-
Padang, sumbarsatu.com — Upaya memulihkan hutan dan lahan kritis di Sumatera Barat diperkuat melalui penanaman serentak 11.050 batang bibit tanaman produktif di 11 wilayah kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki tutupan vegetasi, meningkatkan stok karbon, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana ekologis.
Penanaman yang dipusatkan di Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, tersebut dilaksanakan di tengah meningkatnya perhatian terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang atau galodo, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat.
Berbagai kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui perlindungan hutan dan pemulihan lahan yang mengalami kerusakan.
Menjaga kelestarian hutan dan memulihkan lahan kritis dinilai penting untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan, meningkatkan kemampuan lingkungan dalam menyimpan karbon, serta mengurangi risiko bencana yang mengancam kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat.
Karena itu, rehabilitasi hutan dan lahan tidak hanya diarahkan untuk memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan tanaman produktif.
Gubernur Sumatera Barat, yang diwakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Ferdinal Asmin, mengatakan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera Barat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor tersebut meliputi cuaca ekstrem, kondisi topografi kawasan hulu yang curam, serta hilangnya tutupan hutan dan degradasi lahan akibat aktivitas manusia.
“Bencana yang terjadi di Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam harus dijaga. Kita perlu mempertahankan vegetasi hutan dan lahan, memanfaatkan ruang secara bijaksana dengan mempertimbangkan risiko bencana, serta menghindari aktivitas yang merusak lingkungan. Penanaman juga harus diikuti dengan pemeliharaan agar pohon tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Ferdinal.
Menurut Ferdinal, penanaman pohon harus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga fungsi lingkungan. Keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan tanaman tersebut bertahan hidup dan tumbuh hingga memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi dalam jangka panjang.
Pada 2026, program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Sumatera Barat mencakup area seluas 1.890 hektare yang tersebar di sejumlah daerah rawan bencana.
Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi tutupan lahan melalui penanaman berbagai jenis tanaman yang sesuai dengan kebutuhan pemulihan lingkungan sekaligus berpotensi mendukung perekonomian masyarakat.
Sejumlah tanaman produktif yang dikembangkan dalam program tersebut meliputi durian, manggis, alpukat, dan kayu manis. Selain berkontribusi terhadap pemulihan tutupan vegetasi, tanaman tersebut diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola dan dipelihara secara berkelanjutan.
Kegiatan penanaman serentak ini dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kehutanan bekerja sama dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI. Dalam pelaksanaannya, KKI WARSI berperan sebagai Lembaga Perantara (Lemtara) pada Program RBP GCF Output 2 Sumatera Barat.
Kegiatan tersebut didukung pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2 dan FOLU NC 2&3 yang bersumber dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Dari 11 wilayah pelaksanaan, enam wilayah memperoleh dukungan melalui skema RBP, sedangkan lima wilayah lainnya didukung melalui skema FOLU NC 2&3.
Koordinator Program KKI WARSI, Yudi Fernandes, mengatakan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan merupakan salah satu bentuk aksi nyata untuk memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Menurutnya, keberhasilan aksi iklim harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari keberlanjutan pemulihan lingkungan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Risiko perubahan iklim dan bencana dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, aksi iklim harus melibatkan masyarakat dan menempatkan mereka sebagai penerima manfaat. Kami berharap upaya pemulihan ini dapat mengurangi risiko bencana sekaligus meningkatkan stok karbon di Sumatera Barat,” kata Yudi, Kamis (15/10/2026).
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan yang dipulihkan diharapkan tidak hanya berpartisipasi dalam kegiatan penanaman, tetapi juga ikut menjaga dan memelihara tanaman agar dapat tumbuh dengan baik.
Pendekatan tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa kegiatan rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman bibit. Pemeliharaan, pengawasan, serta keterlibatan kelompok masyarakat dalam pengelolaan tanaman menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan program dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Sumatera Barat akan terus diperkuat melalui rehabilitasi hutan dan lahan serta peningkatan keterlibatan masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem, memperbaiki tutupan vegetasi, meningkatkan stok karbon, dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap dampak bencana.
Penanaman Serentak di 11 Wilayah Sumatera Barat
Sebanyak 11.050 batang bibit ditanam di 11 wilayah di Sumatera Barat. Lokasi penanaman tersebut meliputi Nagari Sundata Selatan, Kabupaten Pasaman; Nagari Sinuruik, Kabupaten Pasaman Barat; Nagari Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota; Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam; Kelurahan Guo, Kota Padang; Nagari Padang Laweh Selatan, Kabupaten Sijunjung; Nagari Kinari, Kabupaten Solok; Nagari Kapau Alam Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan; Nagari Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya; Nagari Taluak Tigo Sakato, Kabupaten Pesisir Selatan; serta Desa Matobe, Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Penanaman di berbagai wilayah tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pemulihan tutupan vegetasi sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pelaksanaan di sejumlah kabupaten dan kota juga diharapkan dapat memperkuat aksi bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di Sumatera Barat.
Adapun bibit yang ditanam terdiri atas 3.300 batang kayu manis, 2.200 batang durian sambung bersertifikat, 2.200 batang manggis bersertifikat, 2.200 batang alpukat sambung bersertifikat, 1.100 batang surian, serta 50 batang bambu yang secara khusus dialokasikan untuk Kota Padang.
Komposisi tanaman tersebut mencakup tanaman produktif dan tanaman kehutanan. Pengembangan tanaman produktif diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sedangkan pemulihan vegetasi melalui penanaman dan pemeliharaan pohon menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis kawasan.
Pelaksana sekaligus penerima manfaat kegiatan ini meliputi Kelompok Tani Hutan (KTH), Masyarakat Hukum Adat (MHA), Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN), serta masyarakat dan nagari di sekitar lokasi penanaman. Pelibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan rehabilitasi hutan dan lahan.
Setiap wilayah kerja KPH memperoleh alokasi sebanyak 1.000 batang bibit. Khusus di Kota Padang, terdapat tambahan 50 batang bambu sehingga jumlah keseluruhan bibit yang ditanam mencapai 11.050 batang. Pengalokasian bibit di 11 wilayah tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan program rehabilitasi yang didukung melalui skema pendanaan lingkungan.
Kegiatan penanaman ini juga berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Provinsi Sumatera Barat. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan, memulihkan lahan kritis, dan memperkuat aksi bersama dalam menghadapi perubahan iklim.
Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah, lembaga konservasi, kelompok masyarakat, dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dalam pemulihan lingkungan.
Keberlanjutan upaya tersebut membutuhkan komitmen bersama, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pengelolaan lahan secara bijaksana dengan mempertimbangkan fungsi ekologis dan kebutuhan masyarakat.
Pemulihan hutan dan lahan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan lingkungan dan masyarakat Sumatera Barat. Selain mendukung peningkatan stok karbon, rehabilitasi diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan mengurangi risiko bencana. ssc/Nabila F/KKI WARSI.