Mak Etek B. Andoeska-(Koto Anau 1948-Padang 13 Oktober 2026) foto aprimas
RANAH MINANGKABAU (Sumatera Barat) kembali kehilangan seorang seniman musik. B. Andoeska, komponis legendaris Minangkabau yang telah melahirkan ratusan lagu dan turut memperkaya khazanah musik daerah, berpulang ke Rahmatullah pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 20.10 WIB dan dimakamkan esoknya, Rabu (14/10/2026) di pandam pekuburan keluarga di Ulu Bangau, Katapiang, Batang Anai, Padang Pariaman,
Pria yang akrab disapa Mak Etek itu meninggal dunia pada usia 78 tahun setelah menjalani perawatan selama lebih dari dua minggu di Rumah Sakit Universitas Andalas (Unand), Padang. Mak Etek meninggalkan 2 pasang putra-putri dan seorang istri.
Kepergian komponis bernama Baharuddin Anak Dusun Koto Anau (B. Andoeska) itu bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Dunia seni Sumatera Barat juga kehilangan seorang pencipta lagu yang produktif, seorang pencinta bahasa daerah (Minangkabau), sekaligus seniman yang menaruh perhatian besar terhadap kekayaan ungkapan dan logat masyarakat Minangkabau.
Mak Etek diketahui mengalami gangguan kesehatan, antara lain asam lambung dan hernia. Setelah menjalani operasi hernia, persoalan kesehatannya berlanjut karena ditemukan masalah pada usus dan ginjal.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia telah menjalani dua kali operasi, masing-masing untuk menangani hernia dan gangguan pada usus. Kondisi ginjalnya yang turut bermasalah membuatnya harus menjalani cuci darah.
Perjuangan menghadapi penyakit itu akhirnya berakhir. Namun, karya-karya yang ditinggalkannya akan terus hidup melalui lagu-lagu yang dinyanyikan, diperdengarkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ratusan Lagu dan Jejak Panjang Musik Minang
B. Andoeska dikenal sebagai salah seorang komponis Minangkabau yang produktif. Ratusan lagu telah diciptakannya, dengan tema dan ungkapan yang beragam. Sebagian karyanya lekat dengan lanskap alam, kehidupan masyarakat, kerinduan terhadap kampung halaman, serta pengalaman batin orang Minang.
Trikora Irianto - foto dok
Di antara lagu ciptaannya terdapat Senandung untuk Negeri, Padang Kota Tacinto atau Ranah Maimbau, Danau di Ateh Danau di Bawah, Bungo Dibibie Manih, Dukun Palasu, Jirawek, Bungo Lumindai, Indang Solok, dan Pandang Tak Sudah. Lagu-lagu tersebut telah dinyanyikan oleh berbagai penyanyi dan menjadi bagian dari perjalanan musik populer Minangkabau.
Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah Guguak Manyambah. Lagu ini pernah dipopulerkan oleh Hetty Koes Endang dan kemudian dinyanyikan pula oleh Ratu Sikumbang.
Kehadiran lagu tersebut dalam repertoar penyanyi dari generasi berbeda memperlihatkan daya hidup sebuah karya yang dapat terus menemukan pendengarnya, melampaui masa ketika lagu itu pertama kali diperkenalkan.
Guguak Manyambah juga kerap dijadikan lagu wajib dalam festival lagu Minang. Kedudukannya dalam berbagai kegiatan perlombaan menunjukkan bahwa lagu daerah tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran musikal, pengenalan bahasa, dan penghayatan terhadap ungkapan budaya Minangkabau.
Kekuatan lagu tersebut terletak, antara lain, pada pilihan kata dan kedalaman makna liriknya. Mantan Menteri Dalam Negeri sekaligus mantan Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, yang juga dikenal menyanyi, pernah memuji lirik lagu itu ketika berbincang santai dengan saya di Taman Budaya Sumatera Barat.
Gamawan terkesan dengan ungkapan dalam lirik yang berbunyi, “rueh tumbuah baliak ka tanah, Aruahnyo denai manjalang kasiah.”
“Dalam bana maknanyo,” ujar Gamawan, mengungkapkan kekagumannya terhadap kedalaman makna ungkapan tersebut.
