Pemutaran perdana film Lupo-lupo Ingek dilaksanakan dalam perayaan Hari Film Nasional di Monumen Hari Jadi Kabupaten Sijunjung, Nagari Tanjung Bonei Aur Selatan, Sabtu malam (30/3/2019).
Sijunjuang, sumbarsatu—Perjalanan Islamisasi di Minangkabau Darek direpresentasikan dalam film dokumenter Lupo-lupo Ingek oleh Rumah Nusantara 74, Tanjung Bonei Aur, Sijunjung.
Pemutaran perdana film Lupo-lupo Ingek dilaksanakan dalam perayaan Hari Film Nasional di Monumen Hari Jadi Kabupaten Sijunjung, Nagari Tanjung Bonei Aur Selatan, Sabtu malam (30/3/2019).
Dibuka oleh H. Arrival Boy, S.H, Wabup Sijunjung, film dokumenter durasi 18 menit tersebut diapresiasi perangkat nagari, ninik mamak, alim ulama, tokoh masyarakat, dan ratusan masyarakat setempat.
Menurut Wiranti Gusman (18), salah seorang tim sutradara, film Lupo-lupo Ingek menceritakan proses Islamisasi di Minangkabau Darek yang dibawa oleh Syekh Ibrahim hingga ke Tanjung Bonei Aur. Penduduk setempat menyebut dirinya adalah Inyiak Tanah Bato.
"Peradaban Islam yang dibawa oleh Syekh Ibrahim itu merupakan cikal-bakal berkembangnya Islam di Luhak Nan Tuo. Sehingga negeri (Sumpur Kudus, red) tersebut diberi julukan Makkah Darek di kemudian hari," kata Wiranti Gusman kepada sumbarsatu, Sabtu malam (30/3/2019).
Tambah pelajar XII SMA ini, masyarakat sudah banyak yang tidak tahu proses Islamisasi ini, terlebih generasi muda. Dan Rumah Nusantara 74 melalui film dokumenter kembali mengingatkannya. Itulah sebabnya diberi judul Lupo-lupo Ingek (Lupa-lupa Ingat).
Ritaf Printio Saputra, penulis skrip film tersebut, mengatakan proses penggalian data melalui wawancara dengan tokoh masyarakat sejak 2017. Lalu dituangkan ke dalam naskah.
"Kisah Inyiak Tanah Bato itu manuruik warih nan dijawek khalifah nan ditarimo oleh kami di Tanjung Bonei Aur. Dan apa yang dihadirkan dalam film Lupo-Lupo Ingek sudah sesuai," kata Datuak Sumu Rajo selaku tokoh masyarakat.
Dalam film Lupo-Lupo Ingek itu, salah seorang tokoh masyarakat, mengatakan peninggalan Inyiak Tanah Bato di Tanjung Bonei Aur adalah masjid Tauhid Pincuran Tujuah, dan masih bisa dilihat sekarang.
Secara filosofis pincuran tujuah untuk membersihkan anggota nan tujuah, barasiah di lua barasiah di dalam. Inyiak Tanah Bato membawa mazhab Imam Sa'fii.
Sementara itu H. Arrival Boy, S.H, Wabup Sijunjung, sangat mengapresiasi film dokumenter ini.
"Apa yang dilakukan oleh adik-adik Rumah Nusantara 74, kita terbantu. Ini seharusnya kerja pemerintah daerah. Tapi mereka sudah memulai aktivitas ini. Mereka sudah jalan. Sudah jadi pelopor Tinggal pemerintah melihat ini sebagai potensi dan peluang yang harus dikembangkan," kata H. Arrival Boy, S.H. ditemui sumbarsatu usai pemutaran film Lupo-Lupo Ingek.
Tambahnya, Pemda Sijunjung punya Kominfo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Seharusnya data ini dijemput oleh mereka.
"Usaha adik-adik ini Rumah Nusantara 74 agar bisa ditindak lanjuti. Selasa (2/4/2019) kami akan diskusi bersama. Harapan bisa terjawab. Mereka mencari informasi tidak gampang," pungkas H.Arrival Boy, S.H.
Tutur Iqbal Musa, penggarapan film dokumenter tersebut dilakukan sejak 2017 dan timnya sebagian besar adalah pelajar di komunitas Rumah Nusantara 74, Nagari Tanjung Bonei Aur.
"Film Lupo-Lupo Ingek ini adalah bagian kelas pengarsipan di Rumah Nusantara 74. Pendanaannya kami memakai dana pribadi," pengakuan Iqbal Musa, pendiri Rumah Nusantara 74.
Meskipun kru film dokumenter tersebut masih belum menemukan masa pasti Islamisasi di Minangkabau Darek oleh Syekh Ibrahim, namun usaha mereka dalam mengarsipkan peristiwa sejarah di ranahnya patut diapresiasi, juga jadi pemantik untuk melakukan riset lebih dalam. (SSC/Thendra)
