Buku Yose Hendra Mitigasi Kultural Sumbar Raih IKAPI Award 2026

Kamis, 01/10/2026 09:46 WIB
Penghargaan diberikan pada pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Penghargaan diberikan pada pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

 Jakarta, sumbarsatu.com — Pengetahuan masyarakat dalam membaca tanda-tanda alam, mengenali lingkungan, dan menghadapi ancaman bencana mendapat ruang dalam ekosistem perbukuan nasional.

Buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat karya Yose Hendra menjadi penerima tunggal Local Content Book of the Year dalam IKAPI Awards 2026, kategori baru yang untuk pertama kalinya diberikan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Penghargaan tersebut diberikan pada pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Kategori baru itu secara khusus ditujukan bagi buku yang mengangkat kekayaan budaya, tradisi, dan kearifan lokal daerah di Indonesia serta mampu memperkenalkannya kepada pembaca yang lebih luas.

Penghargaan terhadap buku Mitigasi Kultural menjadi relevan di tengah kondisi Indonesia yang memiliki risiko bencana di berbagai wilayah. Data terbaru Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) yang diperbarui BNPB pada 29 September 2026 menunjukkan 149 dari 514 kabupaten/kota berada dalam kelas risiko tinggi. IRBI menghitung risiko berdasarkan tiga komponen utama, yakni bahaya, kerentanan, dan kapasitas.

Karena itu, mitigasi bencana tidak hanya berhubungan dengan teknologi, infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kebijakan pemerintah. Pengalaman masyarakat dalam mengenali lingkungan dan merespons ancaman juga menjadi bagian dari pengetahuan yang dapat didokumentasikan, diteliti, dan dipertemukan dengan pengetahuan ilmiah.

Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha mengatakan kategori Local Content Book of the Year tidak semata-mata melihat buku dari tema lokal, tetapi juga mempertimbangkan kualitas karya dan kebermanfaatannya bagi pembaca di luar daerah asal.

Menurut Arys, penerbit daerah memiliki posisi penting karena berada dekat dengan persoalan, sejarah, budaya, dan pengetahuan yang berkembang di masyarakat.

“Yang kami inginkan adalah penerbitnya penerbit setempat. Kalau bicara soal Sumatra Barat, misalnya kita harapkan yang mengusulkan adalah penerbit Sumatra Barat dan diterbitkan oleh penerbit Sumatra Barat,” kata Arys.

Ia mengatakan, prinsip tersebut penting agar pengetahuan yang tumbuh di daerah tidak hanya menjadi objek yang dibicarakan dari luar, tetapi memiliki kesempatan untuk ditulis, diterbitkan, dan disebarluaskan oleh ekosistem perbukuan di daerah itu sendiri.

Persoalan kebencanaan menjadi salah satu konteks yang menurut Arys memiliki relevansi lintas daerah. Pengalaman sebuah komunitas dalam menghadapi bencana dapat dipelajari oleh masyarakat lain yang menghadapi ancaman serupa.

“Bahkan bukan hanya di daerah setempat, tetapi juga di daerah-daerah lain yang memiliki persoalan kebencanaan yang sama dan mitigasi kultural,” ujarnya.

Buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka Utama di Padang merekam pengetahuan masyarakat dalam berhubungan dengan lingkungan dan menghadapi ancaman bencana.

Buku tersebut merupakan salah satu hasil program Dana Indonesiana 2024 Kementerian Kebudayaan yang diterima Yose Hendra. Selain buku, program tersebut juga melahirkan film dokumenter Pusaka Tangguh.

Penelitian dalam buku tersebut menelusuri sejumlah bentuk pengetahuan masyarakat Sumatra Barat, antara lain petatah-petitih, tambo, syair, toponimi, ritual, pantangan, rumah gadang, hingga uma di Mentawai. Keseluruhan unsur tersebut dibaca sebagai bagian dari pengalaman masyarakat dalam memahami ruang hidup dan menghadapi perubahan maupun ancaman lingkungan.

Yose Hendra mengatakan dokumentasi terhadap pengetahuan lokal penting karena masyarakat memiliki pengalaman panjang dalam membaca lingkungan tempat mereka hidup.

“Bencana boleh datang sebagai peristiwa alam, tetapi keselamatan ditentukan oleh pengetahuan manusia dalam membaca alam dan mewariskannya kepada generasi berikutnya,” kata Yose.

Ia menekankan bahwa pengetahuan lokal tidak ditempatkan untuk menggantikan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat dapat menjadi sumber yang diteliti dan diuji bersama pendekatan ilmiah.

“Yang kita perlukan bukan memilih antara pengetahuan modern dan pengetahuan lokal. Yang kita perlukan adalah mempertemukan keduanya untuk menyelamatkan manusia,” ujarnya.

Gagasan tersebut memiliki konteks yang kuat dalam kebijakan kebencanaan Indonesia. BNPB melalui IRBI tidak lagi semata-mata menggunakan istilah “rawan”, tetapi mengukur risiko berdasarkan bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Perubahan perspektif itu menempatkan kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam mengurangi dampak sebagai salah satu bagian penting dalam pengurangan risiko bencana.

Dalam konteks itu, pengetahuan lokal dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari kapasitas sosial masyarakat. Cerita yang diwariskan, penamaan tempat, larangan tertentu, pola permukiman, bentuk bangunan, hingga pengetahuan mengenai perubahan alam menyimpan informasi tentang cara sebuah komunitas beradaptasi dengan lingkungannya.

