Fast and Furious 7: God’s Eye, Family and (Going) Home

Minggu, 12/04/2015 13:21 WIB

OLEH Akmal Nasery Basral (Sastrawan)

Bahun-tahun silam dalam sebuah obrolan saya dengan Ahmad Tohari, novelis kawakan penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk,  menceritakan sepenggal pengalaman mengikuti “Klinik Menulis Kreatif Iowa”.

Pada salah satu waktu luang di Amerika itulah, Tohari mengunjungi sebuah "adult club". Dia bukan sedang mencari ide untuk karya berikutnya, melainkan sekadar untuk mendapatkan pengalaman, dan, hikmah.

"Sebab di situlah saya melihat salah satu bukti nyata di mana manusia bisa bersikap lebih rendah dari binatang seperti disebutkan di dalam Alquran," ujar pemilik satu pesantren di Jawa Tengah ini.

Menonton Furious 7 (lengkapnya Fast and Furious 7) yang kini sedang menjadi tsunami layar kaca global, membuat saya teringat pengalaman berbincang dengan Tohari di atas. Terutama pada "hikmah" yang saya rasakan.

Pengalaman saya sebagai salah seorang "penjaga gawang" desk film di dua majalah berita (Gatra di era 90-an dan Tempo awal era 2000-an), membuat keinginan "membedah" film dalam sebuah review kritis kadang-kadang datang seperti kenangan yang menggedor-gedor jantung. Tetapi kali ini saya tak ingin membahas sisi teknis film yang dalam pembuatannya menghancurleburkan 230 mobil mewah ini, atau kerja efek spesial Hollywood yang terkenal itu.

Saya ingin berbagi pengalaman menonton yang lebih menukik pada sisi relijius yang kadang-kadang meletik dari percakapan antara dua tokoh: Dom Toretto (Vin Diesel) dan Brian O'Conner (mendiang Paul Walker). Khususnya ketika percakapan mereka tidak menyangkut profesi sebagai "pembalap jalanan", melainkan obrolan dua lelaki tentang kehidupan.

Tetapi sebelumnya, plot utama Furious 7 yang merupakan upaya penyelamatan tim Dom terhadap peretas (hacker) bernama Ramsey yang menemukan aplikasi "Mata Tuhan (God's Eye)" perlu disinggung sekilas.

Kecanggihan "God's Eye" dijelaskan oleh sang bos misterius, Mr. Nobody (Kurt Russell) dengan perbandingan yang sangat menggoda. "Kamu bayangkan jika dibutuhkan waktu 10 tahun untuk mengetahui keberadaan Osama bin Laden, maka dengan God's Eye hanya butuh 2 jam," katanya saat membujuk Dom agar mau bekerja untuknya.

Pemilihan nama "God's Eye" untuk aplikasi yang bisa mengintegrasikan seluruh kamera, CCTV, apapun peranti digital yang bisa memindai wajah manusia, adalah sebuah referensi awal bagi kita, sebagai penonton, bahwa konsep Tuhan Yang Maha Melihat adalah salah satu dasar filosofis karya pop ini. Dengan "God's Eye" tak ada seorang manusia pun yang bisa menyembunyikan wajahnya di pojok bumi mana pun.

Dalam bentuknya sebagai aplikasi digital, "God's Eye" adalah simulakrum yang jelas mengacu pada kemahamelihatan Tuhan akan segala kejadian yang ada di alam raya. Tak ada kejadian yang tak terpindai oleh "Mata Tuhan" (kecuali jika dalam realitas jaring jagat jembar pasokan elektrik mendadak terputus, atau ada kawasan nirsinyal/blank spot). Singkat cerita, aroma relijiusitas dari budaya pop yang dikemas dengan tempo penceritaan yang menderu-deru dan penuh dentam adrenalin tingkat tinggi ini, terasa pas. Tidak dibuat berlebihan dan menjadi overdramatis.

Barangkali, ini juga salah satu bukti kebenaran firman Tuhan dalam petikan awal Ayat Kursi yang terkenal itu, "Adalah milikNya segala yang ada di langit dan di bumi …" (2:255). Pembalap jalanan dan komunitas peretas pun adalah juga bagian dari "milikNya" yang punya penanda kerinduan sendiri terhadap keagunganNya dengan ekspresi yang mungkin berbeda dari cara ungkap lazimnya masyarakat dalam sebuah ritual ibadah formal.

Tetapi sutradara James Wan dan penulis skenario Chris Morgan, tampaknya merasa belum cukup hanya dengan memasang "Mata Tuhan" ini. Mereka dengan cerdas mengajak penonton untuk sedikit merenung pada satu adegan pembicaraan personal antara Dom dengan Brian, yang terlibat hubungan asmara dengan Mia, adik Dom. "Sejak dulu saya kagum dengan keberanianmu. Kau melompat dari kereta, mobil …," Dom menyebutkan pelbagai tindakan nekad Brian dengan nada kagum yang tak ditutupi, "Namun tahukah kau apa tantangan terhebat yang pernah kau lakukan?" Ketika Brian belum menjawab pertanyaan abang iparnya itu, Dom menjawab sendiri. "Keberanianmu membentuk keluarga!"

