Dokter Tifa: Saya Tak Akan Pilih Jalan Kompromi

Selasa, 17/03/2026 13:01 WIB
Tifauzia Tyassuma atau dikenal dengan Dokter Tifa

Tifauzia Tyassuma atau dikenal dengan Dokter Tifa

Jakarta, sumbarsatu.com — Dokter sekaligus pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau dikenal dengan Dokter Tifa menyampaikan sikap tegasnya terkait dinamika terbaru yang melibatkan Rismon Hasiholan Sianipar dan mantan Presiden Joko Widodo.

Dalam pernyataan reflektif yang disampaikan di tengah suasana sepuluh hari terakhir Ramadan, DokterTifa mengaku memilih menarik diri sementara dari berbagai aktivitas publik untuk fokus pada ibadah. Namun demikian, ia tetap mengikuti perkembangan isu nasional, termasuk langkah Rismon yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo.

Tifa menyatakan penyesalannya atas langkah tersebut. Ia menegaskan tidak berada pada posisi yang sama dan tidak akan memilih jalan kompromi dalam menghadapi persoalan yang ia anggap menyangkut kebenaran.

“Saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti itu,” tulis Dokter Tifa pada akun sosial medianya, Selasa (17/3/2026).

Menurutnya, tekanan dalam dinamika kekuasaan tidak selalu tampak secara kasat mata. Selain ancaman langsung, tekanan juga bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus seperti bujukan, iming-iming, hingga kompromi yang perlahan menggerus keberanian dan akal sehat.

Ia juga menyinggung berbagai isu yang beredar terkait Rismon, termasuk polemik ijazah dan persoalan pribadi lainnya, sebagai beban yang tidak ringan bagi siapa pun. Meski demikian, Tifauzia mengaku memahami bahwa tidak semua orang mampu menghadapi tekanan tersebut sendirian.

Dalam pernyataannya, ia mengungkap bahwa dirinya memiliki kedekatan personal dengan Rismon dan mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, serta memiliki kapasitas analitis yang kuat di bidangnya. Karena itu, langkah yang diambil Rismon dinilainya tidak mencerminkan karakter yang selama ini ia kenal.

Namun, kekecewaannya terbesar justru diarahkan kepada mantan Presiden Joko Widodo dan lingkar kekuasaan di sekitarnya. Ia menilai respons terhadap polemik yang berkembang, khususnya terkait isu ijazah, dilakukan dengan cara-cara yang merusak reputasi dan menekan individu.

Ia juga menyinggung kasus lain yang dinilai memiliki pola serupa, seperti yang dialami Bambang Tri dan Gus Nur.

“Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat, bukan menjadi alat untuk membungkam suara,” tegasnya.

Meski menyampaikan kritik keras, Dokter Tifa menekankan bahwa dirinya tidak ingin larut dalam kemarahan. Momentum Ramadan, menurutnya, menjadi ruang untuk menahan diri, menjaga kejernihan hati, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

Ia memastikan akan tetap melanjutkan apa yang ia sebut sebagai perjuangan untuk kebenaran, meski harus menghadapi tekanan dan kesunyian.

“Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup,” tegas lulusan Fakultas Kedokteran UGM (S1) dan pernah menempuh studi doktoral di Universitas Indonesia (UI).ssc/mn

 



BACA JUGA