Padang. sumbarsatu.com— Kayu, batu, logam, keramik, dan beragam material lainnya menjadi bahasa pertemuan 19 pematung Indonesia dan mancanegara di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat dan kawasan Zona B di kawasan Lantai I gedung yang mangkrak itu.
Melalui bentuk-bentuk abstrak yang tidak selalu menyerupai kenyataan, para seniman menghadirkan ingatan, kegelisahan sosial, pengalaman hidup, hingga refleksi tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya.
Pertemuan itu berlangsung dalam The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition 2026, yang dibuka pada Jumat, 9 Oktober 2026. Mengusung tema “Melintas Batas: Abstraksi dan Harmoni Global”, kegiatan yang berlangsung hingga 14 Oktober tersebut menghadirkan 13 pematung mancanegara dan enam pematung Indonesia dalam ruang penciptaan, pertukaran gagasan, dan dialog kebudayaan.
Peserta Indonesia dalam The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition 2026 terdiri atas Ali Umar, Angga Elpatsa, Ardim, Irwanto, Lara Forma, John Hardi, dan Jon Wahid. Sedangkan pematung mancanegara, yakni Bettina Vogel dari Jerman, Don Wright dari Australia, Masahito Iwano dari Jepang, Laxman Bhujel dari Nepal, Nilesh Shakya dari Nepal, Noor Nazirah dari Malaysia, Sung Baeg Cho dari Korea Selatan, Totok Basuki dari Australia, Tsa Yu Han dari Taiwan, dan Ema Kissova dari Slovakia.
Kawasan Zona B di lantai dasar Gedung Kebudayaan Taman Budaya Sumatera Barat menjadi bagian dari ruang perjumpaan itu. Di tengah upaya menghidupkan kembali ruang-ruang seni, residensi ini tidak hanya menghadirkan karya untuk dinikmati pengunjung, tetapi juga membuka kesempatan bagi seniman untuk memperlihatkan proses penciptaan dan berbagi pengalaman artistik.
Nama Arby Samah menjadi titik berangkat kegiatan tersebut. Pematung asal Ranah Minang itu dikenal sebagai salah satu pelopor seni patung abstrak Indonesia. Semangatnya dalam mengeksplorasi bentuk dan material menginspirasi penyelenggara untuk mempertemukan pematung dari berbagai latar budaya dalam satu ruang kreatif.
Kurator Ali Umar menjelaskan, kekuatan kegiatan ini terletak pada pertemuan pengalaman dan cara pandang yang beragam. Seni patung menjadi bahasa bersama yang memungkinkan para seniman berdialog tanpa harus bergantung pada kesamaan bahasa verbal ataupun latar kebudayaan.
“Yang kami pertemukan bukan hanya 19 pematung, tetapi 19 pengalaman, cara pandang, dan latar budaya. Di Taman Budaya Sumatera Barat, semuanya bertemu melalui bahasa yang sama: seni patung,” kata Ali Umar, Jumat (9/10/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan arah kuratorial pameran. Patung tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek yang dinikmati karena keindahan bentuknya. Karya juga menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman personal, membaca persoalan sosial, dan menafsirkan hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Abstraksi sebagai Ruang Tafsir
Dalam pengantar kuratorialnya, Ali Umar menempatkan abstraksi sebagai bahasa visual yang terbuka terhadap beragam penafsiran. Abstraksi bukan sekadar upaya meninggalkan bentuk-bentuk yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memungkinkan seniman mengolah pengalaman dan gagasan melalui hubungan antara bentuk, ruang, tekstur, serta karakter material.
“Kayu, batu, logam, keramik, dan material lainnya mempunyai sifat serta karakter yang berbeda. Material bukan hanya bahan yang dibentuk mengikuti rancangan seniman, melainkan juga bagian dari proses artistik yang memengaruhi kemungkinan lahirnya sebuah karya,” jelas Ali Umar, seniman asal Piaman itu.
