OLEH Atikah Solihah-Ketua Forum Widyabasa Indonesia
APAKAH Anda pernah mendengar istilah calistung? Bagi masyarakat Indonesia, istilah ini tentu tidak asing. Calistung merupakan akronim dari membaca, menulis, dan berhitung, tiga kemampuan dasar yang sejak lama menjadi fondasi pendidikan nasional. Calistung merupakan materi inti yang diajarkan di sekolah dasar sebagai bekal murid untuk memperoleh pengetahuan lain.
Mari melalui artikel sederhana ini, kita telisik bersama mengapa ketiga kemampuan itu sering disenaraikan bersama. Mengapa membaca dan menulis yang identik dengan bahasa hadir beriringan dengan berhitung yang identik dengan matematika?
Perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan modern menunjukkan bahwa bahasa dan matematika bukanlah dua dunia yang terpisah, melainkan dua sistem representasi pengetahuan yang saling melengkapi. Bahasa menjadi sarana untuk memahami, mengomunikasikan, dan membangun makna. Adapun matematika menghadirkan ketepatan, struktur logis, serta cara berpikir yang sistematis. Bahkan, banyak ilmuwan menyebut matematika sebagai bahasa universal karena kemampuannya menjelaskan berbagai fenomena alam secara presisi.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, keterkaitan tersebut juga terlihat nyata. Konsep calistung berkembang menjadi literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar abad ke-21. Hal itu tecermin dalam Asesmen Nasional, diperkuat melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), dan sejalan dengan pengukuran internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Semua itu menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dan kemampuan bermatematika merupakan dua fondasi yang saling menopang dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Calistung: Fondasi Literasi Bangsa
Konsep calistung sudah lama dikenal dalam pendidikan di Indonesia. Ketiga kemampuan dasar dalam calistung menjadi fondasi seluruh proses pembelajaran sejak pendidikan dasar. Membaca memungkinkan murid untuk memperoleh informasi dan membangun pengetahuan. Menulis melatih kemampuan murid untuk mengorganisasi gagasan secara sistematis. Adapun berhitung mengembangkan kemampuan murid untuk berpikir logis, sistematis, dan kuantitatif.
Hal yang menarik adalah ketiga kemampuan tersebut sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Kemampuan berhitung selalu memerlukan kemampuan untuk membaca simbol, instruksi, dan konteks persoalan. Di sisi lain, membaca yang baik sering kali melibatkan pemahaman terhadap informasi kuantitatif, seperti tabel, grafik, diagram, atau data statistik. Dengan demikian, sejak awal pendidikan, bahasa dan matematika telah tumbuh secara berdampingan sebagai satu kesatuan kompetensi dasar.
Literasi Numerasi: Pengembangan Bahasa Matematika
Perkembangan pendidikan modern tidak lagi memandang matematika hanya sebagai kemampuan menghitung. Muncullah konsep literasi numerasi, yaitu kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan persoalan nyata. Literasi numerasi merupakan pengembangan dari bahasa matematika. Dalam literasi numerasi, murid dituntut untuk mampu membaca informasi, memahami konteks, memilih strategi penyelesaian, melakukan perhitungan, kemudian mengomunikasikan hasilnya secara logis.
Perhitungan tentang angka bukan satu-satunya hal yang difokuskan karena pemahaman atas angka itulah yang diketengahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa yang memiliki literasi numerasi yang baik tidak hanya mampu menyelesaikan operasi matematika, tetapi juga mampu menafsirkan grafik ekonomi, membaca peluang statistik, memahami risiko kesehatan, hingga mengambil keputusan berdasarkan data.
Soal Cerita dalam Matematika
Hubungan bahasa dan matematika tampak paling jelas pada soal cerita (word problems). Pada jenis soal ini, kesulitan peserta didik sering kali bukan terletak pada operasi matematikanya, melainkan pada pemahaman bahasa. Nah, di sinilah titik krusialnya.
Silakan pembaca bayangkan. Situasi yang ada adalah ketika seorang pelajar atau mahasiswa diberi persoalan mengenai perbandingan kecepatan antarkendaraan. Siswa harus terlebih dahulu memahami istilah, makna kalimat, mengenali informasi penting, membedakan data yang relevan dan yang tidak relevan, kemudian baru menerjemahkannya menjadi model matematika atau rumus matematika yang digunakan.
Proses tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian soal matematika sebenarnya merupakan proses translasi dari bahasa alami menuju bahasa matematika. Oleh karena itu, kemampuan membaca akan sangat memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan persoalan matematika. Dalam perspektif pendidikan kiwari, soal cerita bukan sekadar alat untuk menguji kemampuan berhitung, melainkan juga kemampuan untuk memahami bahasa, bernalar, serta memecahkan masalah secara sistematis.
Asesmen Nasional: Literasi dan Numerasi sebagai Kompetensi Dasar
Kebijakan Asesmen Nasional (AN) di Indonesia makin menegaskan keterkaitan antara bahasa dan matematika. Salah satu instrumen utama AN adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur dua kompetensi fundamental, yaitu literasi membaca dan literasi matematika (numerasi).
Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dari penilaian yang berorientasi pada penguasaan materi menjadi penilaian terhadap kemampuan berpikir. Literasi membaca mengukur kemampuan memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dalam berbagai bentuk teks. Numerasi mengukur kemampuan murid atas penggunaan konsep matematika dalam berbagai konteks kehidupan. Kedua kompetensi tersebut saling melengkapi. Seseorang tidak mungkin memiliki numerasi yang baik tanpa kemampuan membaca yang memadai sebagaimana kemampuan membaca modern juga memerlukan kecakapan memahami representasi data, angka, grafik, dan informasi kuantitatif.
Tes Kemampuan Akademik (TKA): Bahasa dan Matematika sebagai Dasar Kompetensi
Dalam perkembangan terbaru sistem evaluasi pendidikan Indonesia, Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir sebagai asesmen terstandar yang memberikan gambaran capaian akademik peserta didik secara objektif. TKA dirancang untuk mendukung kebutuhan pelaporan hasil belajar yang dapat digunakan dalam berbagai kepentingan akademik.
TKA berbeda dengan Asesmen Nasional karena TKA mengukur capaian mata pelajaran sesuai dengan kurikulum. Adapun AKM mengukur kompetensi umum dengan bahasa Indonesia dan matematika tetap menjadi komponen yang sangat penting. Soal-soal TKA juga menekankan penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan memahami informasi sehingga keterampilan berbahasa tetap menjadi prasyarat dalam menyelesaikan persoalan matematika. Inilah yang makin memperlihatkan bahwa kemampuan bahasa dan kemampuan matematika bukanlah dua kompetensi yang terpisah, melainkan saling menopang dalam mengukur kesiapan akademik murid.
PISA: Membaca, Matematika, dan Sains dalam Perspektif Global
Mari melangkah ke luar arena nasional. Ternyata, hubungan antara bahasa dan matematika juga menjadi perhatian dunia melalui Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD. PISA mengukur kemampuan peserta didik berusia 15 tahun dalam tiga bidang utama, yaitu membaca (reading), matematika (mathematics), dan sains (science). Ketiga bidang tersebut tidak menguji hafalan materi sekolah, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Dalam asesmen PISA, soal matematika hampir selalu disajikan dalam bentuk konteks kehidupan sehingga peserta didik harus membaca informasi terlebih dahulu sebelum melakukan penalaran matematis. Demikian pula pada soal sains, pemahaman terhadap teks menjadi bagian penting sebelum menarik kesimpulan ilmiah. Pendekatan PISA menunjukkan bahwa membaca, matematika, dan sains merupakan tiga kompetensi yang saling berkaitan dalam membangun kemampuan berpikir aras tinggi.
Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia
Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia merupakan salah satu indikator dalam dimensi pembinaan pada Indeks Pembangunan Bahasa Indonesia (Ipebas). Angka ini didefinisikan secara operasional sebagai angka agregasi rerata skor kemahiran berbahasa Indonesia suatu profesi tertentu dibandingkan dengan acuan standar kemahiran berbahasa Indonesia profesinya di suatu provinsi.
Saya tidak sedang mengajak Anda sebagai pembaca untuk memahami angka kemahiran berbahasa Indonesia yang erat kaitannya dengan UKBI Adaptif. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa kemahiran berbahasa Indonesia pun memerlukan angka yang erat dengan matematika untuk dapat menunjukkan jati dirinya.
Standar kemahiran berbahasa Indonesia pun direpresentasikan dengan rentang skor tertentu yang menggunakan angka selain predikat Istimewa, Sangat Unggul, Unggul, Madya, Semenjana, Marginal, dan Terbatas. Secara lebih mendalam, skor itu menjadi titik awal dalam peningkatan kemahiran berbahasa Indonesia. Nah, tebaklah pembaca, ini kaitannya dengan frasa bahasa matematika atau matematika bahasa?
Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa bahasa dan matematika merupakan dua pilar utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Bahasa menyediakan sarana untuk memahami, mengomunikasikan, dan membangun makna, sedangkan matematika menyediakan struktur logika, ketepatan, dan penalaran kuantitatif. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk kemampuan berpikir manusia. Keduanya terhubung dengan kemahiran berbahasa Indonesia yang baik.
Dengan demikian, makin kuat kemampuan berbahasa seseorang, makin besar pula peluangnya memahami konsep matematika secara mendalam. Di sisi berbeda, makin baik kemampuan matematikanya, makin terlatih pula cara berpikir logis dan sistematis dalam menggunakan bahasa. Hubungan timbal balik inilah yang menjadikan bahasa dan matematika sebagai dua sayap ilmu pengetahuan yang bersama-sama mengantarkan manusia untuk memahami dunia sekaligus memecahkan berbagai persoalan kehidupan.
Nah, pertanyaan terakhir untuk Anda para pembaca, apakah Anda pernah membahasakan pengurangan atau penambahan angka pada isi dompet kulit atau dompet digital Anda kepada seseorang? Pasti pernah, bukan? Selamat, Anda telah mengintegrasikan bahasa dan matematika.*
(Atikah Solihah, Badan Bahasa, Kemendikdasmen. Catatan ditulis Minggu sore, 5 Juli 2026).