Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim membezuk Harun Zain pertengahan Agustus lalu
Jakarta, sumbarsatucom—Bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Prof. Dr. Harun Zain berpulang ke Rahmatullah pukul 04.40 WIB, Minggu, 19 Oktober 2014 di Jakarta. Harun Zain meninggal dunia dalam usia 87 tahun.
Tokoh yang dihormati di Ranah Minang dilahirkan di Jakarta 1 Maret 1927 pernah menjadi Gubernur Sumatera Barat selama 11 tahun (1966-1977) dan mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Pembangunan III.
Menurut keterangan Yerli Asir, kemenakan Harun Zain, ia mendapat kabar duka itu dari keluarga di Jakarta. “Hari ini saya akan berangkat ke Jakarta,” katanya ketika dihubungi www.sumbarsatu.com, di Padang, Minggu, 19 Oktober 2014. Rencananya, kata Yerli Asir, Harun Zain akan dikebumikan hari ini.
Menurut Hasril Caniago, salah seorang wartawan senior di Padang, Harun Zain salah satu tokoh pemimpin orang Minang yang dinilai berjasa besar dan punya peran paling penting dalam sejarah pembangunan dan kemajuan masyarakat Sumatera Barat yang sempat ‘muno’ pasca-PRRI.
Harun Zain menjadi Gubernur Sumatera Barat menggantikan Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa. Pasca-PRRI Harun Zain gigih membangkitkan harga diri orang Minang karena kalah perang. Harun kemudian digantikan Azwar Anas.
Lelaki bergelar Datuk Sinaro ini, adalah mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Pembangunan III. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara dan ayahnya adalah seorang pakar bahasa yang terkemuka di Indonesia yaitu Prof. Sutan Muhammad Zain.
Ia mengawali karier sebagai dosen terbang di Universitas Andalas. Selanjutnya menjabat sebagai Rektor Universitas Andalas sampai 1966.
Pada 1966, ia ditunjuk untuk menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat selama dua periode sampai dengan 1977. Seiring dengan pendidikan yang diemban di Amerika Serikat mengenai masalah perburuhan. Pada 1978 ia dipercaya Presiden Soeharto menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (SSC/NA)
