OLEH Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si (Social Resilience and Family Development Exspert)
"Tugas manusia hari ini diantaranya adalah bertahan untuk tetap waras, dan sehat, yaitu sehat lahir serta batin"
SETIAP orang tentu mendambakan rumah yang memberikan ketenangan, kenyamanan setelah seharian bekerja. Demikian pula setiap pekerja berharap kantor menjadi tempat untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi diri. Rumah dan tempat kerja pada hakikatnya merupakan dua lingkungan sosial yang paling banyak mengisi kehidupan manusia. Di sanalah seseorang membangun identitas, memperoleh dukungan, dan mengaktualisasikan dirinya.
Namun, realitas yang terjadi hari ini menunjukkan fenomena yang berbeda. Tidak sedikit orang yang pulang ke rumah dengan perasaan tertekan. Sebaliknya, ada pula yang berangkat bekerja tanpa semangat karena lingkungan kerjanya tidak lagi menghadirkan rasa aman dan nyaman. Ironisnya, sumber kelelahan tersebut sering kali bukan berasal dari beban pekerjaan, bukan pula dari gaji yang tidak berimbang didapatkan, melainkan dari kualitas hubungan antarmanusia yang semakin tidak sehat.
Belakangan ini masyarakat semakin akrab dengan istilah toxic (toksik). Kata tersebut menjadi sangat populer di media sosial. Sedikit berbeda pendapat disebut toksik. Orang tua yang melarang anak bermain gawai dianggap toksik. Atasan yang memberikan koreksi dinilai toksik. Bahkan teman yang memberikan kritik terkadang juga diberi label yang sama.
Popularitas istilah ini justru menghadirkan persoalan baru. Kita menjadi sangat mudah melabeli orang lain, tetapi semakin sulit membedakan antara kritik yang membangun dengan perilaku yang benar-benar merusak. Padahal, tidak semua ketidaknyamanan adalah bentuk perilaku toksik. Sebaliknya, tidak sedikit perilaku toksik yang justru dibungkus dengan alasan kasih sayang, disiplin, bahkan kepedulian.
Dalam beberapa kajian, perilaku toksik merupakan perilaku yang membuat orang lain tidak nyaman, di mana pola interaksi yang dilakukan secara berulang sehingga menimbulkan kerugian psikologis, emosional, sosial, maupun profesional bagi individu atau kelompok. Tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Verschuren, Tims, dan de Lange (2021) terhadap ratusan penelitian mengintegrasikan berbagai konsep seperti workplace bullying, incivility, harassment, dan counterproductive work behavior ke dalam kerangka Negative Work Behavior, yaitu perilaku yang merusak individu, kelompok, maupun organisasi. Dengan kata lain, persoalannya bukan pada satu ucapan atau satu konflik, melainkan pada pola hubungan yang terus-menerus mengikis martabat, rasa aman, dan motivasi seseorang.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat ini adalah menyamakan kepedulian dengan perilaku toksik. Contohnya seorang ayah yang melarang anaknya mengendarai sepeda motor tanpa helm bukanlah ayah yang toksik. Seorang ibu yang membatasi penggunaan gawai demi kesehatan mental anak bukan berarti mengendalikan secara berlebihan. Atasan yang mengoreksi pekerjaan agar sesuai standar pelayanan publik juga tidak otomatis berperilaku toksik.
Kepedulian bertujuan membantu seseorang berkembang. Kritik yang sehat disampaikan dengan penghormatan terhadap martabat orang lain dan diarahkan pada perbaikan. Sebaliknya, perilaku toksik bertujuan mengendalikan, merendahkan, mempermalukan, atau melemahkan orang lain. Ia dilakukan berulang kali sehingga perlahan mengikis kepercayaan diri, keberanian, dan semangat untuk bertumbuh.
