Pementasan Bala Bhumi, Panggung dan Tubuh Aktor yang Menyuarakan Krisis Ekologi

APRESIASI SENI

Kamis, 03/09/2026 10:35 WIB
Pementasan Bala Bhumi yang disutradarai Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih pada Rabu (2/9/2026) di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang.  Bala Bhumi mengangkat eksploitasi alam, kerusakan ekologis, dan keserakahan manusia. Ratusan penikmat seni dengan beragam latar belakang secara khidmat mengikuti 50 menit durasi pertunjukan. foto denny cidaik

Pementasan Bala Bhumi yang disutradarai Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih pada Rabu (2/9/2026) di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang. Bala Bhumi mengangkat eksploitasi alam, kerusakan ekologis, dan keserakahan manusia. Ratusan penikmat seni dengan beragam latar belakang secara khidmat mengikuti 50 menit durasi pertunjukan. foto denny cidaik

OLEH Irawan Winata-Pegiat Seni

PADA Rabu, 2 September 2026 malam, masyarakat diajak bertafakur dan mengkaji diri saat menyaksikan pertunjukan teater di gedung mangkrak Panggung Terbuka Lantai 1 Taman Budaya Sumatera Barat. Pertunjukan bertajuk Bala Bhumi disutradara Afrizal Harun bersama Komunitas Seni Hitam Putih, ini mengantarkan kegelisahan mendalam mengenai kerusakan alam sejak babak pembuka.

Sejak awal, penonton disuguhi adegan tubuh kera yang dihadirkan sebagai simbol kerakusan hewan sekaligus metafora manusia. Dengan latar belakang video ilustrasi air, satwa, dan keindahan alam yang berangsur berubah menjadi kegersangan serta kehancuran, pertunjukan ini merangsang makna atas kehancuran bumi. Kera yang memiliki dorongan impulsif kuat untuk mengambil segala hal di sekitarnya diolah secara cerdas sebagai simbol keserakahan manusia. 

Mereka yang terus menimbun harta dan menuruti keinginan tanpa tahu kapan harus berhenti. Gerak tubuh para aktor yang bertransformasi dari bentuk kera ke wujud hewan lain secara dinamis menyimbolkan kegelisahan makhluk hidup saat ruang hidup mereka diarsiteki dan dirampas oleh keserakahan manusia.

Bala Bhumi ini lahir dari pengamatan kritis Afrizal Harun terhadap kerusakan lingkungan, pencemaran air, serta krisis udara yang makin nyata di sekeliling kita. Sebagai sebuah bentuk kepedulian seniman, karya ini dihadirkan untuk menampar kesadaran ekologis penonton.

Pertunjukan ini tidak lagi menempatkan teks dialog sebagai panglima utama. Sebaliknya, tubuh, ruang, artistik, dan bunyi berkelindan sebagai elemen yang setara. Sutradara dengan jeli merespons dan menyulap arena panggung yang mangkrak menjadi panggung pertunjukan terbuka.

Pilihan ruang ini menjadi sapaan estetik yang sangat kuat. Gedung mangkrak bukan sekadar latar fisik yang belum selesai dibangun, melainkan monumen visual yang mewakili kerusakan dan kegagalan pikiran manusia itu sendiri. Di tengah reruntuhan estetika arsitektural tersebut, emosi penonton diikat agar larut dalam krisis ekologis yang diangkat. Meskipun begitu, dialog tidak sepenuhnya dikesampingkan. Aktor tetap meramu beberapa tuturan verbal sebagai rangsangan intelektual bagi penonton dalam mencerna gagasan pertunjukan.

Salah satu pencapaian estetik yang menonjol adalah pemanfaatan multimedia/intermedialitas melalui proyektor infocus. Sebagaimana dijelaskan oleh Chiel Kattenbelt (2008), intermedialitas dalam teater menghadirkan ruang tontonan baru tempat media digital (video/proyeksi) dan media panggung (tubuh aktor secara fisik) saling bereaksi membentuk konteks makna baru.

Pada babak visualisasi waktu, proyeksi jam dinding dengan alur waktu yang berputar mundur memproyeksikan ilusi bahwa penonton dibawa masuk ke dalam alam mimpi atau kilas balik sejarah.

