Senin, 12/10/2026 13:59 WIB

Sungai Meluap, Rumah Hanyut, Jalan Lumpuh: Pesisir Selatan Masuk Status Darurat

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pesisir Selatan sejak Jumat (9/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026) memicu bencana banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah kecamatan. Foto Kompas.com

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pesisir Selatan sejak Jumat (9/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026) memicu bencana banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah kecamatan. Foto Kompas.com

 
 
Pesisir Selatan, sumbarsatu.com — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor selama 20 hari mulai 11 Oktober 2026.
 
 
Keputusan tersebut diambil menyusul bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada 9–10 Oktober 2026, menyebabkan rumah warga terendam, fasilitas umum terdampak, dan akses transportasi terganggu.

Penanganan darurat dipusatkan pada wilayah terdampak, terutama Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dan Basa Ampek Balai Tapan. Pemerintah daerah mengerahkan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), unsur TNI/Polri, serta organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membantu evakuasi warga, menyalurkan bantuan, dan mendata kerusakan akibat bencana.

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan pada 12 Oktober 2026, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat (9/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026) memicu banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di sejumlah kecamatan. Wilayah terdampak yang dilaporkan meliputi Ranah Ampek Hulu Tapan, IV Jurai, Koto XI Tarusan, dan Batang Kapas.

Di kawasan Tapan, luapan sungai merendam permukiman warga. Nagari Limau Purut Tapan dan sejumlah nagari lain di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan menjadi bagian dari wilayah yang membutuhkan penanganan. Laporan awal BPBD juga mencatat rumah hanyut serta kerusakan sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur.

Data sementara BPBD yang diperbarui hingga Minggu (11/10/2026) dini hari mencatat 4.240 satuan data terdampak di sembilan nagari di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan. Angka tersebut merupakan akumulasi data sementara yang masih membutuhkan verifikasi untuk memastikan jumlah kepala keluarga, rumah, atau warga yang terdampak. Karena itu, angka tersebut belum dapat langsung ditafsirkan sebagai jumlah penduduk maupun jumlah rumah.

Dampak lainnya meliputi 12 unit sekolah, tujuh kantor, dan empat masjid yang dilaporkan terdampak. BPBD juga mencatat dua rumah dilaporkan hanyut serta kerusakan jalan di Nagari Talang Balarik sepanjang sekitar 100 meter. Pendataan masih berlangsung untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganan di lapangan. 

Posko Darurat Diaktifkan 24 Jam

Menindaklanjuti penetapan status tanggap darurat, BPBD Kabupaten Pesisir Selatan mengintensifkan koordinasi dan mengaktifkan layanan penanganan darurat melalui posko induk di kantor BPBD serta posko di wilayah Tapan. Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan untuk mendukung evakuasi, pemantauan kondisi lapangan, pendistribusian logistik, dan pendataan dampak bencana.

Pada Sabtu malam (10/10/2026), BPBD telah memberangkatkan 10 personel menuju wilayah Tapan dengan dua kendaraan operasional jenis Ranger. Tim tersebut membawa lima unit tenda keluarga untuk mendukung kebutuhan darurat warga. BPBD juga menyiapkan 80 paket sembako dari gudang logistik untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Koordinasi lintas sektor dilakukan bersama pemerintah daerah, TNI/Polri, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta instansi terkait lainnya. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat penanganan warga terdampak sekaligus memulihkan fasilitas umum dan akses transportasi yang terganggu.

Wakil Bupati Pesisir Selatan Risnaldi Ibrahim juga meninjau rumah warga yang terdampak banjir dan longsor di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan pada Minggu (11/10/2026). Dalam peninjauan tersebut, relokasi menjadi salah satu opsi penanganan bagi rumah yang mengalami kerusakan berat maupun rumah yang berada di sepanjang aliran Sungai Batang Tapan. 

Akses Jalan dan Sekolah Ikut Terdampak

Banjir juga mengganggu arus lalu lintas pada ruas jalan Tapan–Bengkulu, tepatnya di kawasan Alang Ramba, Tapan. Berdasarkan laporan BPBD pada Minggu (11/10/2026) pukul 01.30 WIB, genangan masih menutupi badan jalan sepanjang kurang lebih 200 meter. Ketinggian air sebelumnya dilaporkan mencapai sekitar satu meter sehingga kendaraan mengalami kemacetan.

Pada saat laporan tersebut diterima, arus lalu lintas mulai diberlakukan dengan sistem buka-tutup. Pengguna jalan diimbau mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi jalur belum aman dilalui.

Longsor juga terjadi di ruas jalan provinsi di Nagari Setara Nanggalo, kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan. Material longsor menutupi badan jalan sehingga akses kendaraan roda empat sempat tidak dapat dilalui. Pemerintah daerah bersama instansi teknis melakukan koordinasi untuk menangani gangguan akses tersebut. 

Sektor pendidikan turut terdampak. Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan melaporkan lima sekolah terdampak banjir di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, yakni SDN 10 Pasar Melintang, SDN 02 Padang Kejai, SMPN 2 Ranah Ampek Hulu Tapan, SMPN 3 Ranah Ampek Hulu Tapan, dan SDN 09 Sungai Gambir.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan Salim Muhaimin mengatakan pendataan kerusakan dan kerugian masih berlangsung karena air banjir baru mulai surut. Pihak sekolah diminta menyampaikan laporan kerusakan kepada kecamatan dan dinas terkait untuk diteruskan melalui mekanisme penanganan satuan pendidikan terdampak bencana.

BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras kembali turun. Warga diminta mengikuti informasi resmi, mematuhi arahan petugas, dan segera menjauh dari bantaran sungai maupun lokasi yang menunjukkan tanda-tanda pergerakan tanah. ssc/mn

 

BACA JUGA