Haruskah Kita Viral Dulu untuk Mendapatkan Keadilan?

Kamis, 27/08/2026 06:59 WIB

OLEH Wardatunnisa--Mahasiswa Universitas Dian Nusantara (NIM 211221198)

BAYANGKAN seseorang sedang menghadapi persoalan yang menurutnya tidak adil. Ia sudah mencoba berbicara. Sudah mencari jalan keluar. Sudah menunggu. Namun, tidak ada perubahan yang berarti. Sampai akhirnya, ia mengambil ponsel, membuka kamera, lalu menceritakan apa yang dialaminya.

Beberapa jam kemudian, ceritanya menjadi ramai. Orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya ikut memberikan dukungan. Ada yang membagikan, ada yang ikut bersuara, dan ada pula yang menuntut agar persoalan tersebut segera mendapat perhatian. 

Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup mengganggu: haruskah seseorang menjadi viral terlebih dahulu agar suaranya dianggap penting?

Media sosial telah mengubah cara manusia berbicara. Dahulu, seseorang membutuhkan media atau institusi untuk dapat menjangkau masyarakat luas. Sekarang, sebuah ponsel sudah cukup untuk membawa cerita pribadi ke ruang publik. Perubahan ini sebenarnya memberi harapan. 

Orang yang sebelumnya merasa tidak memiliki kekuatan dapat menemukan keberanian untuk berbicara. Mereka yang merasa sendirian bisa mendapatkan dukungan dari orang-orang yang bahkan tidak pernah ditemuinya. Bahkan persoalan yang selama ini mungkin tidak mendapatkan perhatian dapat berubah menjadi pembicaraan publik.

Dalam kondisi tertentu, viralitas memang dapat menjadi kekuatan. Namun, ada sisi lain yang jarang kita bicarakan: tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi viral.

Ada orang yang pandai berbicara di depan kamera. Ada yang memiliki banyak pengikut. Ada yang tahu bagaimana membuat sebuah cerita menjadi menarik. Namun, ada pula orang yang hanya tahu bahwa dirinya sedang terluka, tetapi tidak tahu bagaimana mengubah luka tersebut menjadi sebuah konten. Apakah suara mereka menjadi kurang penting? Tentu tidak. 

Namun, logika media sosial terkadang membuat kita seolah-olah berpikir demikian. Sesuatu yang banyak ditonton terasa lebih penting. Cerita yang ramai dibicarakan terasa lebih layak diperhatikan. Sementara persoalan yang tidak masuk ke beranda kita perlahan menghilang dari perhatian. Di sinilah persoalan keadilan bertemu dengan etika penyiaran digital. 

Keadilan seharusnya tidak ditentukan oleh jumlah views, jumlah pengikut, atau kemampuan seseorang membuat sebuah cerita menjadi viral. Namun, dalam ruang digital, perhatian publik sering kali bekerja dengan cara seperti itu.

Algoritma tidak bertanya apakah sebuah persoalan benar-benar penting bagi kehidupan seseorang. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian: apa yang membuat orang berhenti, menonton, berkomentar, dan membagikan.

Karena itu, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah sesuatu yang viral otomatis benar? 

Ketika sebuah cerita tentang ketidakadilan muncul di media sosial, kita mungkin langsung merasa iba atau marah. Itu manusiawi. Kita ingin berpihak kepada orang yang terlihat sedang memperjuangkan haknya.

Tetapi, apakah rasa simpati harus selalu diikuti dengan penghakiman. Kita sering hanya melihat bagian yang ditampilkan: sebuah video, beberapa kalimat, atau potongan percakapan. Setelah itu, kita merasa sudah memahami keseluruhan persoalan. Padahal, kehidupan manusia tidak sesingkat durasi sebuah video. 

Ada percakapan yang tidak direkam. Ada kejadian yang tidak masuk kamera. Ada latar belakang yang tidak diketahui. Ada pula hal-hal yang mungkin sengaja tidak disampaikan karena alasan pribadi.

Bukan berarti seseorang yang bercerita di media sosial harus langsung diragukan. Justru sebaliknya, kita perlu belajar mendengarkan tanpa terburu-buru menjatuhkan vonis. Di sinilah etika menjadi penting.