Efek surealistik ini diperkuat oleh pengolahan tata panggung. Kain latar putih yang berhimpitan secara simetris dengan kain hitam menciptakan dimensi kedalaman visual yang membiaskan citra jam tersebut.

Pada babak ini, kepasrahan dan kegagalan manusia sangat terasa, terutama ketika diproyeksikan bersama gerakan tertatih dan jatuhnya aktor Iwan Kuncup dari trap belakang ke lantai panggung tengah, diiringi dialog dan instrumen musik;

“Waktu berdetak, berdentang, terus dan terus selalu begitu... Pagi, siang, malam...”.

Klimaks narasi ekologis makin dipertegas melalui karakter Ibu Bhumi seusai adegan kebakaran hutan. Para performer berjalan mengenakan masker sebagai perlindungan diri atas iklim ekstrem, satu per satu jatuh merenggang nyawa. Ibu Bhumi lantas menuturkan dialognya yang lugas;

“Tak ada lagi mentari, pupus sudah. Tidak ada lagi waktu. Bumi telah remang di senja raya, tua... Begitu tua dalam berjuta usia. Ia sepertinya ingin mengakhiri peradaban ini, hidup renta yang berujung sia-sia. Sementara tanah, air, udara selalu saja kalian hisap sampai akhirnya lenyap ditelan cahaya.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa bencana alam yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar dinamika iklim alamiah, melainkan hasil destruksi eksplisit dari tangan manusia.

Secara umum, pertunjukan, perpaduan bunyi, keaktoran, dan proyeksi gambar menyatu utuh. Efek tata suara dan musik yang diramu oleh Avant Garde Dewa Gugat berhasil memperjelas simbolik cerita.

Penggabungan unsur tarian tradisional seperti tarian suku Mentawai dan Maori dihadirkan sebagai ekspresi intuisi alami manusia dalam menolak kerusakan lingkungan. Pada babak akhir sebelum miniatur bola bumi diletakkan di atas panggung, harmoni antara dialog, keaktoran tubuh, dan komposisi musik mempertegas bobot tragedi yang sedang berlangsung.

Kendati demikian, di balik keberhasilan penggarapan pertunjukan, terdapat beberapa catatan teknis kecil yang cukup mengganggu. Karena pertunjukan ini digelar di panggung terbuka yang tidak kedap suara, kebisingan dan suara-suara luar yang berseliweran kerap menembus arena panggung.

Gangguan akustik eksternal ini sedikit banyak memecah fokus dan konsentrasi penonton saat berusaha meresapi keheningan dialog maupun dinamika emosi pertunjukan.

Selain itu, pada aspek pencahayaan, adegan ketika performer menuangkan air ke atas miniatur bola bumi terasa kurang maksimal. Air transparan tersebut tidak terlihat jelas akibat ketiadaan lampu sorot yang mengarah langsung ke kucuran air. Padahal, jika kucuran air terkena cahaya, air akan menghasilkan efek bias yang memikat. Pencahayaan yang tepat tidak hanya menghindari kesan gerakan yang mubazir, tetapi juga memperkuat simbolisasi penyucian kembali bumi yang memberi ruang tafsir baru bagi penonton.

Pada akhirnya, tubuh aktor yang bergerak sepanjang pertunjukan telah sukses menjadi juru bicara bagi krisis ekologis yang selama ini sering dinormalisasi oleh masyarakat modern. Hal ini terangkum dalam dialog penutup Ibu Bhumi saat seluruh gerakan performer terhenti:

“Pernahkah kita bertanya pada lubuk hati kita yang paling dalam, manusia seperti apa kita? Senja raya retak, bahkan hancur berkeping-keping. Pernahkah kita berkata tentang bumi yang porak-poranda? Pernahkah? Pernahkah? Pernahkah? Pernah? Entah!”

Pertunjukan Bala Bhumi memberi peringatan keras, sampai nanti bumi benar-benar habis dan tak ada lagi ruang tersisa untuk kehidupan. Manusia kerap tidak akan pernah sadar selama terus menuruti eksploitasi dan keserakahan atas nama kesejahteraan.*



BACA JUGA