Mahasiswa di asrama kampus yang kebersihannya terus dijaga dengan dipsiplin tinggi> foto ivan adilla
OLEH Ivan Adilla (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, FIB Unand)
Wanita itu selalu datang pada pukul enam tiga puluh pagi. Ia berjalan dengan langkah teratur menuju apartemen. Pakaian yang disenanginya adalah yang berwarna terang cerah; biru, merah muda, atau coklat terang. Ia hampir selalu memakai topi lebar dengan warna senada dengan gaun yang dipakainya. Wajahnya didandani make up tipis dengan gincu di bibirnya dan alis yang rapi dengan sapuan pensil alis.
Umurnya sekitar enam puluh tahun tapi fisiknya masih kuat, gerakannya lincah dan badannya pun tegak. Begitu sampai di asrama, ia mendatangi markasnya yang terletak di samping tangga. Sebentar kemudian ia keluar dengan pakaian dan alat kerja. Saat itulah biasanya saya berpapasan dengan Ajuma, begitu penghuni asrama biasa memanggilnya
“Anyanga haseyoo…” ujar saya menyapa.
“Anyanga kaseyoo…” ia selalu membalas dengan nada suara yang lembut.
Ajuma berjalan ke tempat sampah, memindahkan sampah-sampah ke dalam kantong plastik hitam. Sampah dalam plastik itu akan diangkut dengan gerobak menuju mobil sampah dan berakhir di tempat pengolahan sampah di jalan keluar asrama.
Suatu hari saya lihat Ajuma tua mengomel dekat tempat sampah yang melimpah. Kertas, kaca, bahkan bekas makanan bercampur aduk tak karuan. Dengan wajah kesal ia meninggalkan tumpukan sampah itu dan berjalan ke lobi apartemen. Di lobi ia bertemu seorang dosen yang bisa berbahasa Korea dan menumpahkan perasaan kesalnya.
“Ajuma itu kesal karena penghuni apartemen tak memilah sampah sesuai tempatnya,” ujar dosen asal Jerman itu ketika saya tanya.
Esok harinya, manajemen apartemen menempel pengumuman di lift bahwa setiap penghuni harus membuang sampah dengan tertib.
Di Korea, sampah yang berceceran adalah hal tabu. Tempat sampah ada di mana-mana; di asrama, di lorong kampus, di taman, di jalan, hingga kamar mandi. Begitu tertibnya orang Korea pada sampah, saya jadi penasaran bagaimana mereka dididik tentang sampah.
“Sejak kecil kami diingatkan bahwa kita semua perlu membantu tukang sampah yang telah capek-capek bekerja membersihkan lingkungan. Menempatkan sampah pada tempat yang tepat adalah cara kami membantu tukang sampah yang berjasa itu,” ujar Park Jooyeon, seorang mahasiswa, kepada saya.
Kampus kami terletak dekat hutan dan banyak pepohonan, maka dedaunan banyak daunan berserakan. Saat musim gugur, jalan bahkan ditutupi daun dan buah kecil yang berguguran. Pagi hari akan ada petugas yang membersihkan jalan dari daun dedaunan dengan mesin kompresor. Daun-daun itu ditiup dengan kompresor ke arah tebing atau tanah agar menjadi pupuk untuk tanaman. Tak ada sampah yang dibakar, termasuk sampah dedaunan. Pembakaran sampah merupakan hal melanggar hukum karena dapat menimbulkan polusi dan merusak kesuburan tanah.
Sekitar pukul sepuluh, Ajuma pindah ke ruang dalam. Dengan alat manual, ia menyapu dan mengepel lorong di tiga lantai gedung setiap hari. Jadi, tiap lantai mendapat jatah disapu dan dipel tiga hari sekali. Siang hari, setelah istirahat, Ajuma mencabuti rumputan di taman sekitar asrama. Jadwa hariannya begitu tertib. Rangkaian kerjanya sistematis. Sendirian Ajuma tua itu membuat asrama bertingkat sembilan dengan sembilan puluh kamar itu jadi bersih dan rapi.
Mabuk, Dipulangkan
Saya baru saja keluar dari apartemen dan berjalan menuju minimarket yang terletak di tengah asrama. Tiba-tiba terdengar ada yang bersorak melarang. Agak jauh, saya lihat beberapa mahasiswi berlari ke arah saya. Wajah mereka terlihat tegang.
“Kenapa berlari-lari?” tanya saya.
“Ada orang mengamuk di asrama putra. Bapak tidak boleh ke sana,” ujar mereka.
Tak lama terdengar suara ambulans menuju asrama. Di pintu masuk asrama putra terlihat banyak sekuriti berjaga. Dari pintu asrama putra, tiga polisi turun sambil mendekap seorang mahasiswa asing asal Afrika. Tangan mahasiswa itu terlihat berdarah. Ia langsung dinaikkan ke mobil ambulan dan dibawa ke rumah sakit. Kami mendekat ke arah bangunan asrama. Kaca pintu masuk pecah dan pecahan kaca berserakan di sekitarnya. Dinding kaca di lobi lantai tiga juga pecah. Kursi-kursi berantakan sepanjang ruangan.
“Dari mana kalian tahu bahwa ada orang mengamuk?” tanya saya pada mahasiswa.
“Kabar itu disebarkan melalui portal internet kampus,” jawab mereka.
Rupanya, begitu peristiwa terjadi, pihak sekuriti menghubungi bagian informasi dan menyebarkan kabar itu. Polisi segera diberitahu, dan dalam waktu tujuh menit mereka datang diiringi ambulans. Kemampuan teknologi informasi benar-benar berguna di sini.
Beberapa hari kemudian saya mendapat informasi yang agak lengkap tentang kejadian itu. Ternyata mahasiswa asal Afrika itu baru saja pulang dari minum-minum di luar kampus. Ia setengah mabuk karena terlalu banyak minum alkohol, Ketika masuk asrama, dia tidak menempelkan kartu sebagaimana harusnya tapi menyelonong saja masuk. Petugas sekuriti menegurnya tapi ia malah mengomel sambil lari ke lantai atas. Tentu saja petugas sekuriti mengikuti. Mahasiswa itu jadi marah dan melempar petugas dengan kursi. Ia juga melemparkan kursi dan meninju dinding kaca di lobi. Seminggu kemudian, mahasiswa asal Afrika itu dipulangkan ke negerinya. (ivan adilla)