Usai pertunjukan Bala Bhumi sekelompok peserta yang tergabung dalam Sekolah Transisi Energi Berkeadilan berdiskusi dengan Afrizal Harun, sutradara Bala Bhumi.foto oji
OLEH Rio Faldo Nainggolan-Peserta Sekolah Transisi Energi Berkeadilan
SEBUAH pertunjukan teater digelar di Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang. Pertunjukan bertajuk Bala Bhumi tersebut menampilkan dialog, gerak, dan ekspresi para aktor di atas panggung untuk menggambarkan dampak bencana dan kerusakan lingkungan terhadap alam, manusia, hewan, tumbuhan, mineral, serta seluruh unsur biosfer.
Pertunjukan dimulai dengan gerak tubuh para aktor yang menggambarkan berbagai jenis hewan, seperti gorila, simpanse, harimau, hingga burung. Gerakan tersebut menggambarkan hubungan yang indah dan damai antara manusia dan makhluk nonmanusia. Setidaknya, hubungan itu terlihat harmonis sebelum muncul tindakan-tindakan yang merusak bumi.
Gerakan berikutnya membawa penonton pada gambaran tentang pembangunan yang dilakukan pemerintah ataupun korporasi dengan mengatasnamakan kesejahteraan. Pembangunan yang semestinya menghadirkan kemakmuran justru digambarkan sebagai salah satu pintu masuk munculnya bencana dan kerusakan lingkungan yang kemudian dirasakan manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Merespons kerusakan tersebut, muncul perlawanan. Perlawanan itu diekspresikan melalui gerakan tari tradisional Minangkabau, Ulu Ambek, hingga Haka dari suku Maori di Selandia Baru. Pertunjukan kemudian berakhir ketika para aktor berkumpul dan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada penonton.
Membaca Bala Bhumi dari Perspektif Filsafat
Usai pertunjukan Bala Bhumi, sekelompok peserta yang tergabung dalam Sekolah Transisi Energi Berkeadilan berdiskusi dengan Afrizal Harun, sutradara Bala Bhumi. Diskusi tersebut dibuka oleh Z. M. Syafiq, mantan mahasiswa filsafat dari Yogyakarta yang juga dikenal sebagai penikmat teater.
Syafiq memberikan apresiasi atas terselenggaranya pertunjukan tersebut. Namun, ia tidak berhenti pada pengalaman estetis. Ia mencoba membaca Bala Bhumi melalui perspektif filsafat kontemporer, terutama gagasan tentang Anthropocene dan perkembangan pemikiran feminisme melalui konsep eco-feminism.
Dalam pembacaannya, Syafiq menghubungkan persoalan yang ditampilkan Bala Bhumi dengan kritik terhadap cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan.
Antroposen dan antroposentrisme merupakan dua konsep yang berbeda. Antroposen merujuk pada suatu era ketika aktivitas manusia telah memberikan pengaruh besar terhadap perubahan sistem bumi. Sementara itu, antroposentrisme merupakan cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai dan kepentingan, sehingga alam cenderung dipandang berdasarkan manfaatnya bagi manusia.
Dalam kerangka antroposentrisme, alam dapat diposisikan sebagai komoditas. Nilai alam kemudian diukur berdasarkan sejauh mana ia memberikan manfaat bagi kepentingan manusia. Konsekuensinya, dalam perumusan kebijakan, kepentingan manusia sering kali ditempatkan sebagai indikator utama, sementara kepentingan makhluk hidup lain dan keberlanjutan ekosistem berada di posisi yang lebih rendah.
Di sinilah Syafiq melihat relevansi Bala Bhumi. Kerusakan lingkungan yang digambarkan dalam pertunjukan tersebut, menurut pembacaannya, bermula ketika cara berpikir antroposentris dan patriarkis memengaruhi tindakan, pembangunan, bahkan kebijakan.
Logika pembangunan yang menggunakan dalih kesejahteraan manusia pada akhirnya dapat melahirkan berbagai bentuk eksploitasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup dan ekosistem.
Jargon seperti, “Jika tak nambang tak kaya, jika tak nyawit tak sejahtera,” menjadi gambaran tentang cara berpikir yang menempatkan eksploitasi sumber daya alam sebagai jalan menuju kesejahteraan.
