Selasa, 20/10/2026 21:01 WIB

Kebakaran di Kawasan TNBTS, Lima Petugas dan Relawan Meninggal Dunia

Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali memakan korban jiwa. Foto: Arsip BPBD Jawa Timur

Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali memakan korban jiwa. Foto: Arsip BPBD Jawa Timur

Surabaya, sumbarsatu.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, menewaskan lima petugas dan relawan yang tengah berupaya memadamkan api.

Sementara itu, Suraji (44), salah seorang korban selamat, masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, akibat luka bakar sekitar 49 persen dari luas tubuh dan infeksi paru-paru.

Jumlah korban meninggal bertambah setelah Munawi (44), salah seorang korban luka bakar, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo pada Senin (19/10/2026).

Sebelumnya, tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian, kemudian seorang korban lainnya meninggal setelah mendapatkan pertolongan.

Staf Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken Primasari, menjelaskan Suraji masih membutuhkan bantuan mesin pernapasan. Selain luka bakar yang luas, ia mengalami infeksi berat, termasuk infeksi paru-paru, serta penurunan kadar protein darah.

Tim medis memberikan penanganan intensif, antara lain melalui pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi dan tambahan protein melalui infus. Kondisinya masih memerlukan pemantauan ketat.

Suraji, yang bekerja sebagai karyawan hotel, mengalami musibah ketika ikut membantu pemadaman karhutla bersama petugas TNBTS dan relawan lainnya. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (15/10/2026) di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Api yang membakar vegetasi di kawasan tersebut membesar hingga menjebak sejumlah orang yang sedang bertugas.

Api Membesar, Tim Terjebak

Berdasarkan kronologi yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, titik api terpantau sekitar pukul 09.00 WIB di lereng Pusung Lingker. Sebanyak 12 orang, terdiri atas petugas TNBTS, anggota Masyarakat Peduli Api, dan relawan, bergerak untuk membantu memadamkan kebakaran.

Situasi berubah berbahaya ketika api meluas dan arah angin berubah dengan cepat. Kondisi tersebut membuat sebagian anggota tim terpisah. Enam orang kemudian terjebak di tengah kepungan api dan asap tebal.

Laporan Associated Press yang mengutip keterangan kepolisian Jawa Timur menyebutkan angin kencang mendorong api menyebar dengan cepat melalui vegetasi yang mengering. Situasi itu menyulitkan petugas dan relawan untuk menyelamatkan diri dari kepungan api.

Sekitar pukul 13.30 WIB, petugas yang berada di luar zona berbahaya menerima panggilan darurat dari rekan mereka yang terjebak. Tim penyelamat kemudian bergerak menuju lokasi untuk mengevakuasi para korban.

Ketika pertolongan tiba, tiga orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan tiga lainnya mengalami luka bakar serius. Para korban luka kemudian mendapatkan pertolongan medis. Seiring waktu, dua korban di antaranya meninggal dunia, sehingga jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut mencapai lima orang.

Proses penyelamatan berlangsung sulit karena lokasi kebakaran berada di kawasan pegunungan dengan medan terjal dan akses kendaraan yang terbatas. Kepala Kepolisian Resor Probolinggo, Asmida Rizki Siregar, mengatakan petugas harus mengangkut korban menggunakan tandu sejauh sekitar dua kilometer karena kendaraan tidak dapat menjangkau titik kejadian. Evakuasi dilaporkan selesai pada Kamis malam.

Korban Meninggal Bertambah

Informasi awal pada hari kejadian menyebutkan tiga orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar. Perkembangan berikutnya menunjukkan jumlah korban meninggal bertambah menjadi empat orang setelah seorang korban luka meninggal dunia. Dua korban lainnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, untuk menjalani perawatan intensif.

Jumlah korban meninggal kembali bertambah pada Senin (19/10/2026), ketika Munawi meninggal dunia pukul 14.55 WIB di RSUD Dr. Soetomo. Menurut keterangan rumah sakit yang diberitakan ANTARA, Munawi mengalami luka bakar sekitar 51 persen dari luas tubuh dan kegagalan multipel organ.

Tim medis telah berupaya melakukan resusitasi, tetapi nyawanya tidak tertolong. Dengan meninggalnya Munawi, jumlah korban jiwa dalam kebakaran di kawasan TNBTS tersebut mencapai lima orang. Sementara itu, Suraji masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar sekitar 49 persen dan infeksi paru-paru.

Bupati Probolinggo Muhammad Haris sebelumnya menyatakan tim penanganan kebakaran melibatkan 12 orang. Ia menjelaskan, meluasnya api dan perubahan arah angin membuat enam anggota tim terjebak.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga menyatakan biaya pengobatan korban luka akan ditanggung pemerintah daerah dengan berkoordinasi bersama pihak TNBTS.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Kepolisian Jawa Timur menyelidiki penyebab dan kronologi kebakaran yang menewaskan lima petugas dan relawan tersebut. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap bagaimana api meluas, kondisi yang menyebabkan enam orang terjebak, serta kemungkinan adanya unsur kelalaian atau pelanggaran dalam insiden itu. Associated Press melaporkan penyidik mengumpulkan bukti dan meminta keterangan para penyintas.

Tragedi ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan ketika memadamkan kebakaran di kawasan hutan pegunungan. Perubahan arah angin, asap pekat, vegetasi kering, dan medan yang sulit dijangkau dapat mempercepat penyebaran api sekaligus menghambat upaya penyelamatan.

Lima orang meninggal dunia dalam tugas pemadaman, sementara Suraji masih berjuang memulihkan kondisinya di rumah sakit. Penyelidikan kepolisian diharapkan dapat mengungkap secara utuh rangkaian kejadian yang menyebabkan para petugas dan relawan tersebut terjebak dalam kobaran api. ssc/mn

BACA JUGA