Jum'at, 20/02/2026 04:42 WIB

Penyintas Kanker Lansia Perlu Pendekatan Khusus, Kualitas Hidup Jadi Fokus Penanganan

 

Jakarta, sumbarsatu.com — Jumlah penyintas kanker di Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir, termasuk pada kelompok usia lanjut. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) memperkirakan tanpa perubahan strategi signifikan, beban kasus dan angka kematian akibat kanker di Indonesia pada periode 2025–2040 dapat meningkat hingga 63 persen.

Di tengah tren tersebut, tantangan deteksi dini masih menjadi persoalan. Banyak pasien baru datang berobat saat kanker telah memasuki stadium lanjut, padahal sekitar separuh kasus kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan berkala.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi di Primaya Hospital Semarang, Daniel Rizky, menjelaskan meningkatnya angka harapan hidup penyintas kanker tidak terlepas dari kemajuan teknologi diagnostik, terapi yang semakin presisi, serta meluasnya akses program skrining.

Sebagai bagian dari komitmen deteksi dini, jaringan Primaya Hospital juga menyediakan paket skrining kanker umum maupun khusus perempuan sepanjang 2026.

Meski demikian, penanganan kanker pada lansia memiliki kompleksitas tersendiri. Salah satu faktor utama adalah kondisi kerapuhan atau frailty index, yakni tingkat kebugaran biologis pasien yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologisnya. Karena itu, terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian menyeluruh sebelum menentukan jenis serta dosis pengobatan.

Menurut Daniel, usia lanjut bukan alasan untuk membatasi terapi, melainkan mendorong pendekatan yang lebih cermat. Penanganan tetap didasarkan pada jenis dan stadium kanker, dengan mempertimbangkan fungsi organ, penyakit penyerta, serta kondisi kebugaran pasien. Dalam banyak kasus, kolaborasi dengan dokter spesialis geriatri diperlukan agar terapi tetap aman sekaligus efektif.

Ia juga menepis anggapan bahwa pengobatan kanker pada lansia selalu berisiko tinggi. Saat ini tersedia berbagai regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut, dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas pengobatan dan kualitas hidup.

Keberhasilan terapi, katanya, tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga respons tumor serta kemampuan pasien menjalani kehidupan sehari-hari secara layak.

Selain aspek medis, dukungan keluarga menjadi faktor krusial. Pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos justru dapat memperburuk kondisi pasien, karena tubuh membutuhkan asupan nutrisi cukup selama terapi.

Kanker, lanjut Daniel, bukan sekadar penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional sehingga sistem pendukung yang kuat membantu pasien tetap bersemangat.

Setelah menyelesaikan terapi, penyintas kanker lansia tetap memerlukan kontrol rutin untuk memantau kemungkinan kekambuhan maupun efek samping pengobatan. Pendekatan menyeluruh yang menggabungkan terapi medis terukur dan dukungan keluarga dinilai menjadi kunci keberhasilan penanganan.

“Tujuan penanganan bukan hanya memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup penyintas tetap terjaga,” ujar Daniel.ssc/rel

BACA JUGA