OLEH Sirajul Fuad Zis, M. I. Kom (Mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas)
CUACA ekstrem serta adanya peringatan hidrometeorologi di Sumatera Barat menandakan adanya ancaman bencana banjir, longsor, galodo (banjir bandang). Komunikasi kebencanaan merupakan sebuah solusi yang perlu dilakukan sebagai proses mitigasi timbulnya korban jiwa serta misinformasi.
Kajian kebencanaan, terlebih pada komunikasi kebencanaan memerlukan informasi yang jelas, akurat dan faktual. Karena berkaitan dengan sisi keselamatan jiwa.
Mitigasi risiko terhadap korban jiwa, merupakan sisi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan dalam sebuah bencana. Komunikasi kebencanaan yang melibatkan lintas sektor akan banyak menerima informasi yang tidak jelas dan membias.
Maka dari itu, untuk menekankan mitigasi risiko. Memerlukan komunikasi yang efektif baik itu mulai dari masyarakat perlu memberikan info yang jelas. Begitu juga bagi pemerintah, dapat memberikan informasi yang jelas dan mengedukasi apa saja yang dilakukan oleh masyarakat ketika menghadapi bencana.
Mengapa mitigasi risiko dengan pendekatan ini penting? karena dapat membantu mengurangi jumlah korban jiwa terdampak.
Setidaknya dengan informasi yang jelas, proses kesiapsiagan terhadap bencana dapat dilakukan.
Fokusnya adalah pada mitigasi jumlah korban, jika info yang benar sudah diberikan dengan jelas. Persiapan juga dilakukan oleh masyarakat yang akan terdampak bencana.
Hal seperti ini sudah dipraktekkan oleh Press Release BMKG Minangkabau. Sebuah rilis yang dapat membantu kewaspadaan masyarakat untuk tetap waspada
Semestinya akun-akun resmi pemerintah di tingkat regional sudah ada berisi konten yang dapat dipedomani oleh citizen (masyarakat digital). Bukan sekedar unjuk kepedulian kepala daerah semata.
Pribadi kepala daerah disorot atas bentuk kepedulian sah-sah saja, meskipun ada niat untuk kepentingan kredibilitas. Namun moral hazard nya perlu juga disesuaikan dengan konteks lokal.
Poinnya adalah komunikasi kebencanaan sebagai alat vital untuk mengkoordinasikan secara efektiv peristiwa yang terjadi, kemudian ditanggapi secara cepat oleh pihak berwenang menangani. bencana, di daerah yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
BPBD juga tidak bisa kerja sendiri, ada komunikasi dengan stakeholders yang perlu dilakukan. Maka demikian skill komunikasi kebecanaan perlu dipahami oleh lintas sektor.
Saat ini Sumatera Barat di berbagai wilayah mengalami bencana banjir, longsor, yang mengakibatkan infrastruktur dan sejumlah jembatan terbawa arus.
Begitu juga ada rumah warga yang sudah tenggelam, ada yang rumahnya terbawa arus karena derasnya air banjir.
Secara logis, tidak mungkian semua informasi dapat diakses pemerintah karena signal saat bencana pun menjadi masalah.
Komunikasi kebencanaan sesama masyarakat sangat dibutuhkan untuk tolong menolong, gotong royong dalam misi kemanusiaan.
Kita tumbuh bersama, melakukan mitigasi risiko penyelamatan nyawa korban sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Lampu Mati, Jaringan Internet Berkomunikasi Putus
Signal dalam berkomunikasi sangat penting untuk koordinasi. Namun saat urget, komunikasi secara digital terputus karena lampu mati dan jaringan internet tidak tidak ada. Seorang orang minang mengungkapkan "kalau ndak ado signal ko, yo putui hubungan".
Kalau tidak ada sinya, hubungan komunikasi jarak jauh tidak dapat dilakukan. Bagaimana dan apa yang harus dilakukan, kita perlu saling berkomumikasi saling menguatkan sesama dengan saudara kita yang terdekat dari rumah untuk cari solusi.
Menjaga komunikasi dengan tetang menjadi kunci dalam komunikasi. Berbuat baik sesama saat bencana meruoakan romantisme sosial yang pernah ada.
Menjadi pilar sosial dalam pembangunan berkelanjutan, berkomunikasi saat krisis terjadi.*