Pujian itu memperlihatkan bagaimana pilihan kata dalam sebuah lagu dapat menghadirkan pengalaman batin yang lebih luas daripada sekadar susunan kalimat berirama. Dalam tradisi musik Minangkabau, bahasa menjadi salah satu unsur penting yang membangun hubungan antara lagu, pengalaman hidup, ingatan, dan perasaan pendengarnya.
Lagu daerah yang kuat tidak hanya bergantung pada melodi yang mudah diingat. Pilihan kata, ungkapan setempat, simbol budaya, dan kemampuan menyampaikan pengalaman manusia turut menentukan daya tahan sebuah karya. Dalam Guguak Manyambah, sebagaimana terlihat dari tanggapan Gamawan, kekuatan lirik menjadi bagian yang menonjol dari pengalaman mendengarkan lagu tersebut.
Di luar lagu-lagu populer, B. Andoeska juga menciptakan sejumlah mars. Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia banyak menggarap karya semacam itu, antara lain Mars Sumatera Barat, Mars Padang, Mars Tanah Datar, dan Mars Sawahlunto.
Karya mars memiliki kebutuhan musikal dan fungsi yang berbeda dari lagu populer. Mars umumnya diciptakan untuk membangun semangat kolektif, menegaskan identitas, dan mengiringi kegiatan resmi atau perayaan tertentu.
Kesediaan B. Andoeska menggarap jenis musik ini memperlihatkan keluasan wilayah penciptaannya, dari lagu yang mengungkapkan pengalaman personal hingga karya yang ditujukan bagi kepentingan bersama.
Ia juga menggarap musikalisasi puisi. Sejumlah puisi penyair terkemuka, seperti Sajak Putih karya Chairil Anwar dan Sebelum Maut Itu Datang karya Hamid Jabbar, menjadi bagian dari karya yang diolahnya ke dalam bentuk lagu.

Prosesi pemakaman pandam pekuburan keluarga di Ulu Bangau, Katapiang, Batang Anai, Padang Pariaman, Rabu, 14 Oktober 2026 -foto aprimas
Musikalisasi puisi menuntut kepekaan yang berbeda dari penciptaan lagu pada umumnya. Komponis harus membaca struktur bahasa, ritme, suasana, dan kedalaman makna puisi, kemudian menerjemahkannya ke dalam komposisi musikal tanpa menghilangkan kekuatan teks. Pekerjaan semacam ini membutuhkan pertemuan kepekaan musikal dan sastra.
Pilihan B. Andoeska untuk menggarap puisi para penyair menunjukkan bahwa perhatiannya tidak berhenti pada penciptaan lagu populer. Ia juga menjelajahi kemungkinan pertemuan antara musik dan sastra, dua bidang seni yang memiliki cara berbeda dalam mengolah bunyi, imaji, dan pengalaman manusia.
Persahabatan Sejak Taman Budaya
Persahabatan saya dengan Mak Etek telah berlangsung cukup lama, sejak saya mulai aktif berkesenian di Taman Budaya Sumatera Barat pada 1984. Meskipun kami menekuni bidang seni yang berbeda, hubungan kami terjalin akrab.
Saya bergelut dalam seni rupa, sedangkan Mak Etek dikenal melalui karya-karya musiknya. Perbedaan bidang itu tidak pernah menjadi penghalang untuk membangun persahabatan dan bertukar pikiran.
Bagi kami, dunia seni bukanlah ruang yang dibatasi oleh sekat-sekat disiplin. Seniman dari bidang berbeda tetap dapat bertemu dalam percakapan, saling mengapresiasi karya, dan menemukan kesamaan pengalaman. Hubungan saya dengan Mak Etek tumbuh melalui pertemuan-pertemuan semacam itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, persahabatan kami bahkan semakin dekat. Selain sering bertemu di Taman Budaya, saya juga kerap mengunjungi rumahnya di kawasan Lubuk Buaya, Padang. Kami berbincang tentang seni dan kebudayaan, membicarakan berbagai hal yang menarik perhatian, serta sesekali bercanda tentang bahasa dan logat daerah.
Kemampuan saya menirukan berbagai logat Minangkabau, terutama logat Solok—kampung halaman Mak Etek—sering membuatnya terkesan. Setiap kali saya berbicara menggunakan logat tersebut, ia seolah menemukan sesuatu yang menarik untuk diamati.
“Dima Pak Tri baraja baso Solok?” tanyanya suatu kali.
