Kamis, 11/06/2026 20:29 WIB

Elnusa Petrofin dan Upaya Menumbuhkan Budaya Berkendara Aman

jer

jer

Padang, sumbarsatu.com--Pagi itu suasana di halaman Integrated Terminal Teluk Kabung, Padang, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan siswa SMA berdiri mengelilingi sebuah mobil tangki berukuran besar.

Mereka memperhatikan instruktur yang sedang memberikan arahan. Sebagian terlihat penasaran, sebagian lainnya tampak santai, menganggap kegiatan tersebut tak jauh berbeda dari sosialisasi sekolah pada umumnya. Namun beberapa menit kemudian, ekspresi mereka berubah.

Satu per satu siswa diminta berdiri di berbagai sisi kendaraan. Setelah itu mereka bergantian duduk di kursi pengemudi. Dari balik kemudi, para siswa menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Teman yang berdiri hanya beberapa meter dari kendaraan ternyata tidak terlihat sama sekali.

Ada ruang kosong yang luput dari pandangan pengemudi. Sebuah area berbahaya yang tidak terjangkau oleh kaca spion maupun jangkauan mata. Zona itulah yang dikenal sebagai blind spot atau titik buta kendaraan.

Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar teknis. Namun di balik istilah sederhana itu tersimpan risiko yang setiap hari mengintai pengguna jalan. Banyak kecelakaan lalu lintas terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan karena ketidaktahuan. Blind spot menjadi salah satu faktor yang sering kali tidak disadari, tetapi memiliki konsekuensi yang sangat serius.

Setiap hari ratusan mobil tangki milik dan mitra PT Elnusa Petrofin (EPN) melintasi jalan-jalan Indonesia. Dari jalan tol di Pulau Jawa hingga ruas lintas Sumatra dan Kalimantan, armada tersebut mengemban tugas penting mendistribusikan energi ke berbagai wilayah. Namun di balik tanggung jawab itu terdapat kewajiban lain yang tidak kalah besar, yakni menjaga keselamatan seluruh pengguna jalan yang berbagi ruang dengan kendaraan berukuran besar tersebut.

Dari kesadaran itulah lahir Program Safety Awareness yang secara khusus mengedukasi masyarakat mengenai bahaya blind spot kendaraan besar. Program ini menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang berupaya menekan risiko kecelakaan melalui peningkatan pemahaman masyarakat.

Beberapa waktu lalu, Elnusa Petrofin menggelar sosialisasi di SMA Negeri 11 Padang. Puluhan siswa dan guru mengikuti simulasi langsung untuk melihat bagaimana titik buta bekerja pada mobil tangki. Program serupa tidak hanya dilaksanakan di Sumatra Barat.

Secara serentak kegiatan berlangsung di 47 unit operasi perusahaan di seluruh Indonesia dan berhasil menjangkau sedikitnya 1.253 peserta yang terdiri atas pelajar, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum dengan dukungan kepolisian setempat.

Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dikemas melalui program edukasi keselamatan berlalu lintas.

“Kami berharap dengan adanya sosialisasi ini, para pelajar lebih waspada dan memahami pentingnya memperhatikan blind spot di jalan raya. Ini adalah langkah kecil namun sangat berarti dalam menciptakan budaya berkendara yang lebih aman,” ujarnya.

Program yang sama juga dilaksanakan di SMA Negeri 4 Cakalang, Makassar, bekerja sama dengan Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Makassar. Sebanyak 105 peserta yang terdiri atas siswa dan masyarakat sekitar wilayah operasional Integrated Terminal Makassar mengikuti kegiatan yang dikemas secara interaktif melalui simulasi, kuis, dan pembagian perlengkapan keselamatan berkendara.

Hingga kini, program edukasi blind spot Elnusa Petrofin telah menjangkau sedikitnya 34 sekolah yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan di berbagai daerah Indonesia.

Upaya tersebut berangkat dari realitas yang tidak bisa diabaikan. Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Makassar, AKP Nurshanty, sebagian besar kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar merupakan kecelakaan pasif. Korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka berada di area yang tidak terlihat oleh pengemudi.

Kelompok yang paling rentan adalah remaja dan pengendara sepeda motor. Karena itu, pelajar SMA menjadi sasaran utama program ini. Mereka merupakan kelompok usia yang mulai aktif berkendara, tetapi belum tentu memahami seluruh risiko yang ada di jalan raya.

Yang menarik, Elnusa Petrofin tidak memilih pendekatan kampanye yang bersifat formal atau satu arah. Perusahaan mengandalkan metode simulasi langsung. Para peserta diajak naik ke kabin mobil tangki dan melihat sendiri luasnya area yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan pengemudi.

Pendekatan berbasis pengalaman ini terbukti lebih efektif. Ketika seseorang merasakan langsung bagaimana keterbatasan pandangan pengemudi kendaraan besar, pemahaman yang terbentuk cenderung lebih kuat dibandingkan sekadar membaca brosur atau melihat poster keselamatan.

Program ini juga memperlihatkan dimensi tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih luas. Secara regulasi, Elnusa Petrofin tidak memiliki kewajiban khusus untuk mengedukasi masyarakat mengenai risiko blind spot kendaraan besar. Namun perusahaan memilih melangkah lebih jauh dengan mengerahkan sumber daya, tenaga HSSE (Health, Safety, Security, and Environment), waktu, serta dukungan logistik untuk menjangkau sekolah dan komunitas di berbagai daerah.

Di balik langkah tersebut terdapat pemahaman bahwa keselamatan lalu lintas merupakan bagian dari dampak sosial yang melekat pada bisnis distribusi energi. Setiap kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga dapat menyebabkan korban jiwa, kemacetan, trauma psikologis, dan berbagai dampak sosial lainnya.

Komitmen yang sama juga terlihat di wilayah operasional Dumai, Riau. Di daerah ini, program Safety Awareness dikembangkan lebih luas dengan mencakup edukasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pertolongan pertama pada kecelakaan, hingga safety riding. Salah satu kegiatan yang menonjol dilaksanakan di SMK Negeri 3 Dumai dengan melibatkan sekitar 250 siswa.

Melalui berbagai program tersebut, Elnusa Petrofin pada dasarnya sedang mengajukan sebuah pertanyaan penting kepada dunia industri: sejauh mana perusahaan harus bertanggung jawab terhadap dampak keberadaan armadanya di ruang publik?

Jawaban yang diberikan perusahaan tampaknya cukup jelas. Tanggung jawab tidak berhenti pada kepatuhan terhadap regulasi. Tanggung jawab juga berarti hadir untuk mencegah risiko sebelum kecelakaan terjadi.

Di tengah tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Karena pada akhirnya, keselamatan bukan hanya urusan pengemudi atau aparat penegak hukum. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan setiap upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dapat menjadi langkah kecil yang menyelamatkan banyak nyawa.ssc

 

BACA JUGA