Turuk Lagai dari Maileppet Bawa Pesan Sakral Anak Muda Mentawai di Saraso Fest 2026

Kamis, 01/10/2026 13:23 WIB

Padang, sumbarsatu.com — Gerak burung dan monyet di tengah hutan Mentawai hadir di panggung Taman Budaya Sumatera Barat melalui Turuk Lagai, tari tradisi yang dibawakan anak-anak muda dari Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026, Rabu (30/9/2026).

Tergabung dalam Komunitas Sinuruk Mentawai, para penari dan pemusik membawa kisah tentang hubungan manusia dengan alam melalui gerak tubuh yang menirukan perilaku satwa di habitatnya.

Turuk Lagai tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga alam sekaligus mempertahankan identitas budaya Mentawai.

Salah seorang penari, Ardi Surinosakulo, mengatakan pertunjukan yang mereka bawakan mengisahkan Uliat Manyang dan Bilou. Para penari menirukan karakter serta gerakan satwa, termasuk burung dan monyet, terutama bilou yang merupakan primata endemik Mentawai.

“Penampilan yang kami tampilkan tadi adalah bagaimana menirukan keadaan alam, tata cara hewan bebas di alam liar. Seekor burung dan seekor monyet bercengkerama di dalam hutan yang asri, di hutan yang tidak dirusak, hutan yang kita jaga. Hutan Mentawai adalah tempatnya hewan endemik dan juga rumah kita orang Mentawai,” ujar Ardi.

Melalui gerak tubuh, para penari menghadirkan suasana kehidupan satwa di hutan. Gerakan tersebut sekaligus menggambarkan hubungan masyarakat Mentawai dengan lingkungan yang menjadi ruang hidup mereka.

Bagi komunitas tersebut, Turuk Lagai memiliki hubungan erat dengan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Mentawai. Tari menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap alam yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Iringan musik pertunjukan menggunakan alat musik tradisional gajeuma yang berbentuk panjang serta sinai. Keterbatasan alat yang dapat dibawa dari Siberut tidak menghalangi mereka untuk tetap mempertahankan bunyi pengiring. Mereka menggunakan botol kaleng sebagai pengganti sinai dalam pertunjukan tersebut.

Seluruh penampil yang hadir di panggung Saraso Fest merupakan anak muda. Mereka tidak sekadar tampil untuk memperkenalkan kesenian Mentawai kepada penonton, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

“Motivasinya adalah mari kita menjaga budaya kita, karena budaya adalah identitas kita orang Mentawai,” kata Ardi.

Bagi Ardi dan rekan-rekannya, perkembangan teknologi tidak semestinya membuat generasi muda menjauh dari kebudayaan sendiri. Teknologi justru dapat digunakan untuk memperkenalkan adat dan kesenian Mentawai kepada khalayak yang lebih luas.

“Harapan kami untuk anak muda, mari kita mengenal budaya kita lebih dalam lagi. Jangan terbawa suasana oleh teknologi, mari kita jadikan teknologi itu sebagai sarana bagaimana kita menyuarakan adat istiadat kita,” katanya.

Penampilan Komunitas Sinuruk Mentawai dalam Saraso Fest 2026 juga memiliki cerita tersendiri. Mereka sejatinya dijadwalkan tampil pada Selasa (29/9/2026). Namun, perjalanan dari Siberut menuju Padang membuat rombongan yang menggunakan Kapal Mentawai Express tidak dapat mengejar jadwal pementasan.

Panitia kemudian memberikan kesempatan kepada mereka untuk tampil sehari berikutnya. Kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan menghadirkan Turuk Lagai di hadapan penonton Saraso Fest.

Kehadiran mereka di panggung Taman Budaya Sumatera Barat mempertemukan tradisi Mentawai dengan ruang pertunjukan yang dihadiri masyarakat dari berbagai daerah. Gerak satwa, bunyi gajeuma, dan permainan para penampil muda menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebudayaan Mentawai melalui generasi penerusnya.

Komunitas Sinuruk Mentawai berharap pemerintah daerah tetap memberikan ruang bagi kesenian Mentawai untuk tumbuh dan dipentaskan. Mereka ingin kesenian tersebut tidak berhenti pada satu pertunjukan, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Mari kita bersama-sama menjaga hasil karya kita, hasil alam kita, hasil budaya kita. Kami berharap jangan meninggalkan kami, terutama Mentawai. Mari Sumatera Barat memakai kami lebih lanjut agar budaya ini senantiasa terpancar sampai ke belahan dunia,” pungkas Ardi.

PKD Saraso Fest 2026 berlangsung di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang, 28 September hingga 3 Oktober 2026. Festival tersebut menghadirkan kesenian dari 10 kabupaten dan kota di Sumatera Barat dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat.

Kehadiran Turuk Lagai dari Maileppet memperlihatkan satu sisi penting dari perhelatan tersebut: kebudayaan tidak hanya dipertontonkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dibawa oleh generasi muda untuk dibicarakan kembali dalam konteks kehidupan hari ini—tentang identitas, alam, dan keberlanjutan tradisi. ssc/



BACA JUGA