Bukittinggi Berdeta: Menenun Tradisi, Menggerakkan Ekonomi

Jum'at, 17/07/2026 10:14 WIB

OLEH Indra Utama--Pemerhati Budaya, Warga Bukittinggi

TIDAK semua daerah memiliki identitas yang dapat dikenakan. Bukittinggi memiliki peluang itu melalui deta—selembar kain yang sejak dahulu menjadi lambang marwah laki-laki Minangkabau. Apabila pemakaian deta dikelola sebagai sebuah gerakan budaya, ia bukan hanya menenun tradisi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi.

Di berbagai belahan dunia, identitas suatu daerah sering diwujudkan melalui benda-benda sederhana yang memiliki daya ingat kuat. Kimono di Jepang, baret di Prancis, atau kain tenun di berbagai daerah Nusantara bukan sekadar pelengkap busana. Di baliknya tersimpan sejarah, kebanggaan, dan kehidupan ekonomi yang melibatkan para pengrajin, pelaku usaha, hingga industri pariwisata. Identitas budaya hidup dalam keseharian masyarakat, bukan hanya hadir pada upacara adat atau festival.

Bukittinggi sesungguhnya memiliki modal budaya yang tidak kalah kuat. Sebagai kota wisata, kota sejarah, sekaligus salah satu teras utama kebudayaan Minangkabau, Bukittinggi telah lama menjadi tujuan wisatawan dan para perantau. Mereka menikmati Jam Gadang, Ngarai Sianok, Pasar Ateh, Benteng Fort de Kock, serta berbagai jejak sejarah yang memberi karakter pada kota ini. Namun, masih ada ruang yang dapat diperkuat lagi, yakni menjadikan deta sebagai penanda budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Selama ini deta lebih banyak dikenakan dalam upacara adat, pertunjukan seni, atau acara seremonial. Di luar itu, keberadaannya belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan. Padahal, deta bukan sekadar penutup kepala. Ia merupakan lambang kehormatan, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan jatidiri laki-laki Minangkabau. Nilai-nilai itulah yang patut dihadirkan kembali dalam ruang publik melalui gerakan budaya yang kreatif dan membumi.

Karena itu, Bukittinggi layak memelopori sebuah kebijakan budaya dengan nama Bukittinggi Berdeta. Gagasannya sederhana, tetapi memiliki dampak yang luas. Pada hari-hari tertentu, aparatur pemerintah, pelajar, pelaku usaha, pemandu wisata, seniman, pedagang pasar, hingga masyarakat umum diajak mengenakan deta sebagai identitas kota. Pemakaian deta bukanlah sebuah kewajiban yang kaku, melainkan ajakan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya sendiri.

Gerakan tersebut tentu perlu didukung oleh inovasi agar mudah diterima masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan deta praktis siap pakai, sehingga masyarakat tidak perlu lagi menguasai berbagai teknik melipat dan mengikat deta secara tradisional. Bentuknya tetap mempertahankan ciri khas deta Minangkabau, tetapi dirancang lebih sederhana, nyaman, dan cepat dikenakan.

Dengan cara ini, deta tidak lagi terbatas pada acara adat atau pertunjukan seni, melainkan dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi assesoris pakaian yang menarik, baik saat menerima tamu, bekerja di sektor pariwisata, mengikuti kegiatan resmi, maupun menghadiri berbagai aktivitas masyarakat.

Lebih jauh lagi, Bukittinggi Berdeta sesungguhnya merupakan sebuah investasi budaya. Selama ini pembangunan sering diukur dari bertambahnya jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur fisik. Padahal, investasi budaya juga memiliki daya ungkit yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ketika pemerintah mendorong penggunaan deta, termasuk menghadirkan deta praktis siap pakai sebagai bagian dari identitas kota, sesungguhnya pemerintah sedang menciptakan pasar bagi produk budaya lokal.

Dampaknya bukan hanya pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada tumbuhnya usaha para pengrajin, penjahit, pelaku UMKM, pedagang cenderamata, serta sektor pariwisata. Inilah pembangunan yang bukan sekadar membangun kota, melainkan juga membangun karakter, kebanggaan, dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui kebudayaannya sendiri.

Apabila gerakan ini tumbuh menjadi kebiasaan sosial, manfaatnya tidak berhenti pada aspek simbolik. Setiap deta yang dikenakan akan menghidupkan mata rantai ekonomi. Ada pengrajin yang menyediakan bahan, penjahit yang membentuknya, pelaku UMKM yang memasarkannya, pedagang yang menjualnya, hingga pelaku wisata yang memperoleh nilai tambah dari sebuah identitas budaya yang khas. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya dipelihara sebagai warisan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Inilah yang membedakan pelestarian budaya yang bersifat seremonial dengan pembangunan budaya yang berorientasi pada kesejahteraan. Budaya tidak cukup dipamerkan pada perayaan tertentu, melainkan perlu dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Ketika masyarakat mengenakan deta, sesungguhnya mereka juga sedang menghidupkan tradisi sekaligus menggerakkan roda ekonomi rakyat.

Bukittinggi memiliki semua prasyarat untuk mewujudkan gagasan ini. Kota ini memiliki sejarah, daya tarik wisata, jaringan pelaku ekonomi kreatif, komunitas seni, serta posisi yang kuat sebagai salah satu pusat kebudayaan Minangkabau. Yang diperlukan adalah keberanian menjadikan budaya sebagai kebijakan publik, bukan sekadar pelengkap seremoni.

Sebab kota yang besar bukan hanya membangun jalan, gedung, dan pasar, tetapi juga membangun identitas yang dikenali, dibanggakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bukittinggi memiliki peluang untuk menjadi contoh bagaimana sebuah kebijakan budaya mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui deta praktis siap pakai, simbol budaya Minangkabau dapat kembali hadir dalam kehidupan masyarakat, memperkuat citra Bukittinggi sebagai kota wisata budaya, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi rakyat.

Suatu hari nanti, ketika orang melihat seseorang mengenakan deta di jalan-jalan Bukittinggi, yang mereka lihat bukan sekadar selembar kain di kepala. Mereka melihat sebuah kota yang memilih merawat budayanya, menghormati jatidirinya, dan menumbuhkan ekonomi rakyat melalui warisan leluhurnya. Sebab kebudayaan yang hidup bukanlah kebudayaan yang hanya disimpan di museum atau dipertontonkan di panggung, melainkan kebudayaan yang dipakai, dibanggakan, dan menghidupi masyarakatnya. Itulah makna sesungguhnya dari Bukittinggi berdeta: menenun tradisi, menggerakkan ekonomi. Bukittinggi berdeta: tradisi terjaga, marwah terpelihara, ekonomi rakyat berdaya.

 

Bukittinggi, 17 Juli 2026.

 



BACA JUGA