OLEH Christi Yolanda-Penikmat Seni
PAYUNG putih itu akhirnya dibakar di tengah arena yang dijadikan ruang pertunjukan. Api perlahan melahap kain putih yang sejak awal pertunjukan menjadi penanda kehadiran "Urang Bunian"—entitas yang dalam kepercayaan masyarakat Minangkabau diyakini sebagai penjaga hutan.
Pada momen itulah koreografi Si Bunian Palembayan karya Joni Andra malam itu tidak lagi sekadar tampil sebagai pertunjukan tari kontemporer, melainkan berubah menjadi pernyataan artistik tentang retaknya hubungan manusia dengan alam.
Dipentaskan di ruang terbuka Taman Budaya Sumatera Barat pada Jumat malam, 3 Juli 2026, tari Si Bunian Palembayan menjadikan mitos lokal sebagai landasan penciptaan sekaligus memberi makna baru terhadapnya sebagai medium kritik ekologis dan kerasuk an manusia memperkosa alam.
"Urang Bunian" yang selama ini dikesankan masyarakat tempatan sebagai "makhluk lain" yang bekerja menjaga keseimbangan alam. Dalam tradisi lisan masyarakat Minangkabau—dan juga kawasan Melayu, "Urang Bunian" dipercaya menghuni hutan, sungai, air terjun, lembah, maupun tempat-tempat yang masih alami dan jarang dijamah manusia tetapi "Urang Bunian" menjalin "komunikasi" yang baik dengan manusia.
Berangkat dari kepercayaan masyarakat Palembayan tentang orang bunian sebagai penjaga hutan, Joni Andra, sosok di balik penciptaan karya seni tari Si Bunian Palembayan—dalam proses berkarya berkolaborasi dengan Nurima Sari (koreografer) dari Komunitas Kata Gerak Padang— terasa tidak semata menghadirkan mitos sebagai kisah mistis yang menakutkan, melainkan sebagai perangkat budaya untuk membaca hubungan manusia dengan alam yang kian rapuh.
Pembacaan tersebut memperoleh relehvansinya ketika dikaitkan dengan realitas yang dialami Palembayan. Pada pengujung 2025, kawasan ini menjadi salah satu wilayah yang terdampak bencana ekologis di Sumatera Barat. Banjir bandang dan galodo menerjang sedikitnya sembilan nagari di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menimbulkan korban jiwa, kerusakan permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur. Bencana ekologis meninggalkan banyak luka.
Dalam konteks inilah pertunjukan tidak sekadar menghidupkan kembali mitos "Urang Bunian", tetapi menggunakannya sebagai bahasa kultural untuk mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan selalu berawal dari retaknya keseimbangan antara manusia dan alam.
Pada tafsir ini, mitos pun bergeser fungsi: bukan lagi sekadar cerita turun-temurun, melainkan perangkat etis yang mengajak masyarakat merefleksikan kembali cara mereka memperlakukan hutan dan ruang hidupnya.
Alih-alih menghadirkan “Urang Bunian” sebagai makhluk penculik atau sosok yang menakutkan, pertunjukan ini justru mereposisi maknanya. Kehidupan “Orang Bunian” tampil sebagai penjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pergeseran ini penting karena memindahkan mitos dari wilayah takhayul menuju fungsi sosialnya sebagai perangkat etika dalam menjaga lingkungan.
Struktur dramatik pertunjukan tari Si Bunian Palembayan dibangun melalui oposisi antara dunia manusia dan dunia bunian. Kelompok manusia diperlihatkan menjalani aktivitas sehari-hari—memasak, beternak, dan hidup dalam ritme perkampungan. Sebaliknya, bunian hadir melalui payung putih dan kain berjuntai yang menjadi penanda dimensi spiritual sekaligus batas yang tak kasatmata. Relasi keduanya tidak dibangun melalui konflik terbuka. Selama manusia tidak melanggar batas, harmoni tetap terpelihara.
Salah satu adegan paling penting memperlihatkan seekor bebek yang hilang dikembalikan oleh bunian. Adegan sederhana ini bekerja sebagai metafora: alam akan memberi kembali ketika diperlakukan dengan hormat. Namun, keseimbangan itu runtuh ketika eksploitasi dimulai. Hubungan timbal balik yang semula setara berubah menjadi relasi yang timpang.