“Baraja surang saan, Metek. Tumah lamo-lamo lah pandai saan deyen na,” jawab saya sambil tertawa.
Mak Etek ikut tertawa mendengar jawaban itu. Ada keakraban tersendiri ketika dua orang berbicara menggunakan logat yang sama, terlebih ketika salah seorang di antaranya bukan berasal dari daerah tersebut. Bahasa tidak lagi sekadar alat menyampaikan maksud, tetapi juga menjadi jembatan kedekatan emosional.
Percakapan sederhana semacam itu kerap menghadirkan suasana akrab. Ada rasa senang ketika seseorang mengenali logat kampung halamannya dari mulut orang lain. Di dalamnya terdapat ingatan tentang keluarga, kampung, pergaulan, dan pengalaman hidup yang tidak selalu dapat diterangkan hanya melalui bahasa Indonesia formal.
Pengalaman serupa saya rasakan ketika bertemu Bang Harris, Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, sastrawan yang dikenal humoris. Terkadang, baru berhadapan muka saja kami sudah menahan tawa. Apalagi ketika saya mulai memancing percakapan menggunakan logat Solok, Bang Harris segera menyambutnya.
Percakapan pun berkembang menjadi ota lapau, obrolan santai yang mengalir dengan logat Solok. Jika berlangsung di Lapau Datuak Saridano, suasananya bisa semakin ramai oleh gelak tawa. Bagi kami, ota lapau bukan sekadar percakapan tanpa tujuan. Di dalamnya ada kelakar, pertukaran pengalaman, kecerdasan membaca situasi, dan keakraban yang tumbuh secara alami.
Mak Etek memahami kesenangan saya menirukan logat daerah. Saya pernah menceritakan kepadanya bagaimana kebiasaan itu bermula.
Pada 1983, ketika ikut "mengospek" mahasiswa baru di FKSS IKIP Padang, saya mendapati seorang mahasiswi baru berasal dari Solok. Saya langsung berbicara kepadanya menggunakan logat Solok. Rupanya, mahasiswi tersebut mengira saya benar-benar orang Solok.
Sejak saat itu, ia selalu memanggil saya dengan sapaan akak. Kebiasaan tersebut bahkan berlanjut di lingkungan kampus, termasuk ketika berinteraksi dengan Dr. Andria C. Tamsin, dosen Bahasa Indonesia.
“Ee, galadak,” ujar Mak Etek sambil terkekeh setelah mendengar cerita saya.
Ia tertawa karena memahami kelucuan pengalaman tersebut. Sebuah logat yang digunakan secara tepat ternyata dapat membuat seseorang begitu meyakini asal-usul lawan bicaranya. Bahasa, dalam pengalaman itu, menjadi penanda identitas yang sangat kuat.
Lima Ratus Halaman Catatan tentang Bahasa dan Logat
Rasa penasaran saya semakin besar ketika melihat antusiasme Mak Etek setiap kali saya berbicara menggunakan logat Solok atau menirukan logat daerah lain. Saya kemudian mengetahui bahwa ketertarikannya terhadap bahasa bukan sekadar kesenangan mendengar percakapan sehari-hari.
Secara otodidak, Mak Etek meneliti berbagai kata, logat daerah, dan asal-usulnya. Ia mengumpulkan catatan tentang bahasa dan cara masyarakat mengucapkan kata-kata dalam lingkungan budaya yang berbeda. Catatan tersebut, menurut penuturan yang saya ketahui, mencapai sekitar 500 halaman.
Sayangnya, hingga akhir hayatnya, belum ada sponsor yang bersedia mendukung penerbitan catatan tersebut. Akibatnya, salah satu hasil kerja intelektualnya yang berpotensi memperkaya dokumentasi kebahasaan dan kebudayaan Minangkabau belum sempat diterbitkan secara luas.
Catatan itu menjadi bagian penting dari warisan Mak Etek yang patut mendapat perhatian. Ketertarikannya terhadap bahasa memperlihatkan bahwa seorang komponis tidak hanya bekerja dengan melodi dan harmoni. Ia juga dapat menyelami kekayaan kata, cara pengucapan, dan latar sosial yang membentuk ekspresi masyarakat.
Dalam masyarakat Minangkabau, variasi bahasa dan logat memiliki hubungan erat dengan identitas wilayah, sejarah pergaulan, dan kebiasaan komunitas. Perbedaan pengucapan dapat memperlihatkan asal daerah seseorang, sementara pilihan kata tertentu menyimpan pengetahuan tentang lingkungan sosial dan kebudayaan tempat bahasa itu digunakan.
