Terpikat Kung Fu, Bertahan karena Budaya: Kisah Jake Pinnick di Pegunungan Wudang

Minggu, 15/02/2026 18:42 WIB
mani

mani

Beijing, sumbarsatu.com – Serial dokumenter My China Story yang diproduksi oleh People's Daily menyoroti kisah inspiratif warga asing yang membangun kehidupan dan karier di Tiongkok. Salah satu episode paling menarik perhatian publik internasional adalah kisah seniman bela diri asal Amerika Serikat, Jake Pinnick.

Dokumenter dua musim ini menampilkan total 10 tokoh dari berbagai negara dengan latar belakang profesi berbeda. Musim pertama menghadirkan pengusaha teknologi Nikk Mitchell, ahli zoologi Kevin Messenger, ahli keramik Matt Watterson, serta perancang sepeda motor Rodrigo Álvarez.

Sementara musim kedua menampilkan Neil Schmid, Jean Bottazzi, Anton Butov, serta Jake Pinnick—yang kisahnya paling banyak ditonton di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan X.

Datang Tanpa Bahasa, Bertahan karena Filosofi

Lahir pada 1990-an di Amerika Serikat, Pinnick datang ke Tiongkok pada 2010 dengan satu tujuan: mendalami seni bela diri dan Taoisme. Tanpa kemampuan bahasa Mandarin dan tanpa pengalaman bela diri, ia tiba di kaki Pegunungan Wudang hanya bermodal kamus dan secarik catatan bertuliskan keinginannya untuk belajar.

Di kawasan yang dikenal sebagai pusat tradisi Taoisme itu, Pinnick memulai perjalanan panjangnya. Ia mempelajari Tai Chi, berbagai teknik senjata tradisional, serta mendalami filsafat Tao melalui kitab klasik Tao Te Ching. Selain latihan fisik, ia juga mempelajari musik Taois dan menjalani disiplin keras kehidupan perguruan.

Dalam berbagai kesempatan, Pinnick mengaku bahwa dukungan “keluarga kung fu”-nya membantu ia melewati masa-masa sulit, termasuk kerinduan terhadap kampung halaman.

Pengakuan Resmi dari Tiongkok

Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidupnya. Pada April, ia menerima Kartu Identitas Penduduk Tetap Asing Tiongkok—dikenal sebagai “Kartu Bintang Lima”. Sebulan kemudian, ia dinobatkan sebagai Warga Kehormatan Kota Shiyan, sebuah pengakuan atas dedikasinya selama lebih dari 16 tahun menetap dan berkontribusi di wilayah tersebut.

Selama lebih dari satu dekade, Pinnick juga menyaksikan transformasi infrastruktur Tiongkok, dari akses kereta lambat menuju jaringan kereta cepat dan bandara modern yang kini menghubungkan wilayah itu dengan dunia internasional.

Kini, Pinnick aktif membagikan pengalaman dan filosofi Wudang kepada audiens global melalui media sosial dan pertunjukan langsung. Ia memandang seni bela diri bukan sekadar teknik pertarungan, melainkan sarana membangun kedisiplinan, kedamaian batin, dan koneksi lintas budaya.

“Awalnya saya datang untuk seni bela diri, tetapi saya tinggal karena budaya dan sejarahnya,” ujarnya dalam dokumenter tersebut.

Melalui kisahnya, My China Story tidak hanya menampilkan perjalanan personal seorang warga asing, tetapi juga menggambarkan dinamika pertukaran budaya yang semakin intens antara Tiongkok dan dunia. ssc/mn



BACA JUGA