Jakarta, sumbarsatu.com--Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui adanya potensi gangguan ekonomi di daerah terdampak bencana, terutama akibat aktivitas lima gunung berapi.
Salah satu yang paling terasa adalah erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengganggu penerbangan dan memaksa sejumlah bandara ditutup. Namun, Airlangga belum dapat memperkirakan nilai kerugian akibat penutupan bandara tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai rangkaian bencana, mulai erupsi gunung berapi, kebakaran hutan dan lahan, hingga gempa di Nusa Tenggara Timur, belum akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
Menurut dia, durasi bencana relatif singkat sehingga aktivitas ekonomi masih dapat berjalan. Dampaknya juga dinilai jauh lebih kecil dibandingkan banjir Sumatera tahun lalu, sehingga belum diperlukan insentif ekonomi khusus.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memiliki pandangan berbeda. Ia menilai erupsi Anak Krakatau berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 melalui gangguan penerbangan, pariwisata, logistik, perdagangan, dan jasa perkotaan. Meski demikian, dampaknya terhadap PDB nasional diperkirakan tetap terbatas.
Gangguan paling nyata terjadi pada sektor penerbangan. Hingga Senin (7/9/2026), sebanyak 2.961 penerbangan domestik dan internasional terdampak, dengan sekitar 341 ribu penumpang mengalami gangguan perjalanan. Dampak tersebut mencakup pembatalan, penundaan, dan pengalihan penerbangan.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto memperkirakan maskapai berpotensi kehilangan Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari. Estimasi itu mencakup hilangnya pendapatan Rp8-15 miliar akibat pembatalan penerbangan, tambahan biaya operasional Rp1,5-3 miliar, serta kompensasi dan layanan penumpang Rp500 juta-Rp1,2 miliar.
Dampaknya juga berpotensi merembet ke rantai pasok dan perdagangan. CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi memperkirakan gangguan penerbangan dapat menunda arus ekspor-impor melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Jika berlangsung delapan jam, nilai perdagangan yang tertunda diperkirakan sekitar 28 juta dolar AS, sedangkan dalam 48 jam dapat mencapai sekitar 168 juta dolar AS.
Meski demikian, besarnya gangguan pada sektor tertentu belum serta-merta menunjukkan pelemahan ekonomi nasional. Skala dan durasi bencana menjadi faktor penentu apakah gangguan tersebut hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap pertumbuhan.
Bantuan Pangan Diperpanjang
Di tengah situasi tersebut, pemerintah memastikan program bantuan pangan berlanjut hingga akhir 2026.
Airlangga mengatakan bantuan beras 10 kilogram per bulan yang semula berakhir September akan diperpanjang hingga Desember.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan bantuan pangan tahap kedua untuk Juli, Agustus, dan September disalurkan sekaligus dan ditargetkan tuntas pada September. Bantuan menyasar kelompok desil 1 hingga 4 dengan jumlah lebih dari 33,2 juta keluarga.
Perpanjangan bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Sementara untuk dampak bencana terhadap perekonomian, pemerintah masih menilai gangguannya bersifat terbatas, meski sektor penerbangan dan logistik telah merasakan tekanan cukup besar.ssc/mn