Padang, sumbarsatu.com — Menari sambil berjalan di atas kelapa tua bukan perkara mudah. Penari harus menjaga keseimbangan tubuh sekaligus mempertahankan gerak tari ketika kedua telapak kaki berpijak pada buah kelapa yang masih utuh dengan kulitnya.
Komposisi gerak itulah yang menjadi kekuatan utama Tari Piriang di Ateh Karambia dari Kota Solok ketika tampil pada panggung penutupan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumbar-Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat malam (2/10/2026).
Tari Piriang di Ateh Karambia merupakan salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Desa Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok. Kesenian ini diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini dilestarikan oleh Sanggar Saayun Salangkah dengan pembinaan dari Dinas Pendidikan Kota Solok.
Keunikan tari tersebut terletak pada penggunaan buah karambia atau kelapa tua sebagai pijakan penari. Kelapa yang digunakan tidak dikupas kulitnya. Penari kemudian bergerak sambil mempertahankan keseimbangan di atas buah kelapa tersebut. Karena itu, setiap gerakan membutuhkan konsentrasi, penguasaan tubuh, dan keterampilan menjaga titik keseimbangan.
Tari Piriang di Ateh Karambia dibawakan oleh penari laki-laki dan perempuan. Dalam perkembangannya, kesenian tersebut tidak hanya mempertahankan bentuk pertunjukan yang diwariskan masyarakat Payo, tetapi juga menjadi bagian dari ruang presentasi kebudayaan Kota Solok dalam berbagai kegiatan seni dan kebudayaan.
Secara historis, Tari Piriang di Ateh Karambia berfungsi sebagai tari hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen padi yang diperoleh. Fungsi tersebut memperlihatkan hubungan kesenian dengan kehidupan agraris masyarakat yang melahirkan dan memeliharanya.
Kehadiran tari tersebut di panggung Saraso Fest 2026 sekaligus membawa karakter kesenian tradisional Kota Solok ke dalam perhelatan kebudayaan yang mempertemukan berbagai bentuk seni dari kabupaten dan kota di Sumatera Barat.
Selain menampilkan Tari Piriang di Ateh Karambia dari Sanggar Saayun Salangkah Kota Solok, komposisi musik Jajak Limpapeh karya Fadil Asy'ari, karya teatrikal Isak Tangih Galodo dari Sanggar Duo Limbago SMA 1 Pariangan, penampilan grup musik Million Hope, serta Randai dari Sanggar Bungo Satangkai Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota.
Tari Piriang di Ateh Karambia menjadi salah satu pertunjukan yang memiliki karakter khas karena penarinya bergerak di atas buah kelapa tua. Dalam konteks tradisinya, kesenian tersebut berkaitan dengan hiburan dan ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen.
Sementara itu, kehadiran karya teatrikal Isak Tangih Galodo memperlihatkan keterlibatan pelajar dalam merespons persoalan kebencanaan melalui seni pertunjukan. Ruang seperti ini menjadi bagian dari arah pembinaan talenta muda yang dikembangkan melalui program seni pelajar di lingkungan Taman Budaya Sumatera Barat.
Selain tari tradisional tersebut, panggung festival juga menampilkan komposisi musik dalam program Soundenai, karya seni pelajar, randai dari Kabupaten Limapuluh Kota, serta penampilan grup musik Million Hope.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan PKD Saraso Fest 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi dan tradisi, masa lalu dan masa depan, sekaligus memperkuat pengembangan objek pemajuan kebudayaan.
“Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada semua pihak yang ambil bagian dalam pekan budaya daerah ini, termasuk kepada kabupaten/kota yang mengirimkan seni sanggar tradisi,” kata Devid saat penutupan kegiatan, Jumat malam (2/10/2026).
Menurut Devid, penyelenggaraan festival tidak hanya diarahkan sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang untuk menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus memberi kesempatan kepada generasi muda mengembangkan kreativitasnya.
Sejak pembukaan pada 28 September, Saraso Fest menghadirkan kesenian tradisi dari 10 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Program tersebut antara lain menampilkan Tupai Janjang dan Talempong Uwaik-uwaik dari Agam, Tari Adok dari Solok, Gondang Boroguang dari Pasaman, Tari Mulo Pado dan Saluang Klasik dari Tanah Datar, Turuk Lagai dari Kepulauan Mentawai, Indang Tigo Sandiang dari Padang Pariaman, Tari Piriang Balenggek dari Sawahlunto, Babiola dan Tari Babuai dari Pesisir Selatan, Tari Ratok Mayik Ka Turun dari Sijunjung, dan Randai dari Limapuluh Kota.