Etika penyiaran digital bukan hanya persoalan apakah sebuah informasi boleh ditayangkan atau tidak. Lebih jauh, etika menyangkut bagaimana informasi disampaikan, seberapa utuh konteks yang diberikan, apakah terdapat upaya untuk memeriksa kebenarannya, dan apakah penyebarannya berpotensi merugikan orang lain.

Persoalannya, ruang digital bergerak jauh lebih cepat daripada proses manusia dalam memahami sebuah masalah. Satu orang mengunggah. Ribuan orang melihat. Ratusan orang berkomentar. Lalu kesimpulan pun terbentuk.

Dalam waktu singkat, opini publik sudah memiliki arah, bahkan sebelum fakta yang lebih lengkap sempat muncul. Kondisi seperti ini bukan berarti masyarakat harus diam ketika melihat ketidakadilan. Justru masyarakat perlu tetap berani bersuara. Namun, keberanian untuk bersuara harus berjalan bersama keberanian untuk memeriksa.

Sebab, ada perbedaan antara membantu seseorang mencari keadilan dan ikut menghakimi seseorang atas nama keadilan. Perbedaannya mungkin tipis, tetapi dampaknya besar.

Kita dapat memberikan dukungan tanpa menyebarkan informasi yang belum jelas. Kita dapat meminta persoalan diperiksa tanpa menghukum seseorang terlebih dahulu. Kita dapat mengatakan bahwa korban harus didengar tanpa menganggap diri kita sudah mengetahui seluruh kebenaran. Sayangnya, media sosial sering tidak memberi banyak waktu untuk bersikap seperti itu.

Tantangan ini menjadi semakin penting ketika batas antara media profesional dan media digital semakin kabur. Hari ini, siapa pun dapat memproduksi informasi dan menyebarkannya kepada publik tanpa melalui proses editorial seperti yang lazim dilakukan oleh lembaga penyiaran.

Karena itu, persoalan etika tidak bisa hanya dibebankan kepada media besar. Kreator konten, pengguna media sosial, dan kita sebagai penonton juga memiliki tanggung jawab.

Sebab, setiap kali kita membagikan sebuah cerita, kita bukan lagi sekadar penonton. Kita ikut memperpanjang umur informasi tersebut. Kita ikut menentukan apakah sebuah cerita akan berhenti sebagai pengalaman pribadi atau berubah menjadi konsumsi publik.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat viralitas. Viral bukanlah bukti kebenaran. Viral juga bukan ukuran seberapa besar seseorang pantas mendapatkan keadilan. Viral hanyalah kemampuan sebuah cerita untuk mendapatkan perhatian dalam waktu yang sangat cepat.

Keadilan adalah sesuatu yang berbeda. Keadilan membutuhkan fakta. Membutuhkan proses. Membutuhkan keberanian untuk mendengar lebih dari satu suara. Dan yang paling penting, keadilan membutuhkan manusia yang bersedia menahan diri untuk tidak langsung menghakimi.

Kita tidak perlu mematikan media sosial agar masyarakat mendapatkan keadilan. Kita juga tidak perlu melarang orang berbicara tentang pengalaman yang mereka alami.

 Yang perlu kita bangun adalah budaya digital yang lebih dewasa: berani bersuara, tetapi tidak kehilangan kehati-hatian; berani membela, tetapi tidak terburu-buru menghukum; dan berani membagikan informasi, tetapi tetap memikirkan manusia yang ada di baliknya.

 Sebab, jika keadilan hanya bisa diperoleh setelah sebuah cerita menjadi viral, mungkin persoalan kita bukan sekadar tentang media sosial.

 Mungkin kita sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih dalam: Mengapa suara seseorang baru terasa penting setelah didengar oleh ribuan orang? Barangkali, keadilan yang sesungguhnya bukan ketika seseorang berhasil membuat seluruh dunia mendengar ceritanya.

 Keadilan adalah ketika seseorang tidak perlu berteriak sekeras mungkin hanya untuk mendapatkan hak yang memang sejak awal seharusnya ia dapatkan.*



BACA JUGA