Dugaan Keracunan MBG Terjadi di Cirebon dan Bogor, 373 Orang Terdampak, Dapur Cisarua Disetop 20 Hari

Rabu, 21/10/2026 17:31 WIB
Antrean ambulan di jalan Ciremai Raya sekitar rumah sakit Siloam Putra Bahagia Cirebon pada Selasa (20/10/2026) malam. mereka bergantian bergerak membawa anak yang berdampak diduga keracunan MBG untuk dirujuk ke rumah sakit lainnya. Foto kompas.com

Antrean ambulan di jalan Ciremai Raya sekitar rumah sakit Siloam Putra Bahagia Cirebon pada Selasa (20/10/2026) malam. mereka bergantian bergerak membawa anak yang berdampak diduga keracunan MBG untuk dirujuk ke rumah sakit lainnya. Foto kompas.com

Jawa Barat, sumbarsatu.com — Dugaan keracunan yang berkaitan dengan program makan bergizi gratis (MBG) terjadi di dua daerah di Jawa Barat pada Rabu (21/10/2026).

Sebanyak 270 orang dilaporkan terdampak di Kota Cirebon, sementara 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG. Di Cisarua, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leuwimalang dihentikan sementara selama 20 hari untuk evaluasi.

Di Kota Cirebon, seorang balita berusia empat tahun menjadi pasien dengan kondisi paling berat. Balita tersebut sempat mengalami penurunan kesadaran setelah berulang kali muntah dan mengalami diare sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listyawaty, mengatakan balita itu menjalani perawatan di ruang intensif sejak Selasa (20/10/2026) petang hingga malam. Kondisinya mulai membaik pada Rabu dini hari.

“Balita empat tahun yang turun kesadarannya karena terus muntah dan diare,” kata Maria, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (21/10/2026).

Menurut Maria, semula terdapat dua laporan pasien yang mengalami penurunan kesadaran. Namun, setelah dilakukan penelusuran, satu pasien diketahui mengalami kondisi tersebut akibat penyakit penyerta yang telah dialaminya sebelumnya, bukan karena dugaan keracunan MBG.

Hingga Rabu siang, Dinas Kesehatan memastikan tidak ada lagi pasien yang berada dalam kondisi kritis. Meski demikian, penanganan medis terhadap para korban masih berlangsung.

270 Orang Terdampak di Cirebon

Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat 270 orang mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG berupa sup telur puyuh. Para korban terdiri atas 231 anak-anak dan 39 orang dewasa berdasarkan data yang dilaporkan pada Rabu siang.

Para korban mendapatkan penanganan di delapan rumah sakit rujukan, yakni RS Putera Bahagia, RS Ciremai, RS Cahaya Bunda, RS Pelabuhan, RS Medimas, RS Sumber Kasih, RS Gunung Jati, dan RS Panti Abdi Dharma.

Berdasarkan data penanganan yang disampaikan sebelumnya, 211 pasien masih menjalani rawat inap, sedangkan 59 pasien lainnya menjalani rawat jalan.

Gejala yang dialami para korban antara lain pusing, mual, muntah, dan diare. Dinas Kesehatan mengumpulkan sampel muntahan dan feses pasien untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat guna membantu mengidentifikasi penyebab kejadian tersebut.

Hasil pemeriksaan laboratorium dan pemantauan medis menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih atau leukositosis pada sejumlah pasien. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan respons tubuh terhadap infeksi atau peradangan, tetapi tidak cukup untuk memastikan bahwa gangguan kesehatan itu disebabkan oleh bakteri tertentu ataupun membuktikan sumber penularannya berasal dari makanan MBG.

Karena itu, hasil pemeriksaan sampel dan penyelidikan epidemiologis diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian serta kemungkinan adanya kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi para korban.

Maria juga membantah kabar yang beredar di media sosial mengenai adanya balita yang meninggal dunia akibat insiden tersebut. Ia menyatakan telah melakukan verifikasi berulang dengan kepala puskesmas, petugas lapangan, dan kader kesehatan.

