Sikabu-Kabu, sumbarsatu.com — Setelah empat tahun tidak digelar, Khatam Al-Qur’an kembali dilaksanakan di Masjid Abrar Jorong Sikabu-Kabu pada 26–27 September 2026.
Tahun ini, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perayaan selesainya proses belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengajak masyarakat mengenang kembali peran surau dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Khatam Al-Qur’an Sikabu-Kabu 2026 mengusung tema “Mengenang Surau untuk Menapaki Jalan Masa Depan Anak-Anak Sikabu-Kabu.” Tema tersebut menjadi gagasan utama dalam rangkaian kegiatan yang memadukan prosesi khatam dengan tradisi, kesenian, arsip, serta diskusi mengenai posisi surau dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Surau dalam tradisi Minangkabau tidak hanya menjadi tempat belajar mengaji. Surau juga berfungsi sebagai ruang pendidikan yang mempertemukan agama, adat, kebudayaan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dari lingkungan surau, generasi muda tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga belajar tentang keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, serta kehidupan bersama di tengah masyarakat.
Ketua pelaksana Khatam Al-Qur’an Sikabu-Kabu 2026, Roni Keron Datuak Marajo Ciindo, mengatakan tema tersebut dipilih untuk mengajak masyarakat melihat kembali nilai-nilai yang pernah tumbuh dalam kehidupan surau.
“Melalui Khatam Al-Qur’an tahun ini, panitia ingin mengajak masyarakat melihat kembali nilai-nilai tersebut. Mengenang surau tidak dimaksudkan untuk mengembalikan masyarakat sepenuhnya kepada kehidupan masa lalu, tetapi menjadikan pengalaman masa lalu sebagai bahan untuk membaca kehidupan hari ini dan membayangkan kebutuhan pendidikan generasi mendatang,” ujar Roni, Senin (21/9/2026).
Menjelang pelaksanaan, masyarakat bersama orang tua peserta khatam turut menyiapkan lokasi kegiatan. Masjid Abrar Sikabu-Kabu ditata dengan suasana yang mengingatkan kembali pada lingkungan surau. Ruang tersebut nantinya menjadi tempat berlangsungnya prosesi Khatam Al-Qur’an sekaligus berbagai kegiatan pendukung.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berupa prosesi khatam. Panitia juga menyiapkan arak-arakan, pertunjukan kesenian yang berkaitan dengan tradisi surau, seperti Salawat Dulang dan Nazam, diskusi publik, serta pameran foto dan arsip ulama-ulama Minangkabau masa lalu.
Buya Apria Putra, yang turut terlibat dalam rangkaian diskusi, menyambut baik gagasan Khatam Al-Qur’an Sikabu-Kabu tahun ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali tradisi surau yang telah berlangsung dalam kehidupan masyarakat Minangkabau selama berabad-abad.
“Konsep Khatam Qur’an yang direncanakan di Sikabu-Kabu ini menarik. Agaknya, panitia ingin mengenalkan kembali tradisi surau yang berlangsung berabad-abad lamanya. Kita kembali memperkenalkan mangaji duduak, tradisi yang melingkupinya seperti Sifat Dua Puluah, salawat, Salawat Dulang, dan sebagainya,” kata Buya Apria.
Ia mengatakan, penguatan kembali tradisi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan jati diri, adat, dan syarak di tengah perubahan kehidupan masyarakat.
“Ini sebenarnya adalah momentum yang pas untuk menggerakkan tradisi, untuk mempertahankan jati diri, adat dan syarak, di tengah degradasi yang kian menggerogoti,” ujarnya.
Panitia berharap Khatam Al-Qur’an Sikabu-Kabu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Masyarakat diharapkan terlibat sejak persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari pengumpulan arsip, penyediaan benda pameran, pertunjukan seni, arak-arakan, gotong royong, hingga pelibatan generasi muda dalam produksi kegiatan.
Dengan menghidupkan kembali suasana dan ingatan tentang surau, Khatam Al-Qur’an Sikabu-Kabu 2026 hendak membuka ruang percakapan tentang pendidikan dan kebudayaan anak-anak Minangkabau hari ini.
Jika dahulu surau mampu melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan agama, adat, budaya, kemandirian, dan tanggung jawab terhadap nagari, pertanyaannya kemudian adalah ruang pendidikan dan kebudayaan seperti apa yang dibutuhkan anak-anak Sikabu-Kabu untuk menghadapi masa depan. ssc/rel