Wamenaker Dorong Sertifikasi Profesi Permanent Makeup, Bidik Daya Saing Global

Kamis, 22/10/2026 06:08 WIB

 

Tangerang, sumbarsatu.com — Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan pentingnya standardisasi kompetensi dan sertifikasi profesi bagi tenaga kerja di bidang permanent makeup (PMU) untuk menjamin kualitas layanan, keselamatan pelanggan, dan daya saing di pasar global.

Penegasan itu disampaikan Afriansyah saat membuka Permanent Make Up Indonesia Festival 2026 di kawasan PIK 2, Tangerang, Rabu (21/10/2026). Festival yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 tersebut diikuti 700 peserta dari Indonesia dan berbagai negara.

Sebanyak 400 peserta berasal dari Indonesia, sedangkan 300 lainnya merupakan warga negara asing (WNA) yang mewakili 24 negara. Mereka berasal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Myanmar, Korea Selatan, Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, Rusia, Turki, Republik Turki Siprus Utara, Irak, Nigeria, Spanyol, Polandia, Jerman, Inggris Raya, Irlandia, dan Brasil.

Menurut Afriansyah, perkembangan industri permanent makeup perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja. Keahlian teknis saja tidak cukup. Pekerja juga harus memahami etika profesi, standar operasional, serta aspek keselamatan pelanggan.

“Kompetensi dan sertifikasi resmi adalah kunci utama agar tenaga kerja tidak hanya mahir secara teknis, tapi juga beretika, aman, dan berdaya saing global,” katanya.

Ia menjelaskan, standar kompetensi yang jelas dan sertifikasi profesi dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara berkelanjutan. Pelatihan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri agar keterampilan tenaga kerja tetap relevan dengan perkembangan teknologi, teknik, dan tuntutan pasar.

Afriansyah menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga pelatihan diperlukan untuk membangun ekosistem pengembangan kompetensi yang lebih terarah. Dialog dengan industri, pemetaan kebutuhan keterampilan, serta pelatihan berbasis praktik dapat membantu memastikan tenaga kerja memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut dia, kemitraan yang setara dan pengukuran hasil pelatihan juga diperlukan agar pengembangan kompetensi tidak berhenti pada kegiatan pendidikan semata, tetapi memberikan dampak terhadap produktivitas, perluasan kesempatan kerja, dan kesejahteraan tenaga kerja.

“Mari kita bangun industri ini bersama-sama melalui ruang dialog yang terbuka, kemitraan yang setara, serta komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja kita,” tutur Afriansyah.

Festival tersebut juga menghadirkan kompetisi kecantikan dalam kategori eyeliner, bibir, dan alis. Sejumlah delegasi dari negara peserta turut memperagakan teknik dan metode terbaru permanent makeup kepada peserta.

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi praktisi, pelaku usaha, dan tenaga profesional untuk berbagi pengetahuan serta memperluas jejaring di industri kecantikan. Pertukaran teknik dan pengalaman antarnegara juga membuka peluang bagi tenaga profesional Indonesia untuk mengikuti perkembangan standar dan praktik industri internasional.

Afriansyah berharap industri permanent makeup Indonesia terus berkembang melalui peningkatan kualitas SDM, penguatan kompetensi, dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Ia juga berharap tenaga profesional Indonesia mampu meningkatkan kualitas layanan dan memperluas daya saingnya di pasar internasional, sehingga perkembangan industri kecantikan dapat membuka lebih banyak peluang kerja dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.ssc



BACA JUGA