Gagasan tersebut beresonansi dengan kondisi Palembayan hari ini. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit telah mengubah bentang alam yang dahulu dijaga dalam imajinasi kolektif masyarakat. Pertunjukan ini secara implisit mengaitkan perubahan lanskap tersebut dengan bencana galodo yang melanda kawasan itu.
Dalam konteks ini, "Urang Bunian" bukan diposisikan sebagai penyebab bencana, melainkan sebagai bahasa kultural untuk membaca krisis ekologis. Mitos berfungsi sebagai perangkat moral yang mengingatkan manusia tentang batas-batas yang tidak boleh dilanggar.
Secara artistik, Si Bunian Palembayan menunjukkan integrasi yang matang antara tubuh, musik, dan ruang. Gerak yang berangkat dari silat seni tradisi Tupai Janjang membangun karakter tubuh yang kokoh melalui kualitas tenaga, ketegasan aksen, dan pola serang-tangkis yang konsisten. Di saat yang sama, komposisi musik garapan Ossi Darma berhasil membangun atmosfer pertunjukan melalui perubahan tempo dan intensitas yang mengarahkan dinamika emosi setiap adegan.
Instalasi artistik karya Rahmat Fernando A. juga memainkan peran penting. Lanskap kampung dan hutan yang dihadirkannya bukan sekadar latar visual, melainkan ruang dramatik yang mengatur sekaligus membatasi pergerakan tubuh para penari. Ruang menjadi bagian dari narasi, bukan hanya dekorasi.
Puncak pertunjukan hadir ketika payung putih dibakar. Jika sejak awal ia menjadi simbol perlindungan dan keberadaan penjaga hutan, maka kehancurannya menandai lenyapnya sistem perlindungan itu sendiri. Api tidak sekadar membakar sebuah properti panggung, tetapi juga membakar batas yang selama ini menjaga hubungan manusia dengan alam. Yang musnah bukan bunian, melainkan kesadaran manusia untuk menghormati alam.
Di titik inilah Si Bunian Palembayan menemukan relevansinya. Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban, melainkan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: ketika hutan hilang, siapa yang masih menjaga, dan batas apa yang masih tersisa?
Sebagai karya seni, Si Bunian Palembayan tidak terjebak dalam romantisasi tradisi. Sebaliknya, ia memanfaatkan mitos sebagai kerangka untuk membaca persoalan ekologis masa kini. Tradisi dihadirkan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai bahasa kritik. Meskipun pada beberapa bagian simbol-simbol yang digunakan terasa cukup eksplisit, konsistensi konsep, kekuatan visual, dan kesatuan artistiknya membuat pesan pertunjukan tersampaikan dengan jernih.
Karena itu, Si Bunian Palembayan layak dipandang bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan tari kontemporer, melainkan juga sebagai wacana kebudayaan yang mengingatkan bahwa krisis lingkungan pada akhirnya bukan semata persoalan alam. Ia adalah persoalan cara manusia memaknai, menghormati, dan menjaga batas-batas kehidupan.
Pementasan Si Bunian Palembayan diperkuat oleh penampilan para performer, yakni Ghaniyah Dwirbelia, Kirana Alycia Khairin, Miyah Agustina, Intan Resma Yuniati, Dwi Oppy Aprilisa, Dinda Syahiba, Ririn Chayrunisa, Maziyah Ramadhani, Dinatul Islami, dan Viqri Muharrom. Jalannya pertunjukan semakin hidup melalui narasi yang dibawakan Seanna Gyove Inara, yang berfungsi menjembatani alur dramatik sekaligus memperkuat atmosfer mitologis yang dibangun sepanjang pementasan.
Proses kreatif penciptaan Si Bunian Palembayan mendapat dukungan melalui Program Pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan Dana Indonesiana 2025 yang dikelola oleh LPDP bersama Kementerian Kebudayaan. Pementasan ini juga merupakan hasil kolaborasi antara Impessa Dance Company, Kata Gerak, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, SMKN 7 Padang, serta sejumlah seniman dan budayawan.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa karya ini tidak hanya lahir dari visi artistik seorang koreografer, tetapi juga dari kerja kolektif yang mempertemukan berbagai disiplin dan institusi dalam upaya menghadirkan pertunjukan yang berpijak pada tradisi sekaligus responsif terhadap persoalan ekologis masa kini.*