Kelana Gambar Bergerak Berakhir, Remaja Korong Kasai Presentasikan Karya Video Kolase

Sabtu, 07/03/2026 15:06 WIB
TUM

TUM

Kasai, sumbarsatu.com--Komunitas Seni Nan Tumpah menutup rangkaian kegiatan Kelana Gambar Bergerak dengan acara buka puasa bersama dan pemutaran karya pada Minggu, 8 Maret 2026, di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah.

Kegiatan yang berlangsung pukul 17.00 hingga 20.00 WIB ini menjadi momen presentasi hasil belajar para peserta sekaligus ruang pertemuan antara remaja, warga sekitar Korong Kasai, orang tua, tamu undangan, serta rekan komunitas.

Pada malam tersebut, para peserta mempresentasikan karya video kolase yang mereka buat selama mengikuti proses belajar. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, dan setiap kelompok menghasilkan satu karya video berdurasi maksimal dua menit. Ketiga karya tersebut merupakan hasil eksplorasi visual yang dilakukan selama mengikuti program Kelana Gambar Bergerak.

Selain pemutaran karya peserta, kegiatan puncak ini juga menampilkan karya gambar bergerak dari Mardi Al Anhar, yang akrab disapa Da Al. Beberapa karya yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatifnya selama menjalani residensi singkat di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah, serta sejumlah karya yang pernah ia produksi sebelumnya.

Kelana Gambar Bergerak merupakan ruang belajar intensif selama enam hari bagi remaja yang tergabung dalam program Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan. Program ini berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026 dan dirancang untuk mengenalkan gambar bergerak sebagai medium dalam praktik seni visual sekaligus sebagai cara membaca diri dan lingkungan.

Selama proses pembelajaran, peserta diajak memahami dasar visual, sejarah gambar bergerak, praktik nirmana garis, fotografi dasar, hingga produksi video pendek secara berkelompok. Kegiatan berlangsung setiap sore pukul 16.00 hingga 18.00 WIB dengan metode yang memadukan ceramah sinema, pemutaran karya referensi, praktik visual manual, diskusi, serta evaluasi bersama.

Mardi Al Anhar dari kolektif KamartKost.ch, yang menjadi kawan belajar dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kedekatan remaja dengan teknologi digital.

“Perkembangan zaman membuat teknologi menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk remaja. Kamera menjadi titik awal yang melatarbelakangi proyek ini,” ujarnya.

Menurutnya, melalui kegiatan ini para remaja diajak melihat smartphone bukan hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk memproduksi karya dan menyampaikan cerita tentang lingkungan mereka.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta melalui berbagai tahapan pembelajaran. Pada hari pertama mereka diperkenalkan pada sejarah dan dasar gambar bergerak serta membuat latihan nirmana garis sebagai dasar pemahaman visual.

Hari kedua diisi dengan praktik membuat gambar bergerak sederhana dari rangkaian foto. Pada hari ketiga, peserta mempelajari teknik fotografi dasar sekaligus mulai menyusun konsep visual berdasarkan pengalaman mereka terhadap ruang dan lingkungan sekitar.

Memasuki hari keempat dan kelima, peserta mulai memproduksi karya video secara berkelompok, mulai dari penyusunan ide, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan sederhana. Tahapan tersebut kemudian disempurnakan pada hari terakhir sebelum dipresentasikan kepada publik.

Pendamping kelas Kelana Akhir Pekan, Desvy Sagita R, menyebut respons peserta terhadap kegiatan ini sangat positif. Meski pada awalnya mereka mengalami kebingungan dalam memahami konsep gambar bergerak, secara bertahap mereka mulai memahami proses pembuatannya.

“Ketika peserta melihat hasil video yang dibuat dari puluhan foto yang digabungkan, mereka sangat takjub. Mereka tidak menyangka bahwa rangkaian gambar yang dibuat hampir dua jam hanya menjadi video berdurasi beberapa detik. Dari situ mereka mulai lebih menghargai proses pembuatan gambar bergerak,” ujarnya.

Salah satu peserta, Nadya Sri Novita berusia 15 tahun, mengatakan kegiatan ini memberinya pengalaman baru dalam membuat video.

“Yang paling menarik adalah bisa membuat video gambar bergerak bersama teman-teman. Kami belajar mengambil gambar, menyusun cerita, dan mengedit video sehingga menjadi karya yang menarik,” katanya.

Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajry Chaniago, menjelaskan bahwa Kelana Gambar Bergerak merupakan bagian dari semester pendek program Kelana Akhir Pekan yang dilaksanakan pada masa jeda pembelajaran rutin.

“Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar intensif bagi remaja untuk mengenal gambar bergerak sebagai salah satu medium dalam praktik seni visual. Melalui kolaborasi dengan Mardi Al Anhar dari KamartKost.ch, peserta tidak hanya belajar teknik dasar, tetapi juga diajak memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk berpikir, mengamati, dan bercerita,” jelasnya.

Ia berharap pemutaran karya ini dapat menjadi ruang pertemuan antara peserta, keluarga, dan masyarakat untuk melihat secara langsung bagaimana para remaja memaknai lingkungan mereka melalui karya visual yang mereka buat.

Melalui Kelana Gambar Bergerak, Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga seni sebagai ruang tumbuh dan ruang dialog yang berakar pada pengalaman lokal. Kegiatan ini sekaligus membuka kemungkinan bahwa praktik seni dapat berkembang dari lingkungan kampung dan kehidupan sehari-hari.ssc/rel



BACA JUGA