OLEH Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si (Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
"We must look to the children as a vehicle for bringing change to humanity." - Maria Montessori
MARIA MONTESSORI, seorang ilmuan dan sekaligus seorang pendidik dengan latar belakang dokter menyatakan bahwa anak-anak adalah kendaraan perubahan bagi kemanusiaan. Hal ini mengingatkan kita bahwa masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh Pembangunan secara fisik saja. Namun, masa depan peradaban ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuk sejak awal kehidupannya.
Di balik setiap pemimpin yang berintegritas, ilmuwan yang inovatif, guru yang menginspirasi, maupun warga negara yang bertanggung jawab, terdapat sebuah keluarga yang berperan sebagai institusi sosial dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Oleh karena itu, membangun keluarga sesungguhnya adalah membangun bangsa. Bahkan lebih jauh lagi, membangun keluarga berarti membangun peradaban. Maka, keluarga merupakan titik Awal pembangunan manusia
Dalam berbagai kajian, keluarga dipandang sebagai lingkungan pertama yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Anak pertama kali mengenal dunia bukan melalui sekolah, media sosial, ataupun lingkungan kerja, melainkan melalui keluarganya. Di dalam keluarga mereka belajar tentang cinta, kepercayaan, tanggung jawab, disiplin, empati, spiritualitas, hingga cara menyelesaikan konflik. Dengan demikian, tidak berlebihan apabila keluarga sering disebut sebagai sekolah kehidupan pertama bagi seorang anak.
Namun realitas sosial saat ini menunjukkan bahwa keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial yang cepat, urbanisasi, tekanan ekonomi, revolusi digital, fenomena fatherless, meningkatnya gangguan kesehatan mental, menurunnya kualitas interaksi keluarga, hingga melemahnya fungsi pengasuhan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama.
Oleh karena itulah pembangunan keluarga tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan privat semata, melainkan menjadi agenda strategis pembangunan nasional. Dalam perspektif pembangunan saat ini, keberhasilan suatu bangsa tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kualitas manusianya.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) melalui berbagai kebijakan pembangunan keluarga menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Paradigma tersebut sangat penting karena keluarga merupakan titik temu antara pembangunan kependudukan dan pembangunan manusia. Keluarga menjadi tempat lahirnya generasi, tempat berlangsungnya pengasuhan, pendidikan karakter, perlindungan, serta transfer nilai-nilai sosial dan budaya. Melalui pendekatan pembangunan keluarga, negara hadir untuk memperkuat kapasitas keluarga agar mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara optimal, yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Delapan fungsi keluarga sebagai dasar yang menentukan kualitas generasi masa depan.
Ketika fungsi-fungsi keluarga berjalan dengan baik, maka keluarga akan melahirkan anak-anak yang sehat, cerdas, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. Sebaliknya, ketika fungsi keluarga melemah, berbagai persoalan sosial akan muncul dan berdampak lintas generasi.
Kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memandang pendidikan sebagai proses yang dimulai ketika anak memasuki sekolah. Padahal pendidikan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum itu, yaitu sejak masa pra-konsepsi, kehamilan, kelahiran, hingga pengasuhan pada seribu hari pertama kehidupan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan fisik dan psikologis orang tua, khususnya ibu selama kehamilan, berpengaruh terhadap perkembangan otak, kecerdasan, kesehatan emosional, dan kualitas hidup anak di masa depan. Dengan demikian, investasi terbaik terhadap generasi masa depan dimulai dari keluarga yang siap secara fisik, mental, sosial, dan ekonomi untuk menjalankan peran pengasuhan. Inilah sebabnya pembangunan keluarga menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Meskipun saat ini tidak ada sekolah formal yang secara khusus mengajarkan seseorang menjadi ayah atau ibu yang sempurna. Namun kualitas pengasuhan orang tua akan sangat menentukan kualitas kehidupan anak. Ayah dan ibu merupakan pendidik pertama yang membentuk karakter anak melalui keteladanan sehari-hari. Ibu berperan sebagai sumber kasih sayang, penguatan emosional, dan motivasi. Kehangatan seorang ibu membantu anak membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Sementara itu, ayah berperan sebagai figur teladan yang menunjukkan nilai-nilai tanggung jawab, keberanian, disiplin, integritas, dan kepemimpinan.