Dokumentasi semacam ini memiliki arti penting karena bahasa hidup terus mengalami perubahan. Sebagian ungkapan dapat semakin jarang digunakan ketika pola pergaulan berubah, generasi berganti, atau masyarakat berpindah ke lingkungan yang berbeda. Catatan yang dikumpulkan secara tekun dapat menjadi bahan awal untuk penelitian, pengarsipan, dan penerbitan yang lebih sistematis.
Tentu saja, catatan pribadi belum dengan sendirinya menjadi kajian linguistik yang terverifikasi. Namun, bahan sebanyak itu dapat menjadi sumber awal yang berharga untuk ditelaah oleh peneliti bahasa, disunting, diberi keterangan, dan dibandingkan dengan sumber-sumber lain.
Karena itu, catatan sekitar 500 halaman yang ditinggalkan Mak Etek layak diselamatkan. Keluarga, sahabat, komunitas seni, perguruan tinggi, dan lembaga kebudayaan dapat bekerja sama untuk mendokumentasikan serta menilai kemungkinan penerbitannya.
Dengan cara itu, hasil ketekunan seorang seniman tidak berhenti sebagai tumpukan catatan pribadi, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan yang diakses masyarakat.
Bagi saya, perhatian Mak Etek terhadap logat daerah merupakan sisi dirinya yang sangat menarik. Di balik sosok komponis yang dikenal melalui ratusan lagu, terdapat seseorang yang tekun mengamati bahasa sebagai bagian dari kehidupan budaya. Ketekunan semacam itu memperlihatkan luasnya minat seorang seniman dan cara ia merawat hubungan dengan lingkungan sosialnya.
Harmonika dan Persahabatan dalam Musik
Ada hal lain yang membuat hubungan saya dengan Mak Etek semakin dekat, yakni kebiasaan saya memainkan harmonika. Bagi Mak Etek, seorang seniman seni rupa yang juga menguasai alat musik merupakan sesuatu yang menarik dan tidak biasa ditemuinya.
Ia memberi perhatian khusus ketika saya memainkan harmonika, terlebih saat saya menggabungkan dua alat musik sekaligus. Menurutnya, memainkan dua instrumen secara bersamaan bukan pekerjaan mudah. Pemain harus mampu mengatur rasa, menjaga ketepatan permainan, dan membangun keselarasan di antara keduanya.
Mak Etek terus memberikan dukungan agar saya meningkatkan kemampuan bermusik. Dukungan seorang komponis yang telah lama berkecimpung dalam dunia musik tentu memiliki arti tersendiri bagi saya, terutama karena sebagian besar kemampuan tersebut saya pelajari secara otodidak.
Mungkin perhatian itu pula yang membuatnya mengajak saya bergabung dan tampil bersama grup musik Barabah.
Saya mendapat kesempatan dua kali tampil bersama Barabah--kelompok musik yang didirikannya pada 1982-- yakni di Taman Budaya Sumatera Barat pada 2023 dan di Balai Kota Padang yang baru pada perayaan ulang tahun Kota Padang pada 2024.
Bagi saya, kedua kesempatan itu bukan hanya pengalaman tampil di atas panggung. Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang komponis senior memberikan ruang kepada seniman dari bidang lain untuk ikut bermusik. Ajakan tersebut menunjukkan bahwa pergaulan seni dapat membuka peluang belajar dan bekerja bersama tanpa harus dibatasi oleh latar disiplin masing-masing.
Setiap kali saya melakukan siaran musik secara langsung di Facebook, Mak Etek hampir selalu memberikan apresiasi. Ia mengikuti permainan saya dan menyampaikan komentar yang membesarkan hati. Apalagi ketika saya membawakan Guguak Manyambah, salah satu lagu ciptaannya yang saya sukai.
“Padek, taruh nakan!” komentarnya untuk menyemangati saya.
Komentar singkat itu terasa istimewa. Di dalamnya ada dukungan seorang komponis terhadap orang yang sedang belajar dan berusaha mengembangkan kemampuan musikalnya. Apresiasi tersebut membuat saya semakin percaya diri untuk bereksperimen, berlatih, dan memperluas penguasaan instrumen.
