Sutradara Afrizal Harun menuturkan, teater Bala Bhumi bukan karya yang lahir dari kegelisahan sesaat. Gagasan karya ini telah dikembangkan sejak 2025 sebagai respons artistik terhadap ancaman kerusakan lingkungan.
Afrizal menilai kerusakan ekologis tidak bisa lagi dipandang sebatas masalah alam belaka. Dampaknya telah merangsek ke ruang hidup manusia, kesehatan lingkungan, ketahanan sumber daya, hingga ancaman bencana yang nyata.
“Bumi di ujung tanduk: tanah dikeruk habis-habisan, laut dirusak tak karuan, udara tercemar. Petaka itu nyata, tidak sekadar metafora semu. Ia sudah menusuk jantung di setiap bencana. Bala ini ulah manusia, maka manusia pula yang harus menanggung akibatnya,” tegas Afrizal.
Rozidateno menambahkan, pembelajaran transisi energi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis data dan dokumen kebijakan, tetapi juga pengalaman, perspektif masyarakat, serta kepekaan membaca dampak ekologis secara kritis.
“Di titik inilah seni pertunjukan menjadi sangat relevan,” tuturnya.
Kehadiran peserta dalam pertunjukan tersebut bukan sekadar agenda rekreatif. Panggung teater menjadi ruang edukasi untuk memperluas cara pandang peserta dalam membaca krisis lingkungan.
Di ruang kelas, persoalan energi kerap dibicarakan melalui angka, data konsumsi, kalkulasi investasi, emisi karbon, dan regulasi. Sementara di panggung pertunjukan, persoalan yang sama hadir melalui olah tubuh, bunyi yang menggugah, visual yang tajam, pencahayaan, serta metafora tentang bumi yang luka. Pertemuan kedua pendekatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang holistik.
Bagi peserta, pengalaman estetis ini menjadi pintu masuk untuk merefleksikan kembali persoalan di daerah masing-masing.
Peserta dari kawasan pertambangan, pengalaman estetis ini mendorong evaluasi atas perubahan bentang alam dan ruang hidup; sementara bagi yang berasal dari wilayah agraris, hal ini membuka pandangan atas keterkaitan antara energi, kedaulatan tanah, air, dan pangan; sedangkan bagi peserta dari wilayah perkotaan.
“Pertunjukan tersebut menjadi bahan refleksi mendalam atas pola konsumsi energi, masalah transportasi, limbah, hingga pencemaran,” terang Rozidateno.
Seni sebagai Ruang Pendidikan Publik
Pertemuan antara Sekolah Transisi Energi Berkeadilan dan pertunjukan Bala Bhumi membuktikan bahwa seni efektif menjadi medium pendidikan publik. Isu lingkungan yang kerap dikemas dalam bahasa teknis—seperti dekarbonisasi, bauran energi, just transition, hingga ekonomi hijau—menemukan pijakan realitasnya saat disandingkan dengan dampak sosial masyarakat.
Transisi energi pada akhirnya bukan sekadar urusan mengganti teknologi, melainkan proses perubahan sosial yang menyangkut hak kepemilikan, akses, mata pencaharian, dan keadilan distribusi manfaat. Transisi energi berkeadilan harus memastikan bahwa kelompok rentan tidak kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Pada akhirnya, pementasan Bala Bhumi menyisakan pertanyaan mendasar bagi para peserta: Ketika bumi terus dieksploitasi, siapa yang menciptakan bala dan siapa yang harus menanggung akibatnya?
Pertanyaan tersebut tidak berhenti di panggung pertunjukan, tetapi dibawa kembali oleh para peserta ke ruang kelas, komunitas, daerah asal, hingga ke ruang kebijakan tempat masa depan energi Indonesia ditentukan.ssc/mn