Festival Nan Jombang Tanggal 3 Hadirkan “Ruang yang Hilang”, Menyusuri Luka Kehilangan dan Jalan Pulang

Rabu, 02/09/2026 12:27 WIB
-

-

 

Padang, sumbarsatu.com — Festival Nan Jombang Tanggal 3 kembali menghadirkan karya tari kontemporer sebagai ruang perjumpaan antara gagasan, tubuh, dan pengalaman emosional manusia. Pada edisi September 2026, festival tersebut menampilkan koreografi Ruang yang Hilang karya koreografer muda Rivani Amri dari RVA Creative Art Padang.

Pertunjukan akan berlangsung Kamis, 3 September 2026, pukul 20.00 WIB di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang.

"Setelah pertunjukan, agenda dilanjutkan dengan Bincang Karya yang menghadirkan diskusi mengenai proses penciptaan dan gagasan artistik karya, dengan Alizar Tanjung sebagai moderator," kata Angga Mefri, Direktur Festival Nan Jombang, Rabu (2/9/2026).

Dijelaskannya, Festival Nan Jombang Tanggal 3 menjadi ruang penting bagi karya-karya tari untuk tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga dibicarakan.

"Kehadiran Ruang yang Hilang memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat diolah menjadi bahasa tubuh dan dramaturgi pertunjukan," jelasnya.

Karya yang dikoreografi Rivani Amri tersebut mengangkat tema kehilangan dan proses berdamai dengan diri sendiri. Dalam bentuk tari dramatik-kontemporer, karya ini mengikuti perjalanan batin seorang anak perempuan yang kehilangan sosok ayah, figur yang sejak awal ditempatkan sebagai cinta pertama, sosok yang dikagumi sekaligus menjadi panutan dalam kehidupannya.

Kehilangan itu kemudian tidak diperlakukan semata-mata sebagai peristiwa kesedihan. Ruang yang Hilang justru menempatkan kehilangan sebagai sebuah proses panjang yang membawa tokohnya melewati kehampaan, kebingungan, kesepian, penolakan, pencarian, hingga akhirnya sampai pada penerimaan.

Dalam konsep garapannya, Rivani menjadikan tubuh perempuan sebagai medium utama untuk memperlihatkan gejolak batin tersebut.

"Gerak tidak dibangun semata-mata untuk kepentingan visual, tetapi bersumber dari kondisi emosional tokoh yang sedang berhadapan dengan kehilangan," kata Rivani.

Sejumlah motif gerak menjadi penanda perjalanan tersebut. Gerakan menjangkau menjadi simbol keinginan menemukan kembali sosok ayah. Gerakan memeluk diri sendiri menggambarkan kebutuhan akan rasa aman, sementara gerakan menoleh dan mencari merepresentasikan usaha menemukan kembali sosok yang telah hilang.

Gerakan menarik dan melepas menjadi simbol proses melepaskan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan. Sementara gerakan jatuh dan bangkit menggambarkan keterpurukan sekaligus usaha untuk meneruskan kehidupan. Pada bagian akhir, gerakan membuka kedua tangan menjadi simbol penerimaan dan kebebasan.

Bingkai sebagai Ruang Kenangan

Salah satu unsur penting dalam Ruang yang Hilang adalah penggunaan bingkai kayu sebagai properti. Benda tersebut tidak sekadar menjadi elemen artistik panggung, tetapi memiliki fungsi simbolis yang terus berubah seiring perjalanan dramatik karya.

Bingkai kayu pada awalnya merepresentasikan sebuah ruang yang menyimpan kenangan tentang kehadiran ayah. Penari dapat berinteraksi dengan bingkai, melihatnya, melewatinya, atau berada di dalamnya. Relasi tubuh dengan bingkai menjadi cara untuk memperlihatkan hubungan tokoh dengan masa lalu.

Ketika cerita bergerak menuju fase kehilangan, bingkai berubah makna. Ia menjadi representasi ruang kosong—masih memiliki bentuk, tetapi sosok yang dahulu mengisinya telah tiada.

Pada bagian akhir, bingkai tidak lagi ditempatkan sebagai batas maupun lambang kehampaan. Maknanya bergeser menjadi simbol penerimaan bahwa kenangan tentang ayah tetap menjadi bagian dari kehidupan, meskipun kehadiran fisiknya tidak lagi ada.