Kecintaan saya terhadap musik kemudian semakin tumbuh. Saya mulai melengkapi koleksi alat musik, antara lain gitar, bansi, harmonika dengan berbagai nada dasar, keyboard, dan saksofon. Semua itu saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan batin, meningkatkan keterampilan, serta memberi ruang bagi eksplorasi musikal, tanpa meninggalkan seni lukis yang selama ini saya tekuni.
Bagi saya, seni rupa dan musik bukan dua dunia yang harus dipertentangkan. Keduanya memiliki cara berbeda dalam mengolah ekspresi, tetapi sama-sama memberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, perasaan, dan gagasan. Dukungan Mak Etek semakin menguatkan keyakinan itu.
Perhatian seorang maestro terhadap proses belajar seniman lain merupakan bentuk dukungan yang tidak selalu tercatat dalam sejarah pertunjukan. Namun, bagi penerimanya, dorongan semacam itu dapat menjadi bagian penting dari perjalanan berkesenian. Saya merasakan hal tersebut melalui komentar, ajakan tampil, dan percakapan-percakapan kami.
Selain Mak Etek, saya juga memperoleh dukungan dari sejumlah senior dalam dunia musik Minangkabau. Almarhum Da Ang atau An Hamid, gitaris senior Minang yang cukup dikenal, pernah mengajak saya untuk mengamen bersama.
“Ngamen awak, Tri, batigo jo si Ai!” ajak Da Ang suatu kali.
Ajakan itu memperlihatkan keakraban sekaligus semangat bermain musik yang tumbuh di antara para seniman. Bermusik tidak selalu harus berlangsung di panggung resmi atau dalam acara besar. Musik juga dapat hidup melalui pertemuan sederhana, permainan bersama, dan pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Senior saya yang lain, Cimban atau Imran Boer, alumnus Sendratasik, juga memberikan dukungan. Ia dikenal sebagai komponis dan pencipta lagu Minang, salah satunya melalui lagu populer Talambek Pulang.
Dukungan dari para senior tersebut menjadi bagian dari perjalanan saya dalam mengembangkan kemampuan musik secara mandiri. Mereka memberikan ruang, semangat, dan kesempatan untuk terus belajar.
Dalam lingkungan seni yang sehat, pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diwariskan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pergaulan, latihan, pertunjukan, serta kesediaan seniman senior untuk mendorong generasi atau rekan seniman lainnya.
Warisan yang Belum Selesai Didokumentasikan
Menjelang kepergian Mak Etek, sebenarnya masih banyak hal yang ingin kami kerjakan bersama. Salah satu rencana penting ialah mendokumentasikan karya-karyanya. Kami juga sempat membayangkan penyusunan biografi yang dapat merekam perjalanan hidup, proses kreatif, pergaulan seni, dan sumbangannya bagi musik Minangkabau.

Foto Aprimas
Rencana tersebut menjadi semakin penting ketika mengingat banyaknya lagu yang telah diciptakannya, karya mars yang digarapnya, musikalisasi puisi yang pernah dikerjakannya, serta catatan tentang bahasa dan logat daerah yang belum diterbitkan.
Kepergian Mak Etek membuat rencana-rencana itu tidak lagi dapat kami jalankan bersamanya. Sang Maha Pemilik telah memanggilnya pulang. Namun, pekerjaan mendokumentasikan warisan seorang seniman sesungguhnya tidak harus berhenti ketika penciptanya meninggal dunia.
Masih ada kesempatan bagi keluarga, sahabat, sesama seniman, peneliti, dan lembaga kebudayaan untuk menghimpun rekaman lagu, naskah lirik, partitur jika tersedia, dokumentasi pertunjukan, foto, surat, serta catatan pribadi yang ditinggalkannya. Bahan-bahan itu dapat menjadi dasar untuk menyusun katalog karya dan biografi yang lebih lengkap.
Dokumentasi menjadi penting karena ingatan personal, betapapun berharga, memiliki keterbatasan. Cerita dari sahabat dan keluarga perlu dipertemukan dengan dokumen, rekaman, kesaksian penyanyi, serta arsip pertunjukan agar perjalanan kreatif seorang komponis dapat direkonstruksi secara lebih utuh.