Dalam konteks pembangunan keluarga saat ini, keterlibatan ayah menjadi isu yang semakin penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang aktif dalam pengasuhan berkontribusi terhadap kesehatan mental, prestasi belajar, kemampuan sosial, serta pembentukan karakter anak. Gerakan penguatan peran ayah yang saat ini terus dikembangkan oleh Kemendukbangga/BKKBN menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan meningkatnya fenomena fatherless yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal tersebut memberikan arti bahwa pentingnya untuk kedua orang tua memiliki pendidikan yang baik dan setinggi mungkin.
Dengan tujuan, agar memiliki pengetahuan terhadap pola asuh yang efektif harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan manusia. Pada fase pengembangan diri individu, anak membangun fondasi fisik, kognitif, emosional, moral, dan spiritualnya. Pada fase perkembangan sosial, anak belajar hidup bersama orang lain, memahami aturan sosial, membangun empati, dan mengembangkan kemampuan berinteraksi.
Pada fase awal dewasa, individu mulai menentukan arah hidup, memilih pendidikan, pekerjaan, pasangan hidup, serta membangun identitas dirinya. Selanjutnya memasuki fase kontribusi dan regenerasi, yaitu ketika seseorang mulai memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa serta mewariskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Pemahaman terhadap tahapan ini sangat penting agar orang tua tidak memberikan tuntutan yang melampaui kapasitas perkembangan anak maupun remaja.
Satu hal yang sangat esensial adalah pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran yang diajarkan beberapa jam dalam seminggu. Pendidikan karakter merupakan proses yang berlangsung setiap hari melalui interaksi dalam keluarga. Seperti halnya, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, disiplin, empati, gotong royong, dan integritas tumbuh melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Karakter merupakan modal sosial yang sangat berharga. Bangsa yang kuat membutuhkan warga negara yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral.
Pendidikan selain berorientasi pada kecerdasan akademik. Anak juga membutuhkan landasan spiritual yang kuat agar memiliki arah dan makna dalam kehidupannya. Nilai-nilai agama mengajarkan tanggung jawab, kejujuran, kasih sayang, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Demikian pula pendidikan seksual yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan. Pendidikan seksual bagi anak bukan mengajarkan hubungan seksual orang dewasa, melainkan mengenalkan tubuh mereka, menjaga kebersihan organ reproduksi, memahami batasan privasi, menghormati diri sendiri, serta melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual. Dengan pemahaman yang benar, anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai dirinya sendiri dan orang lain.
Indonesia saat ini sedang berada pada masa bonus demografi yang menjadi peluang besar sekaligus tantangan. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila diisi oleh sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan berkarakter. Oleh karena itu, pembangunan keluarga harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa.
Peran dan fungsi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN sesungguhnya menyiapkan fondasi lahirnya generasi unggul yang akan menentukan masa depan Indonesia. Keluarga yang kuat akan melahirkan anak-anak yang tangguh. Anak-anak yang tangguh akan membentuk masyarakat yang berkualitas. Masyarakat yang berkualitas akan melahirkan peradaban yang maju.
Sebagaimana diyakini Maria Montessori, masa depan kemanusiaan sesungguhnya sedang dipersiapkan hari ini melalui anak-anak yang tumbuh dari rumah-rumah, maka membangun keluarga tidak hanya urusan domestik. Membangun keluarga adalah investasi peradaban. Membangun keluarga adalah membangun Indonesia. Dan membangun anak-anak hari ini berarti sedang menyiapkan wajah bangsa pada masa depan.*