Ijazah

Rabu, 09/09/2026 11:28 WIB
-

-

OLEH Suryadi-Universitas Leiden, Belanda

 

“IJAZAH” menurut pengertian yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)–lihat misalnya edisi 1988 halaman 320–adalah “surat tanda tamat belajar”. Dalam Bahasa Inggris, padanan kata ini adalah “diploma”, yang berarti “a document conferring some honour or privilege, such as a university degree, etc.” (lihat: The Chambers Dictionary, 1983:421). Dalam Bahasa Melayu (yang umumnya kini dipakai di Malaysia) dikenal kata “sijil” yang berarti “surat, dokumen atau perakuan rasmi yang dikeluarkan oleh sekolah, pihak berkuasa dan sebagainya yang memperakui sesuatu perkara” (https://kamus.dbp.gov.my/; diakses 08-09-2026).

Mungkin ada yang bertanya, siapa kiranya yang pertama kali menerima ijazah di dunia ini? Sangat mungkin penerimanya adalah mahasiswa pertama yang lulus dari universitas tertua di dunia ini: Universitas al-Qarawiyyin di Maroko yang didirikan tahun 859 AD. Boleh jadi demikian, karena kata “ijazah” berasal dari Bahasa Arab, bahasa yang juga dipakai wilayah Maroko.

Selembar ijazah adalah simbol bagi seseorang yang pernah bersekolah. Ia mungkin bukan penanda bahwa Anda pintar, tapi setidaknya ia adalah bukti bahwa Anda sudah berusaha untuk tidak tetap bodoh. Paling tidak ijazah adalah penanda bahwa Anda pernah mencoba menggerakkan isi kepala Anda: menyuntikkan rasionalitas ke dalam sel-sel otak yang gelap diselumuti kebodohan.

Oleh karena itu, kiranya terlalu tendesius ketika Rocky Gerung mengatakan bahwa “ijazah itu tanda seseorang pernah sekolah, bukan tanda dia pernah berpikir.” (kursif dari Suryadi).

Selembar atau lebih ijazah yang Anda miliki, sampai batas tertentu, adalah ekstrak rekaman dari perjalanan/perjuangan hidup Anda. Seseorang yang belajar dengan baik dan kemudian menerima ijazah atas usahanya itu akan merasa bangga dengan dirinya. Ketika otoritas institusi pendidikan dimana dia sudah belajar dengan sungguh-sungguh menyerahkan ijazah sebagai penanda akhir studinya, dia pasti akan menerimanya dengan kepala tegak dan penuh percaya diri.  

Tentu saja, jika seseorang mau, dia bisa saja dengan mudah mendapatkan selembar ijazah palsu, apalagi jika dia punya kekuasaan, uang bergudang, dan hidup di negeri yang penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme. Namun, tindakannya itu hanya akan mengentalkan gula darahnya dan mengacak-acak detak jantung dan pola tidurnya. Dia telah membohongi dirinya sendiri, keluargaya, orang lain, dan juga Tuhannya (jika dia percaya pada suatu agama).

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kata “ijazah” sudah menjadi sangat populer di sebuah negeri yang mendapat nama ejekan “Konoha” (Kingdom of Nepotisme, Oligarchy and Hidden Ambition). Kata “ijazah” kini berseliweran, sabagaimana dapat dikesan dari perbicangan dalam acara-cara talkhow dan media sosial di negeri itu.

Negeri “Konoha” geger karena diduga kuat salah seorang pemimpinnya telah memakai ijazah orang lain untuk meraih jabatan politik. Belakangan muncul pula dugaan kuat bahwa anak si pemalsu ijazah itu pun mengikuti perbuatan ayahnya: ikut melakukan pemalsuan ijazah untuk mendapatkan kursi wakil raja di Kerjaan “Konoha”.

