Media Sosial dan Wajah Dewa Janus

-

Senin, 10/12/2018 21:43 WIB
-

-

OLEH Fabiolla Monica (Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unand)

Atmosfer digital saat ini dapat dirasakan—terutama di Indonesia—dengan membaca data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Setiap tahun, jumlah pengguna internet terus bertambah signifikan.

APJII mencatat, pada 2016 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Dalam rentang satu tahun, pada tahun 2017 pengguna internet di Indonesia sudah menginjak angka 143,26 juta orang. Jumlah melonjak lebih kurang 10 juta pengguna. Jumlah ini setara dengan 54,7 persen populasi penduduk Indonesia.

Pertumbuhan angka pengguna internet di Indonesia ini juga mendorong munculnya media sosial yang baru yang semakin variatif serta inovatif dimana menyesuaikan kebutuhan penggunanya.

Kendati begitu, kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak dan pengaruh media sosial terhadap tatanan kehidupan masyarakat. Efek penggunaan internet seperti pisau bermata dua tergantung bagaimana dan untuk apa kita gunakan.

Mengutip perspektif dan pendapat Deddy Mulyana, salah seorang pakar komunikasi, dalam tulisan berjudul “Media Sosial dan Dewa Janus” pada buku yang ditulisnya Komunikasi Media dan Masyarakat, Membedah Absurditas Budaya Indonesia (2015) mengatakan, media sosial itu seperti Janus, yang berwajah dan berkepribadian ganda: baik dan jahat.

Media social itu ibarat wajah Janus dalam mitologi Yunani yang digambarkan sebagai dewa bermuka dua dan menghadap ke arah yang berlawanan satu wajah ke depan dan satunya lagi ke belakang.

Pada tulisan ini wajah jahat dari media sosial di sini akan dibahas beberapa tahun setelah tulisan Deddy Mulyana diterbitkan. Tampak wajah media sosial semakin berubah jahat dan media sosial memunculkan dampak berupa keinginan untuk berkompetisi pada penggunanya.

Dampak ini diteliti oleh Universitas Houston dan Universitas Palo Alto pada Oktober tahun 2014. Penelitiannya memunculkan hasil bagaimana pengguna media sosial membuat perbandingan tentang perasaan pengguna lebih baik atau lebih buruk terhadap postingan pengguna lain.

Ini menyebabkan pengguna merasa kehilangan percaya diri dan merasa pengguna lain lebih baik dibandingkan dirinya. Hal inilah yang akan memicu gejala depresi.

Selain faktor kompetisi yang kurang sehat itu, keliru juga apabila menghubungkan penggunaan media sosial dengan faktor kekayaan. Karena, tanpa kita sadari apa yang ditampilkan oleh individu pada postingannya di media sosial belum tentu sesuai dengan apa yang ada dikehidupan sesungguhnya. Karena bagaimanapun, produk adalah hal yang dapat dibeli lalu difoto dan dibeberapa toko dapat dikembalikan lagi. Ilustrasinya adalah, hanya karena postingan seseorang di restaurant yang mahal bukan tidak memungkinkan mereka hanya memesan tidak lebih dari segelas kopi.

Bentuk solusi untuk menghadapi wajah jahat dari media sosial ini dikemukakan Geert Hofstede, seorang ahli psikolog sosial, pada tahun 2010 mengatakan, sikap yang harus dimiliki pengguna media sosial nadalah memegang teguh prinsip, yaitu teknologi komunikasi untuk manusia, bukan manusia untuk teknologi komunikasi.



BACA JUGA