Pengetahuan tersebut tentu tidak otomatis dapat diperlakukan sebagai fakta ilmiah. Sebagian merupakan pengalaman budaya, simbol, keyakinan, atau ingatan kolektif yang perlu dikaji secara kritis. Namun, justru melalui penelitian dan dokumentasi, pengetahuan itu dapat dipertemukan dengan ilmu kebencanaan modern untuk melihat bagian mana yang memiliki nilai praktis, historis, ekologis, maupun sosial.

Bagi Sumatra Barat, konteks tersebut menjadi penting karena wilayah ini memiliki bentang geografis yang berhadapan dengan berbagai ancaman kebencanaan. Data IRBI 2025 yang diterbitkan BNPB, misalnya, masih menempatkan sejumlah kabupaten di Sumatra Barat dalam kategori risiko tinggi. Pada pemutakhiran 2026, Pesisir Selatan tercatat memiliki skor 197,20 dan Pasaman Barat 203,20, keduanya berada dalam kelas risiko tinggi. 

Dengan kondisi tersebut, buku yang mendokumentasikan pengalaman masyarakat menghadapi lingkungan dan ancaman bencana tidak hanya memiliki arti sebagai karya budaya. Ia juga menjadi arsip pengetahuan yang dapat dibaca kembali ketika masyarakat dan peneliti membicarakan kesiapsiagaan bencana.

Naik Daun Penerbit Lokal

Direktur Rumahkayu Pustaka Utama, Alizar Tanjung, mengatakan penghargaan tersebut memperlihatkan peluang penerbit lokal untuk membawa persoalan daerah ke tingkat nasional.

“Ini bukan hanya tentang satu buku. Ini menunjukkan bahwa penerbit lokal dapat mengangkat isu daerah melalui riset yang serius dan menghasilkan karya yang dapat berbicara di tingkat nasional,” kata sastrawan yang juga Ketua IKAPI Sumbar ini.

Menurut Alizar, Sumatra Barat memiliki tradisi menulis dan perbukuan yang panjang. Tantangannya adalah menjaga tradisi tersebut tetap hidup sekaligus memperluas jangkauan karya-karya yang lahir dari daerah.

Penghargaan terhadap Mitigasi Kultural juga berlangsung dalam momentum perkembangan ekosistem perbukuan nasional. IIBF 2026 berlangsung 30 September–4 Oktober 2026 di Assembly Hall dan Lower Level JICC, Jakarta. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-46 IIBF. 

Selain pameran buku, IIBF 2026 menghadirkan berbagai program, termasuk diskusi dan peluncuran buku, pertemuan penulis, program anak, Story Market, Book-to-Screen Workshop, serta Lit Connect yang mempertemukan pelaku industri perbukuan dan industri kreatif.

IKAPI sendiri sejak awal menyebut IKAPI Awards sebagai bentuk apresiasi kepada penulis, pegiat literasi, dan insan perbukuan yang berperan dalam menggerakkan industri penerbitan buku di Indonesia. Pada 2026, kategori Local Content Book of the Year ditambahkan untuk memberikan perhatian khusus kepada karya yang mengangkat budaya, tradisi, dan kearifan lokal Nusantara.

Menbud: Penguatan Literasi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan penyelenggaraan IIBF sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem literasi, penerbitan, dan ekonomi budaya. Pemerintah, kata dia, mendukung IIBF sebagai ruang yang mempertemukan dunia buku dengan industri kreatif.

“Kita menyambut baik penyelenggaraan IIBF 2026 ini yang diposisikan sebagai festival buku sekaligus hub dari industri kreatif berbasis konten,” kata Fadli saat membuka IIBF 2026.

Menurut Fadli, IIBF memiliki fungsi dalam literasi publik dan keterlibatan pembaca, pengembangan industri penerbitan dan profesional, serta kolaborasi dalam hak cipta, kekayaan intelektual, dan industri kreatif.

Ia juga mendorong penulis dan penerbit memperbanyak karya mengenai Indonesia karena masih banyak perjalanan sejarah dan peradaban Nusantara yang belum dituangkan dalam buku dan diperkenalkan kepada masyarakat dunia.

“Masih terlalu banyak yang belum ditulis tentang perjalanan peradaban di Nusantara ini. Masih terlalu banyak yang belum ditulis. Apalagi dibaca,” kata Fadli.

Upaya memperluas jangkauan karya Indonesia juga berkaitan dengan penerjemahan dan perdagangan hak cipta. IKAPI pada 2026, antara lain, menjalankan Indonesia Rights Fair Fellowship dengan dukungan Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring internasional dan membuka peluang penerbitan karya Indonesia di luar negeri.

Dalam kerangka tersebut, buku bermuatan lokal tidak hanya dipahami sebagai buku tentang suatu daerah. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pengalaman, pengetahuan, sejarah, dan cara pandang masyarakat Indonesia kepada pembaca di daerah lain maupun pembaca internasional.

Mitigasi Kultural membawa persoalan tersebut pada wilayah yang sangat konkret: bagaimana pengalaman masyarakat menghadapi bencana dapat disimpan dalam bentuk buku.

Bagi kebencanaan, dokumentasi semacam itu penting karena masyarakat bukan hanya penerima informasi mengenai risiko. Mereka juga memiliki ingatan mengenai lingkungan, pengalaman menghadapi bencana, serta cara-cara bertahan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Penghargaan IKAPI Award 2026 terhadap buku tersebut sekaligus membuka ruang lebih luas bagi pembicaraan mengenai hubungan antara pengetahuan lokal, budaya, penerbitan, dan mitigasi bencana.

Pengetahuan yang selama ini hidup dalam masyarakat dapat didokumentasikan menjadi buku, dikaji secara kritis, dan dipertemukan dengan ilmu pengetahuan modern sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana. ssc/mn



BACA JUGA