Senin, 29/06/2026 08:07 WIB

Dari Sejarah ke Mitigasi, Yose Hendra Luncurkan Buku "Gempa Tujuh Hari"

Padang Panjang, sumbarsatu.com – Teat seabad setelah Gempa Padang Panjang 28 Juni 1926, jurnalis sekaligus peneliti sejarah kebencanaan Yose Hendra meluncurkan buku Gempa Tujuh Hari.

Buku yang diterbitkan Kabarita tahun 2026 ini diperkenalkan kepada publik di kompleks Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang, Sabtu (27/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Refleksi Satu Abad Gempa 1926.

Menurut Yose Hendra, peluncuran buku sengaja dilakukan bertepatan dengan momentum peringatan 100 tahun bencana besar yang pernah melanda Dataran Tinggi Padang tersebut.

"Seabad peristiwa gempa 1926 merupakan momentum penting untuk kembali menarasikan sejarah bencana ini. Buku ini diharapkan menjadi kontribusi bagi upaya memahami masa lalu sekaligus memperkuat budaya sadar bencana," ujar Yose kepada sumbarsatu, Senin (29/6/2026).

Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Andalas itu menyelesaikan buku setebal lebih dari 300 halaman setelah melakukan riset independen selama 14 tahun. Penelitiannya memanfaatkan arsip kolonial, laporan ilmiah, surat kabar, hingga dokumen seismologi yang selama ini jarang diungkap.

Salah satu temuan utama dalam buku tersebut adalah bahwa Gempa Padang Panjang 1926 merupakan gempa kembar (doublet earthquake) yang dipicu aktivitas dua segmen berbeda pada Sesar Sumatra, yakni Segmen Sumani dan Segmen Sianok, yang melepaskan energi dalam waktu berdekatan. Temuan ini memperkuat pemahaman mengenai karakteristik kegempaan di Sumatera Barat.Buku ini juga mengungkap berbagai fakta yang selama ini jarang diketahui masyarakat, mulai dari longsor besar yang memutus jalur kereta api dan Jalan Raya Pos di Lembah Anai, deformasi rel kereta akibat pergeseran Sesar Sumatra, hingga munculnya gelombang besar di Danau Singkarak setelah gempa utama.

Di balik kehancuran tersebut, Yose menyoroti cepatnya proses rehabilitasi yang dilakukan pemerintah kolonial bersama masyarakat. Ia juga mengangkat nilai solidaritas lintas etnis dan agama yang muncul dalam penanganan korban serta pelajaran penting mengenai ketahanan bangunan tradisional Minangkabau terhadap gempa.

Pakar geologi dan geotektonik Danny Hilman Natawidjaja menilai buku ini menjadi kontribusi penting dalam memahami sejarah kegempaan Sumatra Barat sekaligus menjembatani pengetahuan ilmiah dengan ingatan kolektif masyarakat.

"Mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal merupakan salah satu kunci membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana," ujar Danny dalam kata pengantar buku tersebut.

Apresiasi juga datang dari Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi. Menurutnya, buku ini memberikan perspektif baru mengenai karakter gempa besar yang bersumber dari Sesar Sumatra, termasuk keberhasilan penulis menemukan kembali rekaman seismogram Gempa 1926 yang menjadi referensi penting bagi kajian sejarah kebencanaan Indonesia.

Peluncuran buku menjadi bagian dari kegiatan Refleksi Satu Abad Gempa 1926 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padang Panjang bersama berbagai pemangku kepentingan. Rangkaian kegiatan tersebut juga diisi dengan peletakan batu pertama pembangunan penanda sejarah Gempa 1926 sebagai pengingat bagi generasi mendatang.

Mewakili Wali Kota Padang Panjang, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat I Putu Venda mengatakan bahwa peringatan seabad gempa bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu, tetapi menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, budaya sadar bencana, dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.ssc

BACA JUGA