PSI
OLEH Suryadi
PSI – Partai Solidaritas Indonesia – adalah pemain yang lewat sedikit seumur jagung muncul di negeri 17.000 pulau yang ranah politiknya sedang morat-marit dan kotor penuh daki. Dibentuk oleh Grace Natalie dkk. pada 16 November 2014, saat Joko Widodo (Jokowi) alias Mulyono menjadi Presiden Indonesia, PSI tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan syarat formal menjadi sebuah partai politik resmi di Indonesia.
Maklum saja, PSI didirikan dengan maksud mendukung petahana (Jokowi) dalam pencalonannya kembali sebagai Presiden Indonesia pada Pemilu 2019. Pada 7 Oktober 2016, saat Jokowi menjalani tahun kedua masa kekuasaannya sebagai Presiden Indonesia, PSI dengan enteng lolos verifikasi Kementerian Hukum dan HAM, dan tercatat sebagai satu-satunya partai politik baru yang lolos seleksi hukum pasca pilpres 2014. Demikianlah simbiosis mutualisme dipraktekkan dalam politik Indonesia yang nepotis dan korup. Kalau berseberangan dengan rezim, jangan harap akan cepat diproses.
Pada Februari 2018, setahun sebelum masa jabatan kepresidenan Jokowi periode pertama berakhir, PSI dinyatakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah memenuhi syarat untuk ikut Pemilu 2019, yang mengsung kembali incumbent untuk periode 5 tahun kedua.
Nama PSI mungkin bukan pilihan sembarangan. Nama partai ini mengingatkan kita pada Partito Socialista Italiano atau Italian Socialist Party yang juga disingkat PSI, dengan logo yang, seperti ‘PSI Solo’ ini, juga ada bunganya dan sama-sama memakai warna merah. Namun, partai yang didirikan Pietro Nenni dan Ottaviano Del Turco di Genoa pada 14 Agustus 1892 ini dengan terang menyatakan dirinya berhaluan kiri sebagaimana terefleksi dari lambang palu arit (komunisme) yang ditaruh pada logonya, di bawah kuntum bunga (lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Italian_Socialist_Party; diakses 03-02-2026).
Fokus perjuangan ‘PSI Solo’ ini, konon menurut pendirinya, adalah pada pemberdayaan hak-hak perempuan dan pluralisme (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Solidaritas_Indonesia; diakses 03-02-2025). Lebih detil lagi disebutkan bahwa ideologi partai ini adalah: Pancasila, Jokowisme, Progresivisme, Sekularisme, Demokrasi sosial, Pluralisme, Liberalisme, Hak minoritas, dan Politik anak muda (Ibid.).
Pada bulan Oktober 2023, Kaesang Pangarep, anak Mulyono, bergabung dengan partai ini, dan pada hari yang sama, seolah tanpa memerlukan uji kemampuan wawasan soal kepartaian dan pengetahuan umum tentang kenegaraan dan kebangsaan, anak ingusan yang masih belepotan bicara di depan publik itu terpilih menjadi ketua partai ini. Ini mungkin satu-satunya peristiwa (politik) yang pernah terjadi di dunia, dan hal yang sangat aneh ini berlalu begitu saja di tengah masyarakat Indonesia yang pikuk-pekak oleh gonjang-ganjing politik dan kian sulitnya mencari uang.
Semula logo PSI adalah kuntum bunga mawar berwarna putih dengan tangan mengepal, berlatar warna merah. Belakangan, setelah partai ini berada dalam genggaman keluarga Mulyono, logonya diganti dengan gajah mendongak yang berkepala merah dan berbadan hitam. Penggantian logo PSI ini sempat menjadi bahan celotehan netizens Indonesia yang memang sangat kreatif dan tidak mengenal batas satir: GAJAH diberi kepanjangan “Nggak ada ijazah”. Jelas, maksudnya adalah menyindir Mulyono yang terus plintat-plintut dan mbalelo menghadapi kasus ijazahnya dari UGM yang diduga palsu.