Di sinilah letak bahayanya. Perilaku toksik tidak selalu datang dalam bentuk kemarahan atau kekerasan fisik. Ia sering muncul melalui sindiran yang terus-menerus, penghinaan yang dianggap candaan, manipulasi emosional, pengucilan, gosip, sikap meremehkan, atau kebiasaan mencari kesalahan orang lain yang dilakukan dalam waktu yang cukup intens bahkan hal yang sederhana yaitu tidak menghargai keberhasilan orang lain, perilaku tersebut akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ketika perilaku itu menjadi kebiasaan, yang rusak bukan hanya individu, tetapi seluruh ekosistem sosial di dalamnya.
Dampak dari perilaku toksik bukanlah konflik yang tampak di permukaan, melainkan lebih luas dapat menciptakan lingkungan yang sakit (unhealthy ecosystem). Contohnya organisasi mungkin tetap melaksanakan rapat. Program tetap berjalan. Target tetap tercapai. Rumah masih tampak baik-baik saja dari luar. Namun, sesungguhnya orang-orang yang berada di dalamnya telah kehilangan sesuatu yang paling mendasar, yaitu rasa aman dan nyaman untuk menjadi dirinya sendiri.
Amy Edmondson, profesor dari Harvard Business School, memperkenalkan konsep psychological safety, yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat menyampaikan pendapat, bertanya, mengakui kesalahan, atau menawarkan gagasan tanpa takut dipermalukan, dihukum, atau disingkirkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa organisasi dengan tingkat psychological safety yang tinggi lebih inovatif, lebih cepat belajar, dan memiliki kolaborasi yang lebih baik. Sebaliknya, ketika rasa aman tersebut hilang, orang mulai memasuki apa yang dalam psikologi disebut sebagai survival mode. Mereka tidak lagi berpikir bagaimana berkembang, tetapi bagaimana bertahan. Mereka tidak lagi bertanya, "Bagaimana organisasi ini bisa lebih maju?" Namun justru, "bagaimana agar saya tidak menjadi sasaran berikutnya?" Di sinilah organisasi mulai kehilangan daya hidupnya.
Lingkungan yang toksik hampir selalu melahirkan budaya yang sama, yaitu budaya “sembunyi-sembunyi”. Orang tidak lagi berani menyampaikan pendapat secara terbuka. Masalah dibicarakan di lorong-lorong kantor, bukan di ruang rapat. Kritik hanya muncul dalam percakapan pribadi. Ide-ide terbaik disimpan sendiri.
Prestasi pun kadang disembunyikan karena khawatir menimbulkan kecemburuan atau dianggap "tidak berarti", tidak ada apresiasi. Lambat laun tumbuh keyakinan bahwa diam jauh lebih aman daripada berbicara. Kalimat sederhana ini menjadi awal matinya kreativitas. Padahal organisasi modern hidup dari gagasan, inovasi, dan keberanian berpikir. Ketika orang memilih diam, organisasi sebenarnya sedang kehilangan modal intelektual yang paling berharga.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar untuk dihargai. Seseorang tidak bekerja hanya demi memperoleh gaji. Ia juga ingin diakui, diapresiasi, dan diyakinkan bahwa kontribusinya memiliki makna. Namun, lingkungan yang toksik justru melakukan hal sebaliknya.
Prestasi dianggap ancaman. Keberhasilan dipandang sebagai upaya mencari perhatian. Orang yang ingin maju tidak diberi ruang, tetapi dipatahkan semangatnya. Kalimat-kalimat seperti,"tidak usah terlalu bersemangat. Biasa saja. Nanti juga gagal. Jangan sok pintar. Kamu belum tahu apa-apa atau apa yang Anda kerjakan biasa saja." Mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus diulang, pesan yang diterima seseorang adalah, "tidak perlu lakukan yang terbaik."
Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan budaya mediokritas. Orang tidak lagi berlomba menghasilkan karya terbaik, tetapi berlomba agar tidak menjadi sasaran kritik.
Ciri organisasi yang sehat bukanlah banyaknya rapat. Melainkan banyaknya gagasan yang lahir dari rapat tersebut. Sayangnya, dalam lingkungan yang toksik sering terjadi fenomena yang paradoks. Ruang rapat penuh. Semua hadir. Semua mendengarkan, namun, hampir tidak ada yang berbicara.
