Senin, 16/02/2026 13:20 WIB

SUMATERA SURVIVE: Dari Doa, Warna, hingga Bibit Harapan

Padang, sumbarsatu.com--Pagi itu, Minggu 15 Februari 2026, suasana di RT 03 RW 12 Baringin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, terasa berbeda. Anak-anak duduk bersaf rapi di Mushola Baitul Makmur. Wajah mereka menyimpan jejak lelah pascabencana, tetapi pagi itu ada harapan yang sedang dirajut bersama.

Gerakan SUMATERA SURVIVE — Bangkit dan Berdampak untuk Bencana Sumatra kembali digelar. Trauma Healing #11 yang diinisiasi Dangau Studio berkolaborasi dengan komunitas TDA (Tangan Di Atas) Padang menjadi ruang pemulihan yang tak sekadar menghadirkan hiburan, melainkan sentuhan spiritual, seni, dan aksi nyata.

Kegiatan dibuka dengan Salat Dhuha berjamaah yang diimami Daffa Harfansyah. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya agar acara berjalan lancar, tetapi juga sebagai penguat batin anak-anak korban bencana Sumatera Barat dan para relawan yang mendampingi mereka. Keheningan doa pagi itu menjadi fondasi dari seluruh rangkaian kegiatan.

Suasana kemudian berubah menjadi riuh tawa. Ice breaking dipandu Nimah Sofyan bersama Rahmi, Chindy, dan para relawan lainnya. Permainan dan interaksi ringan mencairkan kecanggungan. Anak-anak yang semula pendiam mulai tersenyum, berani bergerak, dan perlahan kembali menjadi anak-anak.

Usai Zuhur dan makan siang, sesi Art Therapy Dangau dimulai. Program “mencoret bebas berekspresi” memberi ruang bagi anak-anak untuk meluapkan rasa yang sulit diucapkan. Tidak ada benar atau salah dalam warna yang mereka goreskan. Setiap garis dan sapuan kuas menjadi bahasa sunyi tentang trauma, harapan, dan mimpi yang masih ingin tumbuh.

Karya-karya tersebut tidak berhenti di hari itu. Seluruh hasil lukisan akan dipamerkan dalam rangkaian SUMATERA SURVIVE Exhibition, sebagai penanda perjalanan pemulihan yang mereka lalui bersama.

Sementara itu, sejak pukul 10.00 WIB hingga menjelang magrib, kegiatan lain berlangsung di luar mushola. Program Kebun Warga Bencana menjadi simbol keberlanjutan. Bersama Rimbo Andalas Project, para relawan dan warga menanam 1.000 bibit serai, 1.000 bibit kunyit, 1.000 ubi kayu, serta berbagai tanaman produktif lainnya. Tanah yang sebelumnya menjadi saksi bencana kini ditanami harapan baru.

Interaksi terjadi secara alami. Anak-anak belajar menanam. Warga berbagi cerita. Relawan membantu menggali dan menata bibit. Edukasi dan sosialisasi berjalan tanpa jarak.

Azan Mahgrib mengakhiri aktivitas luar ruangan. Seluruh peserta kembali berkumpul di Mushola Baitul Makmur untuk salat berjamaah, dilanjutkan dengan Yasinan dan tausiyah. Malam ditutup dengan makan bajamba, tradisi makan bersama khas Minangkabau yang merekatkan kebersamaan. Doa penutup dipimpin Dedi Setiawan, Ketua Karang Taruna Fajar Menyinsing.

Kolaborasi ini turut didukung Karang Taruna Fajar Menyinsing, Rimbo Andalas Project, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan Politeknik Negeri Padang. Sinergi berbagai komunitas memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal bantuan material, tetapi juga tentang merawat jiwa dan membangun kembali solidaritas sosial.

“Semoga ke depannya kegiatan ini menjadi pemantik semangat Sumatra untuk bangkit bersama pascabencana,” ujar Budi Irwandi, Founder Dangau Studio.

Di Balai Gadang hari itu, Sumatera tidak hanya bertahan. Sumatera sedang belajar bangkit—melalui doa, warna, tanah yang ditanami, dan kebersamaan yang kembali disemai.ssc/rel

BACA JUGA