PMMP yang Sebagian Sahamnya Dimiliki Kaesang Pangarep Terlilit Utang Rp2,87 Triliun, Ajukan Restrukturisasi Kredit

Rabu, 08/07/2026 09:46 WIB
-

-

Jakarta, sumbarsatu.com– PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan dan eksportir udang yang sebagian sahamnya dimiliki Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, tengah menghadapi tekanan keuangan yang berat.

Perseroan mengakui mengalami kesulitan likuiditas dan mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank setelah beban utang mencapai sekitar Rp2,87 triliun, di luar bunga.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), total kewajiban pokok utang PMMP bahkan telah melampaui nilai aset yang dimiliki perusahaan. Kondisi tersebut membuat perseroan menghadapi kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran kepada para krediturnya.

Manajemen PMMP menyebutkan, tekanan likuiditas dan keterbatasan modal kerja menjadi penyebab utama perusahaan tidak dapat menjalankan kegiatan operasional secara optimal. Perseroan memperkirakan membutuhkan tambahan modal kerja sekitar US$15 juta atau sekitar Rp269 miliar untuk menjaga kelangsungan usaha.

Akibat keterbatasan tersebut, PMMP saat ini hanya mengoperasikan satu pabrik pengolahan di Situbondo, Jawa Timur. Untuk memenuhi permintaan pasar ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.

"Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.

Utang Tersebar di Enam Bank

Dalam laporan kepada BEI, PMMP mengungkapkan memiliki kewajiban kepada sejumlah bank dengan total sekitar Rp2,87 triliun, di luar bunga pinjaman.

Rinciannya meliputi utang kepada PT Bank Permata Tbk sebesar sekitar Rp958,9 miliar, terdiri atas fasilitas dalam mata uang dolar AS senilai US$53,12 juta dan pinjaman rupiah sekitar Rp5,49 miliar.

Selain itu, perseroan memiliki kewajiban kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sekitar Rp551,2 miliar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sekitar Rp409,1 miliar, PT Bank Maspion Indonesia Tbk sekitar Rp129,4 miliar, serta PT Bank Resona Perdania sekitar Rp107,5 miliar.

"Saldo tersebut di atas di luar utang bunga," tulis manajemen.

Lakukan PHK dan Eksportir Udang Terbesar

Tekanan keuangan yang dihadapi perusahaan juga berdampak pada pengurangan tenaga kerja. Sejak 2024 hingga pertengahan 2026, PMMP telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, 82 karyawan staf tercatat mengundurkan diri.

Langkah tersebut merupakan bagian dari efisiensi operasional yang ditempuh perusahaan di tengah penurunan kapasitas produksi dan keterbatasan modal kerja.

Berdasarkan situs resmi perusahaan, PMMP didirikan pada 2004 dan bergerak di bidang pengolahan serta ekspor udang beku. Kantor pusat perusahaan berada di Surabaya, sedangkan fasilitas produksi berlokasi di Situbondo, Jawa Timur, dan Tarakan, Kalimantan Utara.

PMMP memiliki kapasitas produksi mencapai 25 ribu ton per tahun yang didukung fasilitas cold storage berkapasitas sekitar 46 ribu ton. Pada 2019, perusahaan mengklaim menempati peringkat kedua eksportir udang nasional berdasarkan volume ekspor.

Produk PMMP dipasarkan ke berbagai negara tujuan utama, seperti Amerika Serikat, Jepang, kawasan Eropa, serta sejumlah negara lainnya. Produk perusahaan juga memasok jaringan ritel dan industri makanan (food service) di Amerika Serikat dan Jepang.

Perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) pada 18 Desember 2020 dengan melepas 15 persen saham kepada publik sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur permodalan dan ekspansi usaha.

Kaesang Pemegang Saham 7,27 Persen

Berdasarkan data pemegang saham perseroan, PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan milik Kaesang Pangarep, tercatat sebagai salah satu pemegang saham dengan kepemilikan di atas lima persen.

Perusahaan tersebut menguasai sekitar 188,24 juta saham atau setara 7,27 persen dari total saham PMMP.

Sementara itu, susunan direksi PMMP dipimpin Martinus Soesilo sebagai Direktur Utama, didampingi Hirawan Tedjokoesoemo sebagai Wakil Direktur Utama, serta Alin Rostanti dan Patrick Djuanda sebagai Direktur. Adapun jajaran komisaris terdiri atas Soesilo Soebardjo sebagai Komisaris Utama, Suwarli sebagai Komisaris, dan Salis Teguh Hartono sebagai Komisaris.

Dengan beban utang yang telah melampaui aset, terbatasnya modal kerja, serta menurunnya kapasitas produksi, langkah restrukturisasi pinjaman yang sedang ditempuh akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlangsungan usaha PMMP ke depan.ssc/mn

Sumber: BDS Allianc/cnnindonesia



BACA JUGA