Hubungan antara gagasan dan material terlihat dalam karya-karya yang dipamerkan. Ada seniman yang mengolah kayu untuk menghadirkan refleksi tentang kehidupan dan memori. Ada pula yang menggunakan batu untuk mengeksplorasi hubungan antarbentuk, sementara material campuran dimanfaatkan untuk membicarakan keterhubungan manusia dengan alam semesta.
Ali Umar menekankan bahwa karya-karya dalam pameran ini tidak selalu harus memberikan jawaban kepada penonton. Sebaliknya, karya membuka kesempatan bagi publik untuk mengamati, merasakan, dan membangun penafsiran sendiri.
"Pengalaman melihat patung pun tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang digambarkan, tetapi berlanjut pada bagaimana bentuk, material, dan susunan elemen membangun makna," jelasnya.
Melalui pendekatan itu, abstraksi menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman seniman dan pengalaman penonton. Keduanya tidak harus menghasilkan penafsiran yang sama. Keterbukaan terhadap beragam pembacaan justru menjadi salah satu kemungkinan yang ditawarkan seni patung kontemporer.
Dari Kegelisahan Sosial hingga Ingatan Kehidupan
Keragaman gagasan tersebut dapat ditelusuri melalui sejumlah karya yang tercantum dalam katalog pameran. Don Wright, pematung berkebangsaan Australia kelahiran Edinburgh, Skotlandia, menghadirkan The Sound of Silence (2019), patung berbahan kawat berukuran 100 × 100 × 50 sentimeter.
Karya itu mengangkat persoalan komunikasi antarmanusia di tengah ketergantungan terhadap telepon seluler. Figur-figur kawat yang terpaku pada layar gawai menggambarkan ironi teknologi komunikasi: perangkat yang dirancang untuk menghubungkan manusia justru berpotensi membatasi interaksi secara langsung.
Melalui susunan figur dan bentuknya, Don Wright menjadikan persoalan sehari-hari sebagai pengalaman visual yang mengundang perenungan. Karya tersebut mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kedekatan antarmanusia.
Persoalan hubungan manusia dengan kehidupan juga muncul dalam Dialog (2025) karya Irwanto, seniman yang berbasis di Studio Dipo 31, Padang. Menggunakan kayu nangka, karya itu mengeksplorasi bentuk plasenta sebagai simbol penghubung pada awal kehidupan.
Sementara itu, Jon Wahid menghadirkan History of Love (2025), patung berbahan kayu mahoni yang mengolah bentuk abstrak-organik melalui kontur melengkung dan rongga. Figur perempuan menjadi sumber inspirasi karya tersebut. Karakter serat kayu mahoni mendukung pengungkapan kelembutan, sedangkan struktur logam dan landasan batu menghadirkan perbedaan tekstur dalam satu komposisi.
Eksplorasi hubungan manusia dengan alam terlihat dalam Twosome (2024) karya Bettina Vogel, seniman asal Jerman. Ia menggunakan batu Norwegia yang ditemukan secara alami di kawasan hutan dekat Tangen. Dua bentuk organik yang saling terhubung menjadi pusat komposisi karya berukuran 15 × 17 × 14 sentimeter itu.
Karya-karya itu memperlihatkan beragam cara seniman mengolah pengalaman personal, relasi antarmanusia, alam, dan pemikiran filosofis menjadi bahasa visual. Material bukan sekadar penopang bentuk, melainkan turut membangun karakter dan nuansa makna.

Enam pematung Indonesia yang berpartisipasi ialah Ali Umar, Angga Elpatsa, Ardim, Irwanto, John Hardi, dan Jon Wahid. Kehadiran mereka berdampingan dengan seniman mancanegara membuka ruang untuk membaca beragam pendekatan dalam seni patung, tanpa harus menyeragamkan gaya maupun rumusan estetikanya.
Angga Elpatsa, perupa asal Bukittinggi, mengembangkan praktik seni tiga dimensi melalui eksplorasi berbagai material, mulai dari batu, besi, keramik, fiberglass, kayu, hingga material bekas.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih banyak menggunakan keramik dan mengembangkan pendekatan instalasi. Pengolahan bahan, pembentukan, hingga pembakaran menjadi tahapan yang memengaruhi hasil akhir sekaligus pengalaman penciptaannya.