“Kami mendapatkan informasi itu pada saat kami sedang berada di Rumah Sakit Ciremai. Saat itu juga kami konfirmasi baik ke kepala puskesmas, petugas di lapangan, sampai kader, dan ternyata tidak ada kejadian itu. Hoaks,” kata Maria.

Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, dan wali kelas untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami gejala setelah menyantap makanan MBG. Anak-anak yang mengalami keluhan diminta segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Pemantauan juga dilakukan terhadap kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, melalui kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu.

Sebagai tindak lanjut, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalijaga Lima di Kota Cirebon. Sampel makanan yang dikonsumsi para korban juga diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

103 Siswa SMP di Cisarua Alami Gejala

Pada hari yang sama, dugaan keracunan juga dilaporkan terjadi di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor. Jumlah siswa yang mengalami gejala meningkat hingga 103 orang dan mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua.

Gejala yang dilaporkan meliputi pusing, mual, dan muntah. Sejumlah siswa dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan observasi setelah mengalami keluhan di sekolah.

Sejumlah laporan media menyebutkan siswa mengonsumsi makanan dan susu yang dibagikan melalui program MBG sebelum mengalami gejala. Namun, dugaan bahwa susu menjadi sumber masalah masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan sampel dan penyelidikan lebih lanjut.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan seluruh siswa yang ditangani berada dalam kondisi stabil berdasarkan pemantauan saat itu. Pemerintah Kabupaten Bogor juga menyatakan menanggung biaya pengobatan para siswa yang terdampak.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, mengatakan operasional SPPG Leuwimalang dihentikan sementara selama 20 hari, terhitung mulai Rabu (21/10/2026). Selama masa penghentian, dapur penyedia MBG tersebut tidak diperbolehkan beroperasi untuk keperluan evaluasi.

“Udah, kan kita udah suspend, dapurnya di-suspend 20 hari ke depan tidak operasional,” kata Haidir saat ditemui di RSPG Cisarua, sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Penghentian sementara tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut atas kejadian yang menimpa para siswa. Meski demikian, keputusan menghentikan operasional dapur tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa makanan atau susu yang dipasok SPPG tersebut telah terkontaminasi. Kepastian penyebab tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan penyelidikan pihak berwenang. 

Pemeriksaan Sampel Menjadi Kunci

Dua kejadian di Cirebon dan Cisarua memperlihatkan pentingnya penelusuran cepat ketika sejumlah orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dalam program MBG.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penyakit akibat pangan dapat dipicu oleh kontaminasi mikroorganisme, bahan kimia, atau agen berbahaya lainnya. Gejalanya dapat berupa mual, muntah, sakit perut, dan diare. Pemeriksaan sampel serta penelusuran riwayat konsumsi diperlukan untuk membantu menentukan penyebabnya.

Informasi tersebut sejalan dengan penjelasan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan dalam materi edukasi mengenai pencegahan keracunan makanan. Namun, gejala yang serupa pada sejumlah pasien tidak otomatis membuktikan bahwa mereka mengalami keracunan dengan penyebab yang sama.

Dalam kasus Cirebon, pemeriksaan sampel muntahan dan feses serta sampel makanan diharapkan dapat membantu mengungkap sumber gangguan kesehatan. Sementara di Cisarua, penelusuran perlu memastikan apakah gejala para siswa berkaitan dengan makanan, susu, atau faktor lain yang memerlukan pemeriksaan.

Selain pemeriksaan laboratorium, penyelidikan perlu menelusuri proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, dan distribusi makanan, termasuk kondisi bahan pangan sebelum dikonsumsi. Langkah tersebut penting untuk mengidentifikasi kemungkinan titik kontaminasi dan mencegah kejadian serupa.

Hingga informasi yang tersedia pada Rabu (21/10/2026), penyebab pasti kedua kejadian tersebut belum dapat dinyatakan telah terkonfirmasi. Angka korban dari Cirebon dan Cisarua juga merupakan data dari dua lokasi berbeda yang perlu terus diperbarui sesuai hasil pendataan masing-masing instansi. ssc/*



BACA JUGA