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan utama karya yang tidak ingin menjadikan kehilangan sebagai titik akhir. Kehampaan memang menjadi bagian dari perjalanan tokoh, tetapi pada akhirnya ia harus menemukan kembali dirinya sendiri.

Dramaturgi Bergerak

Secara dramaturgis, Ruang yang Hilang dibangun melalui tahapan kehadiran, kehilangan, kehampaan, pencarian, konflik batin, penerimaan, hingga berdamai dengan diri.

Rangkaian tersebut membuat perjalanan tokoh tidak berhenti pada kesedihan. Ada perkembangan emosi yang membawa penonton mengikuti perubahan kondisi batin seorang perempuan ketika berhadapan dengan kehilangan orang yang sangat berarti dalam kehidupannya.

Konsep musik juga dirancang mengikuti perubahan gerak, ekspresi, dan dramaturgi. Perubahan tempo mengikuti kecepatan gerakan, sedangkan dinamika musik digunakan untuk memperkuat karakter setiap adegan. Pada bagian tertentu, aksen atau hit musical dapat disinkronkan dengan gerakan penting penari.

Sementara itu, tata cahaya menjadi bagian yang mempertegas perubahan suasana. Pada awal pertunjukan, cahaya dibuat terasa hangat dan terpusat. Ketika peristiwa kehilangan hadir, pencahayaan menjadi lebih redup sehingga menciptakan kesan ruang kosong di sekitar penari.

Bingkai kayu juga dapat memperoleh pencahayaan khusus sehingga bayangannya terlihat di lantai maupun latar belakang. Bayangan tersebut berfungsi sebagai simbol kenangan sekaligus ruang yang ditinggalkan oleh sosok ayah.

Memasuki bagian akhir, pencahayaan perlahan melebar. Penari tidak lagi terisolasi dalam satu titik. Perubahan tersebut menjadi tanda terbukanya ruang baru dalam kehidupan tokoh setelah melalui proses menerima kehilangan.

Konsep artistik panggung pun dibuat minimalis. Ruang yang luas dan kosong sengaja dipertahankan sebagai bagian dari gagasan karya. Kekosongan panggung sekaligus menjadi representasi ruang yang ditinggalkan oleh sosok ayah.

Dengan pendekatan tersebut, bingkai kayu menjadi pusat visual. Perubahan posisi bingkai dari satu adegan ke adegan berikutnya memungkinkan benda yang sama melahirkan makna berbeda, tanpa membutuhkan banyak properti tambahan.

Unsur simbolik juga hadir melalui tata busana. Kostum menggunakan warna putih dan pink yang memiliki hubungan dengan karakter serta perjalanan emosional tokoh.

Putih merepresentasikan kepolosan, ketulusan, kesucian, sekaligus ruang kosong. Sementara pink membawa makna kasih sayang, kelembutan, kehangatan, dan kenangan.

Perpaduan kedua warna tersebut mempertemukan dua keadaan yang dialami tokoh: kehampaan akibat kehilangan dan kasih sayang yang tetap tersimpan dalam ingatan.

Karena itu, busana tidak hanya berfungsi sebagai pendukung visual pertunjukan. Warna dan bentuknya menjadi bagian dari simbolisasi perjalanan tokoh, dari kepolosan dan kasih sayang menuju kehilangan, penerimaan, serta ketenangan.

Melalui keseluruhan unsur tersebut, Ruang yang Hilang menawarkan pembacaan bahwa kehilangan seseorang yang sangat berarti memang dapat menciptakan ruang kosong dalam kehidupan. Namun, ruang kosong itu tidak harus menjadi tempat seseorang terperangkap selamanya.

Karya ini membawa pesan bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan, sementara proses menerima dan memahami kehilangan menjadi bagian dari perjalanan untuk menemukan kembali diri sendiri.

Kenangan terhadap orang yang telah pergi pun tidak harus terus diposisikan sebagai luka. Kenangan dapat menjadi bagian dari kekuatan untuk melanjutkan kehidupan.

Melalui Festival Nan Jombang Tanggal 3, Ruang yang Hilang kemudian tidak hanya hadir sebagai pertunjukan tari, tetapi juga sebagai ajakan untuk melihat kembali pengalaman kehilangan melalui bahasa tubuh, ruang, cahaya, musik, dan simbol.

Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis. Setelah pertunjukan, penonton juga memiliki kesempatan mengikuti Bincang Karya untuk membicarakan lebih jauh proses kreatif dan gagasan yang melandasi karya tersebut. ssc/mn



BACA JUGA