Jum'at, 17/07/2026 10:52 WIB

Bedah Saraf Indonesia Cetak Sejarah, Primaya Bekasi Timur Lakukan Sacral Neuromodulation Pertama

(Dari kiri ke kanan) dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, Dokter Spesialis Bedah Saraf Konsultan Tulang Belakang Primaya Hospital Bekasi Timur; Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua; dan dr. Aditya Pratama, M.M., perwakilan PINS Medical. PINS Medical memberikan penghargaan kepada Tim Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Bekasi Timur sebagai apresiasi atas keberhasilan melakukan tindakan **Sacral Neuromodulation (SNM)** pertama di Indonesia, dalam acara **Doctor's Honor** di Primaya Hospital Bekasi Timur

(Dari kiri ke kanan) dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, Dokter Spesialis Bedah Saraf Konsultan Tulang Belakang Primaya Hospital Bekasi Timur; Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua; dan dr. Aditya Pratama, M.M., perwakilan PINS Medical. PINS Medical memberikan penghargaan kepada Tim Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Bekasi Timur sebagai apresiasi atas keberhasilan melakukan tindakan **Sacral Neuromodulation (SNM)** pertama di Indonesia, dalam acara **Doctor's Honor** di Primaya Hospital Bekasi Timur

 

Bekasi, sumbarsatu.com – Dunia kedokteran Indonesia mencatat tonggak baru di bidang bedah saraf. Tim Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Bekasi Timur berhasil melakukan tindakan Sacral Neuromodulation (SNM) pertama di Indonesia, sebuah teknologi neuromodulasi yang membuka harapan baru bagi pasien dengan gangguan berkemih akibat kerusakan saraf.

Keberhasilan tindakan yang dilakukan pada Februari 2026 itu menjadi pencapaian penting karena selama ini pasien Indonesia yang membutuhkan terapi SNM umumnya harus menjalani pengobatan ke luar negeri. Atas keberhasilan tersebut, PINS Medical, perusahaan teknologi neuromodulasi asal Beijing, Tiongkok, memberikan penghargaan kepada Tim Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Bekasi Timur.

Tindakan tersebut dipimpin oleh dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, bersama tim bedah saraf Primaya Hospital Bekasi Timur.

Menurut dr. Aulia, banyak pasien tidak menyadari bahwa gangguan berkemih yang dialami sebenarnya bersumber dari kerusakan saraf, sehingga sering dianggap hanya sebagai gangguan pada kandung kemih.

"Sering kali kita hanya berusaha mengganti lampunya, padahal sumber masalahnya adalah aliran listrik yang tidak tersambung. Begitu pula pada pasien ini. Masalah utamanya bukan berada pada kandung kemih, melainkan pada saraf yang mengendalikan fungsi tersebut. Melalui Sacral Neuromodulation, kami memberikan stimulasi langsung pada saraf sehingga fungsi organ dapat kembali bekerja lebih optimal," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

SNM merupakan terapi yang memberikan stimulasi pada saraf sakral untuk membantu memulihkan fungsi kandung kemih, usus, dan organ panggul yang mengalami gangguan akibat kerusakan saraf. Berbeda dengan terapi konvensional yang hanya mengatasi gejala, teknologi ini bekerja langsung pada sumber gangguan, yakni sistem saraf.

Selain lebih efektif, tindakan ini juga bersifat minimal invasif dengan waktu operasi sekitar 30 menit hingga satu jam.

Menurut dr. Aulia, tujuan utama penerapan SNM bukan sekadar keberhasilan tindakan medis, tetapi mengembalikan kualitas hidup pasien.

"Sebelum teknologi ini tersedia, pasien Indonesia umumnya harus mencari pengobatan ke luar negeri. Kami berharap kehadiran SNM menjadi awal berkembangnya layanan neuromodulasi di Indonesia sehingga semakin banyak pasien dapat memperoleh terapi yang sama tanpa harus meninggalkan negaranya," katanya.

Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua, mengatakan keberhasilan tersebut mencerminkan komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan berstandar internasional yang dapat diakses masyarakat Indonesia.

"Keberhasilan melakukan tindakan SNM pertama di Indonesia menjadi bukti nyata pengembangan layanan Brain & Neuro sebagai salah satu Center of Excellence Primaya Hospital. Kami ingin memastikan masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi medis terkini tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri," ujarnya.

Ia menambahkan, Primaya Hospital akan terus menghadirkan inovasi medis yang didukung tenaga kesehatan kompeten dan standar pelayanan terbaik agar semakin banyak pasien memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Keberhasilan teknologi tersebut juga dirasakan langsung oleh Ratna Ira Andriyanti (40), salah satu pasien pertama yang menjalani tindakan SNM. Ratna mengalami gangguan berkemih setelah mengalami kecelakaan dan sebelumnya telah menjalani berbagai pengobatan tanpa hasil karena penyebab utamanya berasal dari gangguan saraf.

"Sebelumnya saya selalu khawatir saat beraktivitas karena sulit menahan buang air kecil. Setelah menjalani tindakan SNM, kondisi saya jauh lebih baik. Kini saya bisa kembali beraktivitas dengan lebih percaya diri dan merasa mendapatkan kembali kualitas hidup saya. Saya sangat terharu dan bersyukur," tuturnya.

Melalui inovasi tersebut, Primaya Hospital berharap semakin banyak pasien dengan gangguan saraf berkemih dapat memperoleh terapi berteknologi tinggi yang sebelumnya hanya tersedia di luar negeri, sekaligus memperkuat layanan Brain & Neuro sebagai salah satu pusat unggulan (Center of Excellence) di Indonesia.ssc

BACA JUGA