Kehadiran kesenian dari berbagai wilayah tersebut memperlihatkan keberagaman ekspresi budaya Sumatera Barat yang tidak hanya bertumpu pada tradisi Minangkabau daratan. Turuk Lagai dari Kepulauan Mentawai, misalnya, turut menjadi bagian dari panggung festival dengan ekspresi gerak yang berkaitan dengan relasi manusia dan alam.
Talempong Uwaik-uwaik dari Agam juga menjadi salah satu kesenian yang mendapat perhatian. Kesenian yang dimainkan perempuan lanjut usia tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).
Sementara itu, Babiola dan Tari Babuai dari Pesisir Selatan membawa karakter kesenian tradisi wilayah pesisir ke panggung Taman Budaya. Babiola memiliki karakter organologi dan warna bunyi yang khas untuk membawakan melodi lagu-lagu tradisi Pesisir Selatan, sedangkan Tari Babuai dikenal sebagai tari komunal yang digunakan dalam sejumlah perhelatan adat masyarakat setempat.
Pada hari-hari terakhir festival, panggung Saraso Fest juga memperlihatkan pertemuan antara tradisi, pendidikan seni, dan kreativitas generasi muda. Pada Kamis (1/10), misalnya, Sanggar Sagatok Siriah dari SMP Negeri 1 Padang tampil dengan karya tari kolosal Mambangkik Marwah. Kelompok tersebut merupakan salah satu peserta yang berkembang melalui program Skola Art Fest atau Panggung Seni Pelajar.
Selain seni tradisi, Saraso Fest 2026 memberi ruang cukup besar bagi penciptaan musik baru melalui Parade Komposer Muda atau Soundenai. Program tersebut mempertemukan instrumen dan repertoar tradisional dengan teknologi musik digital.
Sejumlah karya yang tampil dalam program itu antara lain Pauh in Resonance karya Dimas Hidayatullah, RASA karya Rofi Rahmatullah, TA_GA karya Rianda Putra, dan Jajak Limpapeh karya Fadhil Asy'ari. Pauh in Resonance, misalnya, mengolah repertoar Saluang Pauh melalui sampling, looping, delay, dan filtering.
Komposisi RASA karya Rofi Rahmatullah bersama kelompok Hiraeth mengangkat memori kolektif masyarakat Sumatera Barat terhadap bencana alam yang terjadi pada Desember 2025. Karya tersebut menggunakan musik etnik Minangkabau sebagai bagian dari bahasa musikal untuk merefleksikan suasana ketenteraman, bencana, hingga kehilangan.
M. Devid sebelumnya menjelaskan bahwa Saraso Fest diarahkan untuk menjadikan Taman Budaya Sumatera Barat sebagai “etalase hidup” sekaligus “bengkel kreatif” bagi kebudayaan Minangkabau dan etnis lainnya. Program tersebut didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik BOP Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan melalui program Presentasi Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Selain pertunjukan, Saraso Fest juga melibatkan pelaku UMKM melalui bazar kuliner dan kerajinan. Rangkaian festival diperkuat sejumlah program pendukung yang berlangsung dalam periode September hingga Oktober, antara lain Ganggam Tari Kontemporer, Alek Teater 10, pameran seni rupa West Sumatra Visual Art Exhibition (WESVAE), workshop kriya, workshop manajemen pertunjukan, seminar seni budaya, Festival Sastra Marah Rusli, Puitisenja, serta Festival Film Pendek Andalasinema.
Dengan cakupan tersebut, PKD Saraso Fest 2026 tidak hanya mempertemukan pertunjukan tradisi dari berbagai kabupaten dan kota, tetapi juga memperlihatkan pola pengembangan kebudayaan yang menghubungkan pelestarian tradisi, pendidikan seni, penciptaan karya baru, teknologi, dan regenerasi pelaku seni.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dalam sejumlah pertunjukan meskipun hujan turun cukup deras. Pada hari kelima, misalnya, lima kelompok seni tetap tampil di panggung Taman Budaya dalam kondisi hujan dan pertunjukan berlangsung meriah.
Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 resmi ditutup pada Jumat malam, 2 Oktober 2026, setelah menghadirkan beragam seni tradisi, karya kontemporer, musik, dan kreativitas generasi muda di UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Padang.
Festival yang dimulai pada 28 September 2026 tersebut menjadi salah satu agenda kebudayaan dalam rangkaian Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat. Meskipun penutupan utama dilaksanakan pada Jumat malam, sejumlah rangkaian kegiatan masih berlangsung hingga Sabtu, 3 Oktober 2026. ssc/mn