Upaya tersebut juga akan membantu generasi berikutnya memahami proses penciptaan lagu Minang, hubungan komponis dengan penyanyi, serta perubahan selera dan praktik musik dari masa ke masa. Dengan dokumentasi yang baik, karya tidak hanya dikenang sebagai lagu yang pernah populer, tetapi juga ditempatkan dalam perjalanan sejarah kebudayaan.
Hal itu terutama relevan bagi karya-karya yang menggunakan bahasa Minangkabau dan ungkapan lokal. Lirik lagu dapat menyimpan kata-kata, peribahasa, simbol, dan cara bertutur yang mungkin tidak lagi akrab bagi generasi mendatang. Melalui dokumentasi dan pengkajian, unsur-unsur tersebut dapat dipahami kembali dalam konteks sosial dan budaya yang melahirkannya.
Catatan sekitar 500 halaman tentang kata dan logat daerah juga patut menjadi perhatian khusus. Apabila naskah itu masih tersimpan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengamankan dokumen, membuat salinan digital, menginventarisasi isinya, dan meminta bantuan ahli yang relevan untuk menelaahnya. Proses tersebut akan membuka kemungkinan penerbitan yang lebih bertanggung jawab sekaligus menjaga agar hasil kerja panjang Mak Etek tidak hilang.
Saya percaya, penghormatan terhadap seorang komponis tidak cukup dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagunya pada saat mengenang kepergiannya. Penghormatan juga perlu diwujudkan melalui usaha merawat karya, menelusuri proses kreatifnya, dan memastikan bahwa generasi berikutnya memiliki akses terhadap warisan yang ditinggalkannya.
Andoeska telah pergi, tetapi lagu-lagunya masih dapat dinyanyikan. Melodi dan lirik yang pernah lahir dari proses kreatifnya akan terus menemukan kehidupan baru setiap kali diperdengarkan kembali. Di situlah salah satu kekuatan seni: penciptanya dapat berpulang, sementara karya-karyanya tetap menemani orang-orang yang pernah disentuhnya.
Bagi saya pribadi, Mak Etek bukan hanya komponis yang menghasilkan ratusan lagu. Ia adalah sahabat yang menyukai percakapan tentang bahasa, seniman yang menghargai kemampuan orang lain, dan seorang maestro yang tidak segan memberikan dukungan kepada sesama pekerja seni.
Saya akan mengenangnya melalui percakapan kami di Taman Budaya, kunjungan ke rumahnya di Lubuk Buaya, kelakar menggunakan logat Solok, penampilan bersama Barabah, serta komentar-komentarnya setiap kali saya memainkan musik di Facebook.
Kenangan-kenangan itu mungkin sederhana, tetapi justru di sanalah persahabatan menemukan maknanya. Seorang seniman tidak hanya meninggalkan karya yang dapat dinikmati banyak orang. Ia juga meninggalkan pengaruh dalam kehidupan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Selamat jalan, Mak Etek B. Andoeska. Terima kasih atas karya, persahabatan, dukungan, dan inspirasi yang telah diberikan. Semoga segala amal kebaikan diterima oleh Allah Swt, segala khilaf diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Semoga karya-karyamu tetap hidup, terus dinyanyikan, dan menjadi bagian dari ingatan kebudayaan Minangkabau. Semoga pula catatan, gagasan, dan warisan kreatif yang belum sempat dituntaskan memperoleh jalan untuk didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selamat jalan, Mak Etek. Semoga Allah Swt melapangkan jalanmu menuju surga-Nya.
Padang, 14 Oktober 2026
Catatan Redaksi
- Profil dalam buku Maestro Seni Provinsi Sumatera Barat. Publikasi yang tersimpan di repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memuat informasi mengenai B. Andoeska, termasuk perjalanan lagu Guguak Manyambah dan keterkaitannya dengan Hetty Koes Endang.
- Penelitian akademik tentang Guguak Manyambah. Dilla Triyanda Novera dan Budiwirman menerbitkan kajian berjudul "An Analysis of Guguak Manyambah Song Created by B. Andoeska in Minangkabau Song" pada 2020. Penelitian tersebut membahas melodi, ritme, harmoni, struktur lagu, serta hubungan lirik dengan melodi. Atlantis Press
- Kajian sejarah musik pop Minangkabau. Penelitian mengenai perkembangan musik pop Minangkabau periode 1950–1990-an turut menyebut karya B. Andoeska, antara lain Guguak Manyambah dan Pandang Tak Sudah.