Yogyakarta, sumbarsatu.com– Perjalanan buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama karya Ubai Dillah Al Anshori berlanjut dari Yogyakarta menuju Bandung. Buku yang diterbitkan Elex Media Komputindo tersebut diperkenalkan melalui rangkaian diskusi dan tour book di sejumlah kota.
Perjalanan itu dimulai dari Semesta Buku Yogyakarta yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreasi Universitas Gadjah Mada (UGM), 22 Agustus 2026. Dalam sesi talkshow yang dipandu Marina N. Tampubolon, Ubai memperkenalkan buku puisinya sekaligus membicarakan gagasan yang melandasi penulisannya.
Ubai mengatakan, Sebuah Kota, Sebuah Umpama merupakan buku ketiganya yang terbit pada 8 Juli 2026. Buku tersebut menjadi ruang bagi dirinya untuk melihat dan membaca kota-kota di Sumatra melalui puisi.
“Sebuah Kota, Sebuah Umpama menjadi buku ketiganya yang terbit pada 8 Juli 2026. Buku ini menjadi ruang untuk melihat kota-kota di Sumatra. Bukan pula tidak mungkin bahwa dalam pembacaan yang berjalan itu, ada kota-kota ‘kalian’ di dalamnya. Teks-teks itu dibangun sebagai ruang perenungan dan identitas yang barangkali terkandung dalam kota-kota tersebut,” kata Ubai.
Sesi tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, pekerja, hingga masyarakat umum. Perjalanan pembacaan Sebuah Kota, Sebuah Umpama bahkan tidak hanya menarik perhatian pembaca dari Yogyakarta.
Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut datang dari berbagai daerah, antara lain Pontianak, Kalimantan, Riau, Jakarta, dan sejumlah kota lainnya di Indonesia.
Perjalanan berikutnya berlangsung dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY), 23 Agustus 2026, di Taman Budaya Embung Giwangan. Dalam kegiatan tersebut, Ubai hadir sebagai narasumber bersama penyair Raudal Tanjung Banua, dengan Polanco S. Achri sebagai moderator.
Diskusi buku tersebut menjadi salah satu sesi pembuka dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta. Pembahasan tidak hanya menempatkan kota sebagai latar dalam puisi, tetapi juga melihat bagaimana pengalaman terhadap suatu tempat dapat melahirkan perenungan, simbol, dan berbagai kemungkinan pemaknaan.
Raudal mengatakan, buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama seolah lahir dari kristal pengalaman yang memantulkan beragam gambaran yang dapat dipetik sebagai ibarat, isyarat, maupun representasi.
Menurutnya, pengertian “umpama” dalam buku tersebut tidak terbatas pada ungkapan bijak seperti pepatah-petitih, permainan bahasa seperti metafora dalam aforisme, ataupun quotes yang kini banyak diminati.
“Buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama seolah dilahirkan dari kristal pengalaman yang memantulkan berbagai gambaran yang dapat dipetik sebagai ibarat, isyarat atau representasi. Dengan demikian, umpama bukanlah sebatas soal-soal yang tersampaikan melalui ungkapan bijak bestari semacam dalam pepatah-petitih, permainan bahasa semacam metafora dalam aforisma, apalagi quotes—yang sekarang banyak diminati—namun bisa dari gambaran situasi, ironi, analogi, bahkan kontradiksi,” ujar Raudal.
Ia menambahkan, sebuah kota atau tempat dalam buku tersebut tidak lagi sekadar melahirkan sebuah umpama, tetapi membuka kemungkinan pemaknaan yang lebih luas.
Setelah Yogyakarta, perjalanan buku tersebut berlanjut ke Bandung. Diskusi digelar di Toko Buku Pelagia dengan menghadirkan Ubai Dillah Al Anshori, Ahda Imran, dan Risma Yuniar sebagai kawan diskusi.
Dalam pandangannya, Ahda Imran melihat puisi-puisi dalam buku tersebut seperti lukisan impresionis yang menghadirkan detail visual sekaligus menunjukkan penguasaan bahasa.
“Buku puisi ini seakan lukisan impresionis, menceritakan visual yang sedemikian detail. Bermain dan menguasai bahasa dalam puisi-puisinya,” kata Ahda.
Menurut Ahda, Ubai memiliki karakter yang berbeda dibandingkan penyair lain yang juga pernah menulis puisi dengan tema kota. Perbedaan tersebut terlihat dari warna yang dimunculkan dalam puisi-puisinya.
“Ada warna lain yang dimunculkan, dan itu semua diciptakan dengan nada-nada yang rendah serta lirih. Bisa saja ini strategi, tapi saya yakin ini adalah bagian dari kesadaran dalam menulis sesuatu,” ujarnya.
Rangkaian diskusi di Yogyakarta dan Bandung menjadi bagian dari perjalanan Sebuah Kota, Sebuah Umpama untuk menemui pembaca di berbagai daerah. Setelah tiga lokasi diskusi, buku tersebut dijadwalkan kembali diperbincangkan pada 8 September 2026 dalam Festival Literasi Sumatra Barat di Padang.
Buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama karya Ubai Dillah Al Anshori saat ini tersedia di hampir seluruh jaringan Gramedia di Indonesia.ssc