Syafiq juga menangkap simbolisme melalui kostum para pemeran. Penggunaan pakaian hitam-putih untuk tokoh laki-laki dan abu-abu untuk perempuan dibacanya sebagai representasi dari cara berpikir biner dan patriarkis. Bineritas tersebut, dalam pembacaannya, ikut membentuk kesadaran manusia dalam memandang alam atau “Ibu Bumi” yang kemudian mengalami keterasingan dan eksploitasi.
Bala Bhumi sebagai Kritik terhadap Keserakahan
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Afrizal Harun. Ia terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada Syafiq dan seluruh penonton yang telah menyaksikan Bala Bhumi.
Afrizal menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut merupakan bentuk kritik terhadap kerusakan lingkungan dan bencana ekologis yang terus terjadi. Alam yang selama ini digambarkan sebagai “ibu”, menurutnya, kini mengalami kerusakan akibat tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Ibu adalah sumber kehidupan. Ia melahirkan, merawat, dan menyediakan berbagai kebutuhan bagi makhluk hidup. Namun, dalam praktik pembangunan yang eksploitatif, bumi sebagai ibu justru dikorbankan oleh keserakahan sekelompok orang yang mengatasnamakan kesejahteraan.
Afrizal juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali hati nurani manusia agar mampu merasakan dan menyadari kondisi lingkungan hari ini.
Kesadaran tersebut, menurutnya, dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan keluarga, misalnya, Afrizal membiasakan anak-anaknya sejak kecil untuk membuang dan memilah sampah dengan baik.
Hal sederhana tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ekologis tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia dapat tumbuh dari keluarga, lingkungan terdekat, dan kebiasaan sehari-hari.
Teater sebagai Ruang Refleksi Ekologis
Teater tidak hadir semata-mata sebagai pertunjukan. Teater juga dapat menjadi ruang refleksi atas berbagai tindakan dan perilaku manusia serta medium untuk menyampaikan pesan-pesan moral.
Begitu pula dengan Bala Bhumi. Di balik pengalaman estetis yang ditawarkan, pertunjukan tersebut menyimpan pesan reflektif mengenai hubungan manusia dengan alam.
Bala Bhumi mengajak penonton melihat kembali hubungan antara manusia, pembangunan, dan narasi kesejahteraan. Ketiganya tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekologis ketika pembangunan dilakukan dengan mengabaikan daya dukung lingkungan.
Melalui bahasa tubuh, gerak, simbol, musik, dan ekspresi, persoalan yang sering kali hadir dalam bentuk data dan laporan lingkungan diterjemahkan menjadi pengalaman artistik.
Di titik ini, teater tidak hanya berbicara kepada pikiran, tetapi juga berusaha menyentuh perasaan penonton.
Kritik terhadap antroposentrisme dan perspektif ekofeminisme yang muncul dalam pembacaan Bala Bhumi menjadi penting untuk direnungkan. Menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu berpotensi melahirkan cara pandang eksploitatif terhadap alam dan makhluk hidup lainnya.
Wajah keserakahan dan eksploitasi pada akhirnya membawa konsekuensi berupa kerusakan lingkungan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya berbagai risiko ekologis.
Bumi bukan sekadar ruang yang dapat dieksploitasi. Bumi adalah rumah bersama bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh keanekaragaman hayati.
Karena itu, menjaga bumi sesungguhnya berarti menjaga kehidupan itu sendiri.
“Sudahkah Engkau Cukup?”
Sebagai penutup obrolan yang singkat, Syafiq menyodorkan sepotong puisi kepada Afrizal Harun sebagai ungkapan terima kasih sekaligus pengingat tentang kehangatan kehidupan bersama.
Sudahkah engkau cukup?
Meludahi muka ibumu seperti engkau membuang apa saja di atas kecantikan muka bumi ini.
Sudahkah engkau cukup?
Menjambak rambut ibumu seperti engkau memberantas pohon-pohon rimba itu.
Sudahkah engkau cukup?
Mencangkul pundak ibumu seperti engkau menambang kesuburan tanah harum ini.
Sudahkah engkau cukup?
Menyuntikkan titik demi titik perut ibumu seperti engkau mengebor perut indah ibumu itu.
Dan sampai batas mana lagi engkau harus cukup?
Dari keserakahan dan kerakusan yang selalu mendurhakai ibumu yang telah melahirkanmu, memelukmu, menyayangimu, mengasihimu—selalu, selalu, dan selalu.*