Senin, 12/10/2026 14:29 WIB

500 Rumah Hangus di Bangka Selatan, 2.000 Warga Terdampak dan Bantuan Mendesak Dibutuhkan

Kebakaran hebat yang melanda Dusun Serdang, Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (10/10/2026)

Kebakaran hebat yang melanda Dusun Serdang, Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (10/10/2026)

Bangka Selatan, sumbarsatu.com — Kebakaran hebat yang melanda Dusun Serdang, Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (10/10/2026), menghanguskan sekitar 500 rumah dan berdampak pada 2.000 jiwa. Ribuan warga menghadapi persoalan tempat tinggal dan pemenuhan kebutuhan dasar setelah kehilangan rumah serta barang-barang mereka.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat, hingga Minggu (11/10/2026) pukul 07.00 WIB, jumlah rumah terdampak mencapai sekitar 500 unit dengan perkiraan 500 kepala keluarga atau 2.000 jiwa. Pendataan masih berlangsung sehingga angka tersebut belum bersifat final. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam data sementara tersebut.

Dilansir ayobangka.com, kebakaran bermula sekitar pukul 15.10 WIB pada Sabtu. Api yang awalnya membakar lahan di sekitar permukiman kemudian merambat ke rumah-rumah warga. Tiupan angin dan kondisi lingkungan yang kering diduga mempercepat penyebaran api. Banyak rumah warga menggunakan material papan sehingga api dengan cepat menjalar ke bangunan lain.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Agus Afandi mengatakan api telah berhasil dipadamkan pada Minggu pagi. Meski demikian, petugas masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali. Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan dan pendataan.

Pengungsi Membutuhkan Bantuan Berkelanjutan

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mengerahkan tim gabungan untuk menangani warga terdampak. Posko pengungsian dan dapur umum didirikan di halaman SD Negeri 7 Simpang Rimba untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

BPBD Babel melaporkan sekitar 60 warga menempati ruang kelas sekolah tersebut pada Minggu (11/10/2026). Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat atau keluarga yang tidak terdampak kebakaran. Kondisi ini membuat pendataan dan penyaluran bantuan perlu menjangkau warga di luar lokasi pengungsian resmi.

Pemerintah daerah menyalurkan bantuan berupa makanan, air bersih, pakaian layak pakai, dan kebutuhan dasar lainnya. Tim gabungan yang terdiri atas unsur BPBD, Dinas Sosial, pemadam kebakaran, TNI/Polri, tenaga kesehatan, dan relawan turut mendukung penanganan di lapangan.

Namun, pemenuhan kebutuhan pengungsi tidak berhenti pada penyediaan makanan dan tempat berlindung sementara. Warga yang kehilangan rumah membutuhkan pakaian, perlengkapan tidur, perlengkapan kebersihan, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial selama masa pemulihan.

Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangka Selatan, Dedy Irawan, mengatakan kelompok rentan, terutama anak-anak, perempuan, dan lanjut usia, memerlukan perhatian khusus.

“Contohnya susu balita beserta botolnya, popok, makanan khusus balita, pakaian dalam wanita, handuk dan lainnya,” ujar Dedy, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan.

Menurut Dedy, kondisi pengungsian juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi warga, terutama anak-anak dan lansia yang kehilangan tempat tinggal serta belum mengetahui kapan dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Karena itu, ia menilai dukungan pemulihan mental perlu menjadi bagian dari penanganan pascabencana. Pemerintah dan pihak terkait juga perlu mengoordinasikan bantuan agar kebutuhan warga dapat dipenuhi secara berkelanjutan, bukan hanya pada hari-hari pertama setelah kebakaran.

“Identifikasi, data yang valid serta koordinasi lintas sektoral sangat dibutuhkan. Sehingga manajemen penanganan korban bencana bisa berjalan efektif dan tepat,” ujarnya.

PWI Babel Kumpulkan Donasi Rp105,5 Juta

Solidaritas masyarakat turut mengalir melalui penggalangan bantuan yang dilakukan PWI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lewat gerakan #PWIBABELPeduli.

Berdasarkan informasi yang disampaikan pengurus PWI Babel, donasi yang terkumpul hingga Minggu malam mencapai Rp105,5 juta. Dana tersebut berasal dari berbagai pihak yang mempercayakan penyaluran bantuan kepada organisasi wartawan itu.

Ketua PWI Babel, M. Faturrakhman, mengatakan dana yang terkumpul akan digunakan untuk membeli kebutuhan pengungsi, terutama kelompok rentan.

“Dari dana yang terkumpul akan kita belikan berbagai keperluan pengungsi, terutama kelompok rentan. Kita berharap masyarakat lainnya ikut berpartisipasi dalam membantu saudara kita yang tertimpa musibah,” ujarnya.

PWI Babel merencanakan pengiriman bantuan ke lokasi bencana pada Selasa (13/10/2026). Tim relawan PWI Babel akan mengawal pengiriman logistik untuk dibagikan kepada warga terdampak, termasuk mereka yang bertahan di tenda darurat dan lokasi pengungsian di SD Negeri 7 Simpang Rimba.

Penggalangan bantuan dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak warga selama masa tanggap darurat. Penyaluran bantuan akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan hasil pendataan kebutuhan di lapangan, sehingga jenis dan jumlah barang yang dikirim sesuai dengan kondisi pengungsi.

Masyarakat yang ingin membantu dapat menghubungi posko kemanusiaan PWI Babel di Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang, atau melalui nomor 0821-8120-5743 sebagaimana tercantum dalam informasi yang disampaikan pengurus PWI Babel. Masyarakat disarankan memastikan kembali informasi kontak dan mekanisme penyaluran sebelum mengirimkan donasi. ssc/mn

BACA JUGA