Keluarga. Tempat kembali bagi para musafir. Lokasi tetirah bagi pengelana. Awal dan pusat kerinduan bagi abadinya kenangan. Pencapaian tertinggi bagi seorang yang, betapa pun hebat dan nekadnya seperti Brian, pada akhirnya dia tak bisa menjalankan semua aksi hidupnya seorang diri.

Momentum ketiga yang terasa hangat menyentuh dalam film ini terjadi pada akhir, ketika seluruh laga usai yang membuat penonton tersedot dalam sihir kamera selama dua jam. Dom dan timnya berada di pantai, menyaksikan Brian dan Mia yang bercengkerama dengan anak mereka. Kembali Dom yang mengatakan kepada kawan-kawannya betapa pentingnya peran keluarga, terlebih bagi orang seperti mereka. Dom seperti menegaskan kearifan ungkapan bijak masyarakat Burma, "In time of test, family is best." Ketika masalah datang bergulung tak kunjung usai, keluarga adalah benteng terbaik menghadapi badai.

Memang adegan ini juga dibuat dengan maksud lain, sebagai Perpisahan (dengan "P" besar) terhadap mendiang Paul Walker yang tewas pada saat masa syuting berlangsung (sehingga beberapa adegan yang belum dilakoninya, diambil alih oleh adiknya Cody Walker, yang "dipinjam" tubuhnya dan disulap dengan kecanggihan CGI yang "memasangkan" wajah Paul di atas badan Cody). Sebuah adegan perpisahan yang elegan, karena di layar kamera, Brian-Mia seolah-olah "pamit" kepada penonton karena Brian memilih "pensiun dini" dari profesinya itu.

Tetapi adegan terbaik bagi saya justru benar-benar terjadi di penghujung film. Ketika Dom yang memilih "kabur" diam-diam dari pantai tanpa pamit kepada Brian-Mia karena tak ingin mengganggu kebahagiaan mereka, pada akhirnya disusul oleh Brian di sebuah lampu merah.

Kedua lelaki, berada di mobil masing-masing yang berjalan bersisian perlahan, berbicara tentang kenangan demi kenangan demi kenangan (visualisasi yang paling menguras emosi penggemar Paul Walker tersebab banyaknya flash back dari adegan-adegan Fast and Furious seri sebelumnya). Lalu dari pandangan udara (aerial shot) terlihat ada dua jalan bercabang di depan Dom dan Brian.

Dom memilih jalan ke kanan, dan Brian memilih jalan ke kiri. Keduanya berpisah. Logika cerita film menuntun penonton untuk memercayai bahwa Dom akan melanjutkan petualangannya pada sekuel berikutnya, sementara Brian akan melanjutkan jalannya sendiri sebagai seorang lelaki yang akan konsentrasi mengurusi dunia barunya: seorang ayah yang full-time mengurusi keluarga.

Tetapi secara filosofis, makna berpisah jalannya Dom-Brian justru lebih mengesankan. Karena pada akhirnya, itulah perlambang yang dipilih dengan elegan oleh James Wan untuk menggambarkan dua kehidupan. Dunia orang hidup dan dunia orang menuju kematian. Sebuah percabangan jalan yang pasti akan dialami semua orang. Entah kapan.

Tiga elemen dalam "Furious 7" ini -- God's Eye, Family & (Going) Home -- bagi saya sudah cukup indah sebagai sebuah simulakra kehidupan itu sendiri: Bahwa pada prinsipnya, seluruh kehidupan yang dialami manusia sekarang ini adalah proses berjalan menuju percabangan jalan itu, sebuah ruas di mana kita tak selalu bisa bersama. Entah karena kecelakaan tragis seperti dialami Paul Walker di dunia nyata, atau karena proses mengalami "kematian damai" dalam tidur alami seperti banyak juga dialami orang lain menjelang ajal.

Tak Bisa Lain

Terima kasih James Wan, dan sang penulis Chris Morgan, yang menjadikan film ini tak hanya arena balap global di beragam kota besar dunia. Tetapi juga sebagai "pengingat kecil" kepada penonton, bahwa bahkan pada satu saat, satu keadaan, sang pembalap jalanan pun harus bersiap mengubah rute hidupnya. Dan mempersiapkan diri menuju rute lain yang lebih membutuhkan persiapan dan kesiapan diri secara total: rute menuju keabadian yang harus dilalui sendiri-sendiri. Betapa pun kompaknya kita pernah berada dalam satu pertemanan.***



BACA JUGA