Sementara itu, Ardim konsisten menggunakan kayu dalam karya-karyanya. Sejumlah karyanya, seperti Pilar Memori, Penjaga Gema Tanah, dan Simfoni dalam Figur, berangkat dari refleksi tentang kehidupan manusia, pengalaman emosional, dan persoalan sosial.
Keragaman pendekatan tersebut berkelindan dengan semangat yang diwariskan Arby Samah. Penghormatan terhadap tokoh itu tidak berhenti pada pengenangan nama dan karya masa lalu, tetapi diteruskan melalui kesempatan bagi seniman masa kini untuk mengembangkan kemungkinan baru dalam seni patung.
Menghidupkan Ruang Seni, Mempertemukan Kebudayaan
Direktur Program Anita Dikarina mengatakan, gagasan penyelenggaraan residensi ini berangkat dari upaya menghidupkan ruang-ruang terbuka Taman Budaya Sumatera Barat sebagai tempat berlangsungnya aktivitas seni dan kebudayaan. Gagasan itu mengemuka dalam audiensi pada 2025, menjelang kegiatan peringatan 95 tahun Arby Samah.
“Kami ingin Sumatera Barat tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran, tetapi menjadi ruang tempat seniman dunia datang, berkarya, berdialog, mengenal budaya kita, dan membawa pulang pengalaman tentang Sumatera Barat,” ujar Anita.
Karena itu, residensi ini turut dirancang untuk memperkenalkan lingkungan dan kebudayaan Minangkabau kepada para peserta. Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan budaya di Payakumbuh dan perkampungan adat, pengalaman Makan Bajamba dan pencak silat, serta kunjungan ke Bukittinggi.
Perjumpaan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan praktik seni internasional dengan kekayaan budaya lokal. Tradisi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang beku, tetapi sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan yang dapat diolah kembali melalui penciptaan karya kontemporer.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Ahmad Zakri, yang hadir mewakili gubernur, mengapresiasi pertemuan para seniman dari berbagai negara itu. Ia berharap kegiatan tersebut memperkuat pertukaran budaya sekaligus memperkenalkan seni dan kebudayaan Minangkabau kepada masyarakat internasional.
“Kita berharap pertemuan dari berbagai negara di Sumatera Barat ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mendalami dan menghargai budaya masing-masing. Kita juga berharap terjadi dialog kebudayaan di antara para seniman,” ujarnya.
Menurut Ahmad Zakri, kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan bagian dari identitas dan harga diri masyarakat. Pertemuan lintas negara menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter seni setiap bangsa sekaligus membuka ruang saling belajar.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat Nurmatias berharap kegiatan tersebut turut memperkuat ekosistem seni patung di daerah. Sumatera Barat, menurutnya, memiliki sejarah dalam perkembangan seni patung Indonesia dan telah melahirkan sejumlah tokoh pematung.
“Harapan kita, pematung muda di Sumatera Barat bisa berkembang menjadi seniman yang dikenal di tingkat dunia. Mudah-mudahan kebudayaan menjadi rumah di negerinya sendiri,” tuturnya.
Penyelenggaraan residensi ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan, serta sejumlah pihak lainnya.
Dalam proses persiapannya, penyelenggara menghadapi kendala akibat bencana alam dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah. Kondisi itu menyebabkan beberapa seniman dari Singapura, Thailand, Filipina, dan India tidak dapat hadir. Penyelenggara menyampaikan solidaritas kepada masyarakat terdampak, sementara kegiatan tetap berlangsung bersama peserta yang dapat hadir.
Pembukaan pameran turut dihadiri seniman, budayawan, dan akademisi, antara lain Asnam Rasyid, Aprimas, Nessya Fitryona, Yasrul Sami Batubara, Yeyen Kiram, Mindasari, M. Devid (Kepala Taman Budaya), Ade F. Dira, Jefenil, Yohirman dan lainnya. Acara juga menampilkan pertunjukan bilingual dari Komunitas Bunga Padi. ssc/mn