SAYA jamin mata Anda akan basah. Setidaknya lembab, mendapati keadaan dan mendengar cerita pilu Deni Sofyan dan keluarganya. Deni hampir sepantaran saya. Usianya sudah 52 tahun. Saya sedikit di atasnya.
Sudah sekitar 1,5 tahun Deni terduduk di kasurnya yang lusuh. Badannya sangat kurus. Tulang kedua kaki dan tangannya kelihatan menonjol. Deni hanya bisa duduk dan tidur saja. Berdiri tidak bisa, kecuali ada yang membantunya.
Sejak 1,5 tahun itu, Deni bapak 5 anak itu menderita kanker paru. Sudah stadium lanjut. Sejak itu pula Deni tidak bisa berkontribusi apa-apa terhadap keluarganya.
Istrinya yang berjuang menyambung hidup. Ya, Mazni istri Deni mengambil alih kendali hidup keluarga mereka. Mazni berusia 10 tahun lebih muda dari suaminya. Sekarang usianya 42 tahun. Sebagai tulang punggung pengganti keluarga, Mazni bukan tanpa cobaan. Kesehatannya juga sedang terganggu.
Tidak hanya 1, Mazni justru mengalami 2 masalah kesehatan sekaligus. Sudah 14 tahun Mazni menderita tiroid. Suaranya sudah mulai mengecil karena sakit leher besar itu.
Sakitnya yang satu lagi juga bukan sakit biasa. Sudah 7 tahun Mazni mengalami penyumbatan di jantungnya. Sebab itu, Mazni tidak boleh lelah benar dalam bekerja. Hatinya saja yang dikeraskannya. Bagaimana lagi: pencalang hidup harus tetap digerak-gerakkan menuju pulau-pulau terdekat yang hendak dituju.
Sewa rumah harus dibayar. Token listrik harus diisi dari minggu ke minggu. Tagihan ledeng harus pula dilunasi. Belanja anak-anak harus tetap dicarikan. Ongkos carteran mobil untuk membawa pulang-pergi suaminya kontrol ke Rumah Sakit Unand di Limau Manih harus pula didapatkan.
Berjualan goreng-gorengan adalah jalan penyambung hidup yang sekarang dipilih Mazni. Tahu goreng, bakwan dan pisang goreng diantarkannya setiap hari ke kedai-kedai dekat rumah. Sistemnya titip jual, bukan beli putus: berapa yang habis, itulah pembayaran yang diterimanya dari orang kedai.
Satu gorengan diletakkannya Rp. 800 ke orang kedai. Rata-rata Mazni bisa menjual 70 gorengan setiap hari. Dengan hitungan rata-rata itu, berarti Mazni membawa pulang Rp. 56.000 setiap harinya. Dalam sebulan, uang yang bisa didapatkannya Rp. 1.680.000. Itupun jumlah rata dengan hitungan Rp. 56.000 X 30 hari. Uang sebanyak itulah yang dihemat-hematkan Mazni untuk menghidupi 7 orang anggota keluarganya, termasuk dirinya.
Uang itu harus bisa menutup sewa rumah 500/bulan dan kebutuhan lainnya dari bulan ke bulan. Mazni sering tekor. Berhutang ke tetangga dan pemilik rumah jalan keluarnya. Sekarang Mazni sedang berhutang ke tetangganya sebanyak Rp. 4.000.000. Tidak hanya itu, hutang beras juga ada.

Mazni istri Deni bersama anak-anaknya
Kelima anaknya belum bisa benar diharapkan membantu ekonomi keluarga. Anak tertua mereka, Siti Fatimah, sudah berusia 20 tahun. Tidak tamat SMP. Sekarang menganggur alias tidak ada pekerjaan.
Siti Sarah anak kedua mereka. Berusia 16 tahun. Sempat bersekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta. Sejak beberapa tahun yang lalu sudah putus sekolah. Pekerjaan juga tidak ada.
Anak yang ke 3 bernama Aina Nursifa. Umurnya 10 tahun. Sekarang sedang bersekolah di SD Negeri 20 Kurao Pagang, kelas 2. Adiknya satu sekolah dengannya. Namanya Khairunisa (7 tahun), kelas 2.
Hafika Putri Handayani adalah anak bungsu Deni dan Mazni. Berusia 3,5 tahun. Anak kecil itu nampak belum paham atas beban berat yang dihadapi ibu, bapak dan kakak-kakaknya.
Saya yang diajak sahabat saya Melqi Hamdani mengunjungi keluarga Deni sore diakhir Ramadan (Selasa, 9 April 2024) itu tak kuasa menahan sedih. Mata saya lembab. Saya berusaha menahan agar tidak basah. Melqi nampaknya juga mengalami hal yang sama. Saya dengar beberapa kali Melqi tersedak ketika berbincang dengan keluarga malang itu.
Mata saya lembab karena tidak tahan melihat Deni, kepala keluarga yang tak berdaya itu, yang nyaris menangis tanpa suara sepanjang kunjungan kami sore itu. Deni bukan tidak mau mengeluarkan suara sedihnya. Karena sakitnya, Deni hanya bisa mengeluarkan air mata.
Saya dan Melqi beserta vidiografer cilik Khalif mengunjungi Deni di Kampung Pulau Batam Nanggalo sore itu menyampaikan partisipasi donasi kawan-kawan. Melqi menggalang donasi untuk Deni dan keluarganya. Dalam waktu singkat, sebanyak Rp. 5.000.000 terkumpul. Donasi masih sedang berjalan.
Cerita sedih yang dialami keluarga Deni mungkin juga terjadi di sudut-sudut kota yang lain. Di tengah masyarakat urban yang sibuk, ada warga kota yang sedang berjuang memperpanjang hidup mereka.
Mereka menuggu partisipasi warga kota. Sekarang, Anda yang berezeki cukup dan tergerak berpartisipasi membantu mengurangi beban hidup Deni dan keluarganya bisa menyalurkannya melalui Rang Mudo Palito Pendidikan Bank Syariah Indonesia nomor rekening 7142615228.
Mari bersama mengurangi beban hidup mereka.
Ditulis oleh Miko Kamal
Padang, 10 April 2024/1 Syawal 1445 H