Sejak itu, negeri “Konoha” geger. Muncul pro-kontra di antara pendukung dan yang mengkritisi si tersangka pelacur ijazah itu di kalangan rakyat. Alih-alih memberikan klarifikasi dan mencoba mengakhiri kisruh yang sudah terjadi dalam masyarakat, hal yang mestinya dia lakukan sebagai seorang mantan pemimpin negeri, si terduga pemalsu ijazah itu malah melakukan berbagai manuver politik dengan mengerahkan para buzzer-nya. Dan dia tampaknya menikmatinya sambil terus melakukan gerilya politik untuk mempertahankan kekuasaan keluarganya yang sudah mendapat sorotan luas di dalam negeri “Konoha”. Negeri itu sendiri sudah centang-perenang, politik dan ekonominya, sejak dia menjadi penguasa tahun 2014, karena dia mengintervensi hampir semua institusi negara (termasuk instisusi-institusi humum) untuk melanggengkan kekuasaannya bersama keluarganya dan membuat utang yang menggunung sehingga mencekik merih rakyat jelata.

Tiba-tiba semua orang yang sekolah di negeri “Konoha” ingin melihat ijazah mereka lagi, yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak mereka lihat dan raba, tersimpan dalam lemari-lemari tua atau terselip dalam map-map usang di antara barang-barang dalam lemari di rumah, yang selama ini jarang disentuh.

Si mantan penguasa yang diduga memalsukan ijazah itu pun tak kalah sibuknya. Berbagai intrik dia lakukan untuk mengulur-ulur waktu agar dia dapat terhindar dari keharusan untuk memperlihatkan ijazahnya yang diduga palsu atau malah tak ada.

Sambil tetap berkelit dengan berbagai cara, dia kekeuh tidak ingin menunjukkan kepada publik bahwa ia benar-benar punya ijazah asli yang dikeluarkan oleh sebuah universitas dimana ia mengaku pernah kuliah. Maka dia buatlah reuni-reunian untuk meyakinkan publik bahwa ia memang pernah kuliah di universitas tersebut. Para pembela hukumnya terus berargumen nonsens sambil terus memanjangkan urat leher mereka dan berteriak-teriak sampai air liur mereka kering, dan sering pula disertai dengan ancaman-ancaman. Rektor univeritas itu pun mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang jauh dari rasionalitas akademik dengan tujuan untuk membela si terduga pelacur ijazah itu.

Maka kian gonjang-ganjinglah negeri “Konoha” itu. Mulai dari warung kopi sampai gedung parlemen, mulai dari studio-sudio TV sampai berbagai platform medisia sosial, mulai dari pasar-pasar becek sampai lobi-lobi hotel mewah, orang-orang memperdebatkan ijazah lelaki yang dulu menjadi juragan mebel itu.

Kian lama intensitas gonjang-ganjing itu semakin tinggi, dan sekarang sudah merembes pula kepada anaknya yang menjadi wakil raja.

Dan aneh bin ajaib…kaum intelektual negeri “Konoha” diam saja melihat penghinaan dan pelecehan terhadap dunia akademik dan rasionalitas berpikir ini. Mereka membiarkan saja beberap orang anak bangsa yang berjuang mengungkapkan kelicikan si mantan penguasa “Konoha” itu.

Merasa mendapat angin, mantan penguasa “Konoha” itu terus muncul dengan lagak pilon dan cengengesan. Dia malah kian keblinger melakukan cawe-cawe politik, sama sekali tak menghargai pemerintah yang menjadi suksesornya. Manusia yang tampaknya bermuka badak dan sudah kehilangan rasa malu itu mungkin puas melihat gonjang-ganjing yang terjadi dalam masyarakat “Konoha” dalam menanggapi kasus ijazah (palsu)nya.

Namun, dalam laut dapat diajuk, dalam hati siapa tahu. Siapa tahu di dalam hatinya terakumulasi rasa malu dan kecut-ciut. Muka ketawa, jiwa menderita.

Keberanian beberapa orang anak bangsa (RS, TT, DI, dll.) dalam mengungkap praktek pelacuran ijazah di kalangan politisi negeri “Konoha”, yang tampaknya sudah lama berlangsung, perlu diacungi jempol. Sepanjang negeri itu masih disungkup budaya korupsi dan nepotisme, para “diploma whores” itu, yang tersebar di berbagai lembaga pemerintah, mungkin masih akan terus cengengesan dan merasa jumawa.

Tapi sejarah negeri “Konoha” akan mencatat laku lampah mereka dengan tinta merah. Mudah-mudahan negeri “Konoha” akan menjadi lebih baik, sehingga tidak ada tempat lagi bagi para “diploma prostitutes” yang sangat hina dan memalukan itu.

 

‘s-Hertogenbosch, 10 September 2026

 



BACA JUGA