Senin, 20/07/2026 19:50 WIB

Primaya Hospital Ajak Perempuan Lebih Siap Hadapi Perimenopause

Foto 4

Foto 4

 

Jakarta, sumbarsatu.com — Primaya Hospital mengajak perempuan lebih siap menghadapi fase perimenopause melalui edukasi dan pendampingan kesehatan yang menyeluruh. Melalui pendekatan multidisiplin, perempuan didorong mengenali perubahan tubuh sejak dini agar tetap sehat, aktif, dan produktif di setiap fase kehidupan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam seminar "Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause" yang digelar Primaya Hospital bersama Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli di Jakarta, Jumat (18/7/2026). Seminar menghadirkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu serta praktisi yang membahas perimenopause dari aspek hormonal, kesehatan fisik dan mental, nutrisi, kulit, olahraga, hingga pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan.

CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali mengatakan, banyak perempuan usia 40-an mulai mengalami siklus menstruasi tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, perubahan suasana hati, hingga kenaikan berat badan. Namun, keluhan tersebut kerap diabaikan karena perempuan lebih fokus menjalankan peran sebagai ibu, istri, maupun profesional.

“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman. Yang terpenting adalah memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis agar tidak terlambat mendapatkan pertolongan,” ujar Leona.

Ia menambahkan, perubahan selama perimenopause tidak hanya berkaitan dengan hormon, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan, sehingga membutuhkan pendampingan kesehatan yang komprehensif.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG menjelaskan, perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai fluktuasi hormon estrogen dan progesteron. Rata-rata perempuan mulai memasuki fase ini pada usia 47,5 tahun, sedangkan menopause umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun.

Dengan angka harapan hidup perempuan yang mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga hidup perempuan dijalani pada fase klimakterik. Karena itu, menurut Martina, perempuan perlu mengenali perubahan tubuh sejak dini agar dapat mengelola gejala dengan tepat.

Dari sisi terapi pendukung, dr. Feliani, Sp.Ak menyebutkan akupuntur medis dapat membantu menyeimbangkan fungsi tubuh dan mengembalikan vitalitas sesuai kondisi masing-masing pasien.

Sementara itu, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang untuk menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis selama perimenopause.

Perubahan hormon juga berdampak pada kesehatan kulit dan rambut. Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp.FOMC menjelaskan, penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan elastisitas.

Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, lalu terus berkurang sekitar 2 persen setiap tahun. Rambut pun dapat menjadi lebih tipis akibat memendeknya fase pertumbuhan rambut.

Dari aspek rehabilitasi medis, dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap dinilai penting untuk menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, dan membantu mengurangi gejala perimenopause.

Adapun dari sisi kesehatan jiwa, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc menegaskan bahwa perubahan suasana hati pada masa perimenopause merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup.

“Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit. Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional,” katanya.

Seminar juga menghadirkan pengalaman langsung perempuan yang menjalani perimenopause. CEO & Co-Founder Yoona Women Susanna Angraini menilai keterbukaan dalam membicarakan isu ini penting agar perempuan tidak merasa sendirian dan lebih memahami tubuhnya.

Sementara itu, President Director Martha Tilaar SPA Wulan Maharani Tilaar mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase untuk merawat diri secara holistik agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.

Menutup diskusi, COO & Co-Founder Blibli Lisa Widodo menegaskan bahwa perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan. Menurutnya, dengan pemahaman yang baik, dukungan keluarga, dan lingkungan kerja yang sehat, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya.

Melalui seminar ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan perimenopause secara terbuka, mengenali perubahan tubuh sejak dini, serta mendapatkan pendampingan medis yang tepat agar tetap sehat, aktif, dan produktif.ssc

BACA JUGA