Sebagaimana halnya dua dinasti Jawa sebelumnya (Dinasti Sukarno dan Dinasti Suharto), keluarga Jokowi tampaknya sangat berambisi pula menciptakan dinasti politik, walau hanya memiliki sumber daya manusia pas-pasan. Kiranya tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa ini adalah sebuah ambisi dari satu keluarga yang dari segi pendidian dan intelektualitas hanya bisa diberi cap jempol menghadap ke bawah. Namun, dalam dunia new normal sekarang, dimana persepsi dapat dibentuk dengan pencitraan lewat media sosial, kiranya tidaklah begitu sulit untuk memoles seorang badut menjadi politikus boneka kawakan. Di Indonesia yang dikuasai oleh segelintir manusia super kaya yang mengontrol hayat ratusan juta kawula yang berpendidikan rendah dan hidup dalam keadaan ekonomi yang Senin-Kamis, politisi boneka dengan perilaku permisif akan tumbuh menjamur, ambisius, dan tak akan berpikir panjang untuk bekerjasama dengan siapa saja asal kekuasaannya bisa langgeng. Bagi mereka masa depan bangsa adalah kata-kata bullshit. Mereka menjadi politisi dengan memalsukan ijazah atau membeli surat-surat penyetaraan pendidikan melalui institusi-istitusi negara yang para pegawainya akan bekerja cepat bila di dalam map dokumen-dokumen yang akan diproses diselipkan amplop. Di level bawah, para lowbrow bromocorah politik lokal yang suka loncat sana loncat sini dan suka maota (ngobrol ngalor ngibul) dari satu lepau kopi ke lepau kopi lainnya akan memperoleh peluang ‘kerja’ dan mendapat kesempatan memakai jas dan bergaya parlente bolak balik ke Jakarta.
Sebuah dinasti politik tentu memerlukan partai politik sebagai kendaraan politiknya. Jika keturunan Sukarno memiliki partai PDI Perjuangan dan Suharto dan keturunannya asosiatif dengan Partai Golkar, maka Jokowi alias Mulyono terkesan juga tak mau kalah. Tampaknya dia juga ingin melanggengkan kekuasaan keluarganya dengan menyiapkan sebuah partai sebagai kendaraan politik mereka. Dan kini kian nyata terlihat bahwa partai yang disiapkan untuk kendaraan politik “Dinasti Solo’ ini adalah PSI.
Kini PSI boleh dibilang identik dengan keluarga Jokowi. Bukankah dalam penjelasan tentang ideologi partai ini sebutnya istilah “Jokowisme”. Ini terkesan semacam istilah tandingan terhadap ‘-isme’ yang dilekatkan kepada bos dua dinasti Jawa sebelumnya: “Sukarnoisme” dan “Suhartoisme”. Mungkin banyak orang berharap akan dapat melihat sebuah pemikiran besar dan baru di balik istilah “Jokowisme” itu. Tapi bersiap-siaplah untuk kecewa karena yang akan ditemukan hanyalah upaya kanonisasi budaya ngibul dan berbohong.
Meski belum resmi memegang posisi tertentu dalam keorganisasian PSI (sempat diisukan akan menjadi Penasihat Umum partai itu), Jokowi sudah melakukan cawe-cawe yang kian tak terkendali untuk mendukung partai yang diketuai anaknya itu. Yang terbaru adalah keikutsertaaanya dalam Kongres PSI di Makassar pada 29-31 Januari 2026. Dalam kondisi tubuh yang membengkak dan melepuh dari dalam seperti terkena beri-beri, Jokowi datang ke Makassar, disambut dengan demo oleh warga Tanah Bugis.
