-
Padang, sumbarsatu.com — Lembaga Bantuan Hukum Padang bersama jaringan masyarakat sipil, komunitas seni, dan kelompok masyarakat terdampak akan menggelar **Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera** pada 16–18 April 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat.
Festival ini dirancang sebagai ruang bersama untuk membangun kesadaran publik sekaligus mendorong gerakan kolektif menghadapi krisis iklim dan memperjuangkan transisi energi yang berkeadilan di Sumatera Barat.
Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi, mengatakan Climate Fest Vol. 2 menjadi arena kampanye bersama atas krisis iklim yang kini semakin dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir pantai barat Sumatera.
“Krisis iklim tidak lagi sekadar fenomena alam, tetapi sudah menjadi krisis multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan politik masyarakat,” ujar Diki dalam keterangan tertulis, Minggu (12/4/2026).
Menurutnya, intensitas bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan di Sumatera Barat terus meningkat. Kondisi ini paling dirasakan oleh kelompok yang bergantung pada alam, seperti petani, nelayan, dan masyarakat adat.
LBH Padang menilai situasi tersebut tidak lepas dari model pembangunan yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi. Ekspansi industri ekstraktif serta proyek energi skala besar, yang kerap minim partisipasi publik, dinilai mempercepat kerusakan ekologis sekaligus mempersempit ruang hidup masyarakat.
Di sisi lain, agenda transisi energi yang selama ini didorong sebagai solusi krisis iklim global juga dinilai menyisakan persoalan di lapangan. Sejumlah proyek energi, termasuk yang diklaim sebagai energi bersih, masih dijalankan dengan pola sentralistik, eksploitatif, dan kurang transparan.
“Transisi energi berpotensi melahirkan ketidakadilan baru, mulai dari konflik agraria, perampasan ruang hidup, hingga kerusakan ekosistem,” kata Diki.
Melalui tema **“Voice of the Earth Sumatera”**, festival ini ingin menghadirkan suara masyarakat yang selama ini jarang dilibatkan dalam pengambilan kebijakan terkait isu iklim dan energi.
Selama tiga hari pelaksanaan, Climate Fest Vol. 2 akan menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari diskusi publik, open mic warga, workshop jurnalisme warga, hingga pameran sensori dan karya seni.
Diskusi publik bertajuk *Rakyat sebagai Penggerak Perubahan* akan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Boy Candra, Gustika Jusuf Hatta, serta akademisi dan perwakilan masyarakat terdampak. Selain itu, sesi *open mic* akan memberi ruang bagi warga dari berbagai wilayah seperti Talang, Tandikek, Singgalang, hingga Singkarak untuk menyampaikan langsung pengalaman mereka menghadapi proyek energi.
Tak hanya itu, festival ini juga menghadirkan ruang kreatif dan partisipatif, seperti bioskop warga, ruang literasi, sablon cukil, hingga lomba konten kreator. Sementara itu, pasar rakyat dan bazaar komunitas akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk memasarkan produk lokal secara langsung tanpa perantara.
Sebagai puncak acara, festival akan ditutup dengan konser musik yang menghadirkan sejumlah musisi, di antaranya The Jansen bersama beberapa band dan komunitas musik lainnya.
Diki menegaskan, Climate Fest Vol. 2 diharapkan tidak sekadar menjadi festival, tetapi momentum untuk membangun kesadaran kolektif dan memperkuat solidaritas lintas komunitas dalam menghadapi krisis iklim.
“Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan pengalaman, memperjuangkan hak, dan menegaskan bahwa upaya menjaga bumi tidak bisa ditunda,” tutupnya.ssc/rel