Festival Ngobrol Buku 2026 Hidupkan Cerita Rakyat Sumatera Utara untuk Pembaca Modern

Minggu, 30/08/2026 17:24 WIB
-

-

Medan, sumbarsatu.com — Festival Ngobrol Buku 2026 menggelar Lokakarya Penulisan Cerpen bertajuk “Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern”. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, Jumat (28/8) hingga Minggu (30/8), di Ruang Galeri Lantai 2, Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan.

Ketua Panitia Pelaksana, Alda Muhsi, mengatakan festival tahun ini diikuti 45 peserta terpilih dari berbagai latar belakang.

“Kami menerima total 100 naskah cerpen calon peserta selama masa pengumpulan naskah pada 1–18 Agustus 2026. Tim panitia kemudian menyeleksi naskah tersebut dan menetapkan 45 orang peserta untuk mengikuti kegiatan lokakarya,” ujar Alda dalam laporan pembukaan kegiatan.

Ke-45 peserta tersebut dibagi ke dalam tiga kategori. Sebanyak 15 peserta merupakan pelajar tingkat SMA/sederajat dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Mereka berasal dari SMA Parulian 1 Medan, SMA Negeri 1 Tiganderket, MAN 1 Medan, SMA Negeri 1 Kualuh Leidong, Labuhanbatu Utara, MAS Daarul Azhariyun, Deli Serdang, SMA Negeri 21 Medan, MAN Batu Bara, SMA Darussalam Medan, dan SMA Negeri 1 Binjai.

Kategori kedua terdiri atas 15 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Negeri Medan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Universitas Islam Sumatera Utara, dan Universitas HKBP Nommensen.

Sementara itu, 15 peserta lainnya berasal dari kategori umum dengan latar belakang profesi yang beragam, seperti guru, pegawai, pengemudi ojek daring, dan pekerja lepas. Mereka berasal dari Medan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, dan Tapanuli Utara.

Selama mengikuti lokakarya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik penulisan cerita pendek dengan mengangkat kekayaan folklor atau cerita rakyat Sumatera Utara sebagai sumber penciptaan.

Pelatihan tersebut dipandu langsung oleh dua sastrawan dan penulis nasional, Yusi Avianto Pareanom dan Koko Hendri Lubis. Melalui bimbingan intensif, para peserta dilatih menggali nilai-nilai lokal dalam cerita rakyat untuk kemudian mengadaptasinya menjadi struktur cerpen modern yang menarik dan relevan bagi pembaca masa kini.

Karya yang dihasilkan 45 peserta selama lokakarya nantinya tidak hanya menjadi dokumentasi internal. Panitia telah menjadwalkan proses penerbitan dan pencetakan buku antologi karya peserta pada 1–24 September 2026.

Buku antologi tersebut akan diterbitkan berdasarkan kategori peserta. Masing-masing kategori direncanakan dicetak sebanyak 100 eksemplar.

Sebagai puncak rangkaian festival, buku antologi karya peserta tersebut akan dibahas dalam Diskusi Sastra “Ngobrol Buku” yang direncanakan berlangsung pada September 2026.

Acara tersebut akan menghadirkan akademisi dan praktisi sastra sebagai narasumber. Kegiatan ditargetkan dihadiri sekitar 150 undangan yang terdiri atas peserta, komunitas literasi, serta mitra sekolah dan perguruan tinggi di Kota Medan.

Penyelenggaraan Festival Ngobrol Buku 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra Tahun 2026.

Ketua Komunitas Ngobrol Buku, Eka Dalanta, mengatakan Festival Ngobrol Buku 2026 diharapkan dapat memicu lahirnya penulis-penulis baru yang mampu menjadikan cerita rakyat atau folklor sebagai sumber gagasan dalam berkarya.

Selain itu, festival tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat, terutama generasi muda, terhadap pelestarian budaya lokal.

Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya berupa cerita rakyat dan folklor yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai moral, kearifan lokal, identitas budaya, serta pandangan hidup masyarakat.

Namun, di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan cerita rakyat semakin jarang dikenal oleh generasi muda. Kondisi tersebut membuat berbagai cerita rakyat dan folklor lokal berisiko terlupakan apabila tidak terus diperkenalkan melalui medium yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurut Eka, pengolahan cerita rakyat ke dalam bentuk cerpen dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kekayaan tradisi dengan kebutuhan pembaca masa kini.

“Festival Ngobrol Buku 2026 yang bertajuk ‘Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern’ ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya cerpen berbasis budaya lokal yang layak dipublikasikan; menumbuhkan minat baca, minat tulis, dan kecintaan terhadap warisan budaya daerah; mendorong lahirnya penulis-penulis baru di Kota Medan; serta memperkaya terbitan-terbitan karya sastra para penulis baru Kota Medan,” pungkas Eka.ssc/rel



BACA JUGA