occ
New York, sumbarsatu.com--Sebuah pidato di lantai Kongres Amerika Serikat tiba-tiba mengubah hidup beberapa warga New York. Nama mereka disebut sebagai sosok “berpengaruh” yang diduga terkait dengan mendiang pemodal dan terpidana kasus perdagangan seks, Jeffrey Epstein. Dalam hitungan jam, foto dan identitas mereka beredar luas di internet.
Dua anggota Kongres AS, Ro Khanna dan Thomas Massie, mengumumkan enam nama pria yang menurut mereka sebelumnya disensor secara keliru oleh Departemen Kehakiman AS dalam berkas Epstein. Penyebutan itu dilakukan dalam konteks tuntutan transparansi atas jutaan dokumen yang dirilis pemerintah.
Sebagian nama memang telah lama dikenal publik sebagai rekan Epstein, termasuk Leslie Wexner dan Sultan Ahmed bin Sulayem. Namun, beberapa nama lain justru mengarah pada orang-orang yang tampaknya jauh dari lingkaran elite global.
Tiga di antaranya, berdasarkan penelusuran OCCRP dan mitra medianya, adalah seorang mekanik, seorang profesional teknologi informasi, dan seorang pelaku usaha perbaikan rumah di wilayah New York. Tidak ditemukan catatan kejahatan serius maupun keterlibatan mereka dalam perkara besar.
“Saya Tidak Pernah Bertemu Epstein”
Zurab Mikeladze, seorang mekanik mobil yang telah tinggal di Amerika Serikat selama hampir tiga dekade, mengaku terkejut ketika namanya disebut di Kongres. Foto wajahnya muncul dalam salah satu dokumen yang telah disunting sebagian.
“Saya menonton pidato seorang anggota kongres, dan nama saya disebut,” ujarnya kepada wartawan. Ia mengaku tidak pernah bertemu Epstein dan baru mengetahui sosok tersebut dari pemberitaan tentang kematiannya di penjara pada 2019.
Nama Mikeladze hanya tercatat sekali dalam dokumen pengadilan New York, sebagai penggugat dalam perkara asuransi kecil pada 2001. Ia kini mencoba mencari tahu bagaimana fotonya bisa masuk ke dalam berkas tersebut.
Nama lain yang disebut adalah Leonid Leonov, seorang profesional teknologi informasi. Anggota Kongres bahkan salah mengeja namanya saat mengumumkannya. Leonov juga menyatakan keterkejutannya ketika dihubungi wartawan.
Salvatore Nuara, yang menjalankan usaha perbaikan rumah di Queens, mengalami hal serupa. Ia mengaku tidak memahami mengapa namanya tercantum sebagai sosok “berpengaruh” dalam konteks berkas Epstein.
Pengungkapan sekitar 3,5 juta dokumen Epstein dilakukan setelah tekanan publik dan proses hukum panjang, termasuk dorongan politik dari Presiden Donald J. Trump. Namun, rilis dokumen tersebut juga memunculkan perdebatan tentang penyensoran dan potensi salah identifikasi.
Khanna menyatakan bahwa nama-nama itu seharusnya tidak disensor dan publik berhak mengetahui isinya, kecuali untuk melindungi para penyintas. Massie, melalui media sosial, mengakui kemungkinan adanya orang dengan nama yang sama dan menegaskan bahwa tidak semua individu dengan nama serupa adalah orang yang sama.
Departemen Kehakiman AS mempertahankan penyensoran tertentu demi melindungi korban dan mencegah dampak terhadap proses hukum yang masih berjalan.
Kasus Epstein sendiri berakhir tragis. Ia ditangkap pada Juli 2019 atas tuduhan menjalankan jaringan perdagangan seks dan ditemukan meninggal di sel penjaranya di New York sebulan kemudian. Laporan resmi menyebut kematiannya sebagai bunuh diri.
Di tengah tuntutan transparansi dan desakan politik, kisah para warga biasa ini menunjukkan sisi lain dari pembukaan dokumen besar-besaran: risiko reputasi yang hancur dalam sekejap akibat nama yang kebetulan sama atau konteks yang belum sepenuhnya jelas.
Bagi mereka, pidato politik itu bukan sekadar perdebatan soal keterbukaan. Ia menjadi pengalaman personal yang mengubah hidup—setidaknya untuk sementara—di ruang publik digital yang tak mengenal jeda.ssc/mn
>Sumber: https://www.occrp.org/