Dalam pidatonya yang mendekati trance di kongres itu, Mulyono berkata: “Kalau diperlukan, saya harus datang, saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke porvinsi-provinsi, semua provinsi. Saya masih sanggup datang ke kabupaten-kota. Saya masih sangup, saya masih sanggup. Kalau perlu sampai ke kecamatan, saya masih sanggup. Kita ini kan punya 38 provinsi, 514 kabupaten kota, dan kira-kira 7.000 kecamatan, saya masih sanggup.” Seolah tak kalah garang dari ayahnya, Kaesang pun berkata: “Saya akan peras darah saya untuk PSI”. Tak ayal, netizens memberikan sentilan lagi kepada Jokowi: datang ke provinsi-provinsi, kabupaten-kota-kabupaten kota, dan kecamatan-kecamatan yang jauh sanggup, tapi giliran datang ke pengadilan yang dekat saja untuk memperlihatkan ijazah aslinya tak sanggup, dengan alasan sakit, meriang, dan tak enak badan.
Indonesia sedang menghadapi masa sawang-sinawang politik yang mengkhawatirkan. Sebuah keluarga yang super ambisius, walau dengan kapasitas intelektual cekak, ingin menjinjing tampuk negeri. Hal ini dengan mudah bisa terwujud di bawah dirigen para perampok kekayaan alam Indonesia yang sudah mempertuhan uang. Mesin uang mereka yang tak pernah mati akan menderaikan ‘biji jagung’ dimana-mana, menimpa ubun-ubun kaum miskin, membutakan mata dan menulikan telinga mereka. Sementara para buzzer-nya akan memproduksi wacana berlapis dan masif di media sosial untuk menyesatkan generasi Zet yang memegang HP 24 jam sehari dan cenderung mau hidup enak kapenak saja tanpa harus bekerja keras.
Pemilu masih lama (2029), tapi PSI kelihatan sudah kemrungsung, sudah tak sabar ingin berkuasa. Kongres mereka di Makassar minggu lalu adalah rangkaian dari kegiatan partai ini yang menunjukkan contoh nyata dari ambisi mereka yang tampaknya sangat haus kekuasaan. Dalam pertemuan-pertemuan itu tak terdengar pembicaraan konstruktif yang bernas dan visioner (misalnya tentang rancangan-rancangan program partai ini untuk masa depan bangsa Indonesia) selain hanya pekikan-pekikan yang penuh busa hitam tapi kosong, sebagaimana sudah dikutip di atas.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika berbagai kepanjangan plesetan diberikan oleh netizens kepada PSI: “Partai Sesat Indonesia”; “Partai Sempak Indonesia”, “Partai Sampah Indonesia” dan; “Partai Sengketa Ijazah”.
Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa Reformasi politik Indonesia yang telah meruntuhkan Rezim Suharto berputar tajam 360 derajat seperti yang dialami bangsa Indonesia kini. It seems that Indonesian Reformation is going in the wrong direction. Sejak 10 tahun terakhir, korupsi mewabah dan kian masif dipraktekkan di semua lini dan level institusi negara. Sejak hadirnya Dinasti Jawa yang ketiga ini, keadaan Indonesia kian parah. Menyitir Said Didu, hampir semua kedaulatan Indonesia, politik, ekonomi, hukum, dll., sudah tergadai atau terjual. Pemerintah Indonesia hanya menjadi boneka dari sekelompok orang yang memiliki kekuasaan ekonomi tanpa batas.
Kini dan ke depan, hidup lebih dari 287 juta rakyat sebuah negeri kepulauan tropis menghadapi keadaan yang kian sulit. Tanpa persatuan dan kewarasan berpikir, hal-hal yang paling buruk bisa saja terjadi. Dan, bercermin dari sepak terjang Mulyono dan anggota keluarganya selama ini, sebenarnya the Archipelago sedang mempertaruhkan masa depannya dengan kehadiran Partai Sontoloyo Indonesia yang kian dikuasai oleh Mulyono Gank ini.[ ]
Leiden, 4 Februari 2026
* Esai ini juga dipublikasikan di blog https://niadilova.wordpress.com.