Toksik layaknya seperti virus, saat pimpinan bertanya,"Apakah ada masukan?" Ruangan menjadi hening. Bukan karena semua sepakat. Melainkan “virus” toksik membuat rasa takut, takut dianggap tidak patuh, takut dipermalukan, takut menjadi bahan pembicaraan, takut salah atau “malas” karena merasa percuma saja berpendapat, memberikan ide ataupun gagasan tersebab dirasakan tidak juga ada gunanya, sehingga yang mati bukan suara pegawai, akan tetapi “ruh organisasi”.
Fenomena tersebut dapat berawal dari keluarga. Bisa saja salah satunya karena faktor fatherless, perilaku orang tu yang membanding-bandingkan anak-anaknya, tidak dihargai atau tidak adanya tempat bercerita. Remaja yang setiap pendapatnya dipatahkan memilih diam. Pasangan yang selalu diremehkan kehilangan kepercayaan diri. Rumah masih dipenuhi aktivitas. Namun komunikasi telah semakin merenggang bahkan kehilangan makna.
John Bowlby dalam Attachment Theory menjelaskan bahwa kualitas hubungan emosional antara anak dan orang tua menjadi fondasi perkembangan psikologis sepanjang hidup. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang hangat dan penuh penghargaan akan memiliki rasa aman (secure attachment), sedangkan anak yang hidup dalam lingkungan yang penuh penghinaan, ketidakpastian, atau penolakan berisiko mengalami kesulitan membangun hubungan yang sehat ketika dewasa. Lebih mengkhawatirkan, pola komunikasi ini sering diwariskan lintas generasi.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat orang tuanya, tetapi dari cara orang tua memperlakukan satu sama lain. Dengan demikian, perilaku toksik tidak berhenti pada satu keluarga, tetapi berpotensi direproduksi ke generasi berikutnya.
Sering kali kita menganggap perilaku toksik hanya persoalan hubungan pribadi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Keluarga merupakan tempat lahirnya sumber daya manusia. Kantor merupakan tempat sumber daya manusia berkarya. Jika rumah dipenuhi komunikasi yang merusak, kualitas karakter anak ikut terganggu.
Jika kantor dipenuhi budaya saling menjatuhkan, produktivitas dan inovasi ikut menurun. Dengan kata lain, perilaku toksik sesungguhnya menggerus modal sosial (social capital), yaitu kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas yang menjadi fondasi pembangunan. Bangsa yang besar tidak hanya memerlukan sumber daya alam atau teknologi yang maju saja. Namun membutuhkan manusia yang berani berpikir, mampu bekerja sama, dan merasa aman untuk berinovasi (berkualitas).
Oleh karena itu perlunya berawal dari keluarga, perilaku yang sehat, sprotif, “berjujur-jujur” perlu dibangun melalui komunikasi yang menghargai, kemampuan mendengar, keberanian meminta maaf, serta kesediaan menyelesaikan konflik tanpa merendahkan martabat anggota keluarga.
Di lingkungan kerja, budaya itu diwujudkan melalui kepemimpinan yang adil, apresiasi terhadap setiap kontribusi, ruang dialog yang terbuka, dan keberanian menolak perilaku yang merusak hubungan antarmanusia. Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan rumah yang besar atau kantor yang megah.
Manusia membutuhkan tempat di mana ia merasa dihargai, didengar, dipercaya dan merasa aman dan nyaman serta merasa didukung ketika ingin berkembang. Sebab, keluarga yang sehat melahirkan manusia yang tangguh. Organisasi yang sehat melahirkan inovasi.
Bangsa yang maju selalu dibangun oleh rumah-rumah yang penuh kasih serta tempat kerja yang memuliakan martabat manusia mengutip quote filosof J. Krishnamurti, "bukanlah ukuran kesehatan jika kita mampu beradaptasi dengan baik di dalam masyarakat yang sangat sakit."