sepi
Pasaman Barat, sumbarsatu.com – Pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kiawai, Kecamatan Gunung Tuleh, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, dengan kode SPBU 13.265.525, menolak melayani pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite kepada sejumlah konsumen dengan alasan kuota telah terpenuhi.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, Minggu (5/7/2026). Sejumlah pengendara yang hendak membeli Pertalite mencoba meminta penjelasan kepada petugas SPBU karena mereka melihat stok BBM di tangki penyimpanan diduga masih tersedia.
"Benar, Pertalite masih banyak. Tapi sesuai arahan pimpinan, tidak dijual lagi karena kuota. Silakan datang besok lagi," ujar salah seorang petugas SPBU yang enggan menyebutkan namanya kepada wartawan, Minggu sore (5/7/2026).
Berdasarkan investigasi Sumbarsatu.com, pasokan Pertalite sebanyak sekitar 8.000 liter masuk ke SPBU tersebut pada siang hari. Hingga sekitar pukul 16.30 WIB, diperkirakan baru sekitar separuh dari jumlah tersebut yang telah terjual. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, penjualan Pertalite dihentikan secara mendadak atas instruksi pimpinan dengan alasan kuota. Petugas tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai maksud dari alasan tersebut.
Sejumlah konsumen yang telah mengantre selama beberapa jam mendatangi petugas untuk meminta klarifikasi. Mereka mengaku kecewa karena pada awalnya petugas menyampaikan bahwa stok Pertalite telah habis. Namun, setelah didesak oleh para konsumen, petugas mengakui bahwa stok Pertalite di tangki masih tersisa sekitar separuh.
Hasil penelusuran sementara menunjukkan bahwa sejak siang hingga sekitar pukul 16.30 WIB proses pengisian Pertalite berjalan normal. Beberapa menit kemudian, pelayanan dihentikan meskipun stok BBM diduga masih tersedia.
Situasi tersebut sempat memicu perdebatan antara konsumen dan petugas SPBU. Dalam perdebatan itu, salah seorang petugas sempat menawarkan solusi.
"Bisa kami bantu bapak-bapak beli Pertalite masing-masing Rp250 ribu, tapi saya lapor dulu kepada kawan saya," ujar petugas sambil menunjuk rekannya yang mengenakan seragam merah dan berjalan menuju sebuah kedai di sekitar lokasi.
Namun, setelah kembali dari kedai tersebut, petugas menyampaikan bahwa berdasarkan arahan pimpinan, penjualan Pertalite tetap tidak dapat dilayani. Akibatnya, para pemilik kendaraan terpaksa pulang dengan rasa kecewa karena bahan bakar di kendaraan mereka sudah mulai menipis.
Berdasarkan keterangan petugas di lokasi, SPBU tersebut disebut-sebut merupakan milik H. Ali Munar di Ujung Gading. Hingga berita ini diturunkan, Sumbarsatu.com belum berhasil memperoleh konfirmasi dari pemilik SPBU terkait penghentian penjualan Pertalite tersebut.
Sejumlah konsumen bahkan memohon agar diperbolehkan membeli Pertalite dalam jumlah terbatas, misalnya Rp100 ribu, sekadar untuk mengisi tangki kendaraan agar dapat melanjutkan perjalanan. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.
"Yang kami sesalkan, Pertalite masih ada, tetapi mengapa tidak dijual kepada masyarakat. Kalau memang benar-benar habis, tentu kami bisa memahami. Ada apa sebenarnya dengan pengelola SPBU ini?" ujar Joni, salah seorang pengendara.
Peristiwa tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial Facebook. Sejumlah warganet meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan BBM bersubsidi di SPBU tersebut karena dinilai telah merugikan masyarakat.
Di media sosial juga muncul berbagai spekulasi dari sejumlah warganet. Mereka menduga SPBU membatasi penjualan Pertalite kepada masyarakat umum, tetapi menjualnya pada malam hari kepada pelansir dengan harga yang lebih tinggi. Namun, dugaan tersebut belum dapat dikonfirmasi dan belum disertai bukti yang dapat diverifikasi.
"Memang begitu SPBU Gunung Tuleh itu. Orang umum atau orang luar Gunung Tuleh sering dibilang minyak habis, tetapi malam harinya dijual kepada pelansir dengan harga lebih mahal," kata YS, warga setempat yang meminta identitas lengkapnya tidak dipublikasikan.
Warganet lainnya juga menyampaikan keprihatinannya terhadap pelayanan SPBU tersebut.
"Masyarakat sekarang sudah susah akibat himpitan ekonomi. SPBU itu kan melayani kepentingan umum. Mengapa masyarakat umum justru tidak dilayani?" ujar Syahrial, warga Simpang Empat.
sumbarsatu masih berupaya memperoleh klarifikasi dari pihak pengelola SPBU, pemilik SPBU, maupun PT Pertamina Patra Niaga terkait penghentian penjualan Pertalite tersebut guna memperoleh penjelasan yang berimbang.ssc/nir