Tertinggal tapi Tidak Hilang

Selasa, 27/01/2026 04:43 WIB

OLEH Alfitri--Departemen Sosiologi FISIP Unand

 

SABTU subuh tanggal 17 Januari 2026 naik kereta bandara KLIA Ekspres dari Kuala Lumpur, isteri dan anak saya turun di KLIA1. Mereka akan terbang langsung ke Jakarta dengan maskapai Transnusa. Saya sendiri turun di KLIA2, karena akan ke Singapura dengan Airasia.

Subuh itu, aktivitas bandara sudah dimulai dan ramai. Setelah melakukan self check-in, saya menunaikan shalat subuh di mushala bandara. Suasana hening dan tertib memberi kesan yang menenangkan. Fasilitas modern dan wajah-wajah orang dari berbagai bangsa membuat atmosfir KLIA2 sebagai bandara internasional kuat terasa.

Selesai beribadah, saya tidak langsung menuju ruang tunggu. Waktu masih cukup longgar, sehingga saya memutuskan berkeliling bandara untuk mencari oleh-oleh. Di luar dugaan, sepagi itu beberapa toko sudah buka, melayani penumpang yang mungkin memiliki kebiasaan serupa, memanfaatkan waktu dini hari untuk persiapan terakhir sebelum terbang.

Setelah membeli beberapa oleh-oleh, saya menentengnya dalam sebuah goodie bag kertas. Tas itu tidak besar, namun cukup mencolok karena berisi barang belanjaan. Dengan perasaan lega karena satu urusan sudah beres, saya melangkah menuju toilet sebelum memasuki area imigrasi.

Usai dari toilet, saya duduk sejenak di kursi bandara, mengistirahatkan badan dan menikmati ritme pagi yang perlahan semakin ramai. Penumpang lalu-lalang, pengumuman penerbangan terdengar bersahutan, dan saya tenggelam dalam pikiran sendiri selama kurang lebih lima belas menit.

Ketika hendak masuk ke ruang imigrasi, mendadak pikiran saya tersentak. Mana tas oleh-oleh? Ingatan saya berputar cepat, dan jantung seolah berdetak lebih kencang. Untung teringat, tas itu tertinggal di toilet. Tanpa menunda, dengan langkah tergesa saya segera kembali ke arah toilet.

Di dalam benak, berbagai kemungkinan bermunculan. Tas itu bisa saja sudah diambil orang, dipindahkan petugas, atau bahkan dianggap benda mencurigakan. Namun begitu sampai di toilet, pandangan saya langsung tertuju ke tempat semula. Di sana, tas oleh-oleh itu masih ada tanpa bergeser sedikit pun.

Saya mengambil tas itu dan mengucapkan terima kasih kepada petugas yang ada di sana. Ia membalas dengan senyum, tanpa sedikit pun curiga bahwa saya memang adalah pemilik yang sebenarnya dari tas itu.

Saya terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Rasa syukur muncul begitu kuat, bercampur dengan kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dalam situasi sesibuk bandara internasional, keutuhan barang yang tertinggal bukanlah hal yang selalu bisa diharapkan.

Pengalaman sederhana ini menumbuhkan kekaguman tersendiri terhadap sistem keamanan dan budaya tertib di bandara tersebut. Bukan hanya soal kamera pengawas atau petugas yang cakap, tetapi juga tentang kesadaran bersama bahwa ruang publik adalah ruang yang harus dijaga kepercayaannya.

Survai pengalaman pengunjung Skytrax World's Airport 100 2025, melaporkan bahwa KLIA ini adalah peringkat 65 terbaik dari seluruh bandara di dunia (csulfinance.com, 28/04/2025). Saya membatin, jika KLIA yang peringkat ke 65 saja dapat seperti itu, tentu bandara Soetta yang menempati peringkat 25 jauh lebih baik lagi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa rasa aman bukan sesuatu yang hadir begitu saja, melainkan hasil dari disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab banyak pihak. Selain dari petugas, tentu juga dari sesama pengunjung atau penumpang.

Di tengah kekhawatiran akan hilangnya barang di tempat umum, pagi itu saya dapat membawa oleh-oleh, dan sebuah pelajaran kecil tentang kepercayaan dan rasa